PMR Kota Tasik Garda Terdepan PHBS

37
0
ISTIMEWA. DIBERI MOTIVASI. Siswa SMA/sederajat di Kota Tasikmalaya yang mengikuti PMR diberikan pemaparan dan motivasi di SMAN 1 Tasikmalaya, beberapa waktu lalu.
ISTIMEWA. DIBERI MOTIVASI. Siswa SMA/sederajat di Kota Tasikmalaya yang mengikuti PMR diberikan pemaparan dan motivasi di SMAN 1 Tasikmalaya, beberapa waktu lalu.
Loading...

TASIK – Jelang pembelajaran tatap muka (PTM), sekolah di Kota Tasikmalaya mesti melakukan penguatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) untuk membangun kewaspadaan penyebaran Covid-19.

Siswa yang mengikuti PMR sudah memiliki prinsip dasar gerakan pertolongan pertama dalam kesiapsiagaan bencana alam maupun non alam.

Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tasikmalaya H Rahmat Kurnia mengatakan, pentingnya sekolah memiliki PMR, karena siswanya bisa memiliki kekuatan dalam melaksanakan kegiatan kemanusiaan dan siaga bencana. Serta mempromosikan dan menyosialisasikan prinsip dasar gerakan hidup sehat di kalangan remaja.

“Dengan adanya ekstrakulikuler PMR bisa bermanfaat untuk pengenalan lingkungan sekolah yang sehat dan bersih, apalagi di masa pandemi Covid-19 ini. Caranya, siswa yang tergabung PMR dapat memperkenalkan protokol kesehatan serta penerapan PHBS untuk teman-temannya,” katanya kepada Radar, Selasa (15/12).

Maka ia meminta sekolah yang belum memiliki PMR untuk bekerja sama dengan PMI Kota Tasikmalaya. Itu juga merupakan prioritas utama PMI untuk membina siswa yang mengikuti PMR. Mencetak generasi berjiwa sosial untuk regenerasi kepengurusan PMI Kota Tasikmalaya ke depannya.

Loading...

“Dengan mengikuti PMR, SDM sekolah mempunyai keterampilan pertolongan pertama serta memiliki karakter tolong-menolong,” ujarnya.

Oleh karena itu ekstrakurikuler PMR harus ada di setiap sekolah. Saat ini di Kota Tasikmalaya masih belum banyak, seharusnya ada tingkatan mula untuk SD, Madya untuk SMP, dan Wira untuk SMA/ Sederajat.

“Sekolah yang mempunyai PMR belum semuanya. Karena yang terdaftar di kita untuk jenjang SMP di Kota Tasikmalaya baru ada 36 sekolah, untuk jenjang SMA baru ada 34 sekolah,” katanya.

Ia menambahkan, sekolah yang memiliki ekstrakurikuler PMR dapat memberikan kemandirian kepada siswanya. Karena di PMI membantu mereka untuk melakukan bidang unit usaha relawan dalam rangka pembelajaran wirausaha.

“Sehingga anggota PMR atau PMI ini selain memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi juga bisa bertanggungjawab dalam memenuhi ekonomi keluarganya. Makanya kita sudah membina anggota PMR ini untuk punya jiwa wirausaha,” ujarnya.

Kepala Bidang Pelayanan PMI Kota Tasikmalaya Aziz Saori menjelaskan, PMR didirikan pada 1950 dan sejak itu sudah mendukung pelaksanaan PHBS di sekolah. Ketika sekolah akan melakukan PTM di masa pandemi Covid-19, nantinya siswa yang mengikuti PMR bisa memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat bila ada teman yang sakit atau kejadian lainnya.

“Anggota PMR mendapat pelatihan tentang kepalang­merahan, PBB, pertolongan pertama, perawatan keluarga, dan pendidikan remaja sebaya. Serta pengabdian masyarakat, kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama,” katanya.

Khusus di masa pandemi Covid-19, lanjut Aziz, sebagai anggota PMR terus dibekali ilmu pengetahuan media promosi kesehatan tentang pencegahan penyebaran Covid-19.

Seperti mengajak untuk disiplin 3M plus yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan serta menggerakkan masyarakat hidup sehat dan bersih.

“PMI juga terus memberikan penguatan bagi PMR untuk pencegahan penyebaran Covid-19. Sehingga mempunyai keterampilan pertolongan pertama dalam penanganan Covid-19 dan pencegahannya,” ujarnya.

Selanjutnya, PMR juga diperlukan untuk memperkenalkan profesi peningkatan derajat kesehatan masyarakat seperti dokter, bidan, perawat dan promosi kesehatan. “Jadi siswa yang mengikuti PMR biasanya menjadi dokter, perawat, bidan dan promosi kesehatan,” katanya. (riz)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.