Pemkot Tebang Pilih dalam Bertindak

PKL Tamkot Tetap Tolak Penertiban

35
BERJUALAN DI ANDESIT. Aktivitas pedagang kaki lima (PKL) yang melaksanakan kegiatan usaha di kawasan batu andesit Taman Kota (Tamkot), Minggu (17/2).Ujang Nandar / Radar Tasikmalaya

CIHIDEUNG – Para pedagang kaki lima (PKL) di Taman Kota (Tamkot) menolak penertiban yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya. Bagi mereka, berjualan di kawasan batu andesit itu merupakan sumber penghasilan utama.

“Ini satu-satunya mata pencaharian saya,” kata penjual minuman di kawasan andesit Nani (42) kepada Radar, Minggu (17/2).

Nani mengaku sudah berjualan bertahun-tahun di kawasan Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Sejak ada andesit di antara masjid dan Tamkot, dia dan PKL lainnya memanfaatkan kawasan tersebut untuk berjualan. “Karena memang awalnya disuruh masuk oleh Satpol PP, Dinas Perhubungan di sini (kawasan andesit, Red),” ujar dia.

Dia heran baru-baru ini pemkot akan menertibkan PKL di kawasan andesit. Padahal, para PKL tidak membuat lapak permanen di area Tamkot dan selalu membersihkan lingkungannya. Dia meminta bila pemkot tetap menertibkan PKL harus ada solusi. “Kalau memang kami akan ditertibkan diberikan lahan supaya kami tetap berjualan,” ucap dia.

Nani juga menuntut keadilan dari pemkot dalam menertibkan PKL. Pemkot tidak boleh hanya bersikap tegas ke PKL Tamkot, tetapi tidak ke PKL lainnya. Misalnya, PKL di kawasan Cihideung dan Alun-Alun Kota Tasikmalaya. Para PKL di dua titik berbeda itu tidak diberi surat edaran penertiban. “Kami ingin adil, semua harus ditertibkan tidak hanya PKL yang ada di Tamkot saja,” kata Nani.

Penyedia sewa mainan Ujang Ripai (52) juga sudah mengais rezeki di kawasan Masjid Agung sebelum ada Tamkot. Setelah ada andesit, dia mulai menempatinya. Para PKL di andesit itu setiap hari membayar lapak Rp 5.000 dan biaya listrik Rp 7.500. “Kami membayar pungutan setiap harinya,” ucap dia.

Dia mulai berjualan sejak pukul 17.00 sampai pukul 23.00, khusus malam Minggu hingga pukul 00.00. “Jualan kami hanya malam hari kok, tidak siang hari dan tidak mengganggu aktivitas lalulintas,” tutur dia.

Ujang meminta ada relokasi dari pemerintah bila PKL di Tamkot ditertibkan. Pemkot juga diharapkan tidak tebang pilih dalam menertibkan PKL.

“Terpaksa kalau memang tidak ada relokasi kami akan kembali menutupi trotoar sebelum kami ke sini (Tamkot, Red),” kata dia.

Dia juga mempertanyakan komitmen pemerintah yang sebelumnya memperbolehkan PKL menempati batu andesit. “Sebetulnya ini ada apa? Karena sebelumnya kami dimasukkan ke Taman Kota ini. Tiba-tiba saja ada surat edaran harus keluar dari Tamkot. Sebetulnya kami masuk ke sini dimasukkan oleh Satpol PP dulu setelah selesai Tamkot,” ucap dia. (ujg)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.