PNS, Primadona?

154

SETIAP hari melalui media, baik cetak maupun elektronik, masyarakat disuguhi dengan berbagai pemberitaan. Pemberitaan tentang politik, hukum, keamanan, sosial, dan budaya. Dari sekian banyak pemberitaan yang menyedot perhatian saat ini —terutama para guru non PNS, adalah informasi pendaftaran CPNS 2018 yang akan segera dibuka oleh pemerintah. Seperti di Harian Pagi Radar Tasikmalaya (14/3/2018) diberitakan “Priatim Usulkan 16.455 Cpns”.

Di harian ini diberitakan juga tentang formasi; Kota Tasikmalaya mengusulkan 1.844 formasi, Kabupaten Tasikmalaya 10.493 formasi, Kota Banjar 1.700 formasi, Kabupaten Pangandaran 650 formasi, Kabupaten Garut 1.500 formasi, dan Kabupaten Ciamis 250 formasi.

Tentu informasi ini menjadi sangat menarik bagi para guru non PNS/honorer/sukwan. Dari beberapa informasi yang saya baca dan geliat para alumni yang melegalisir ijazah dan sejenisnya ke perguruan tinggi asal, menjadi sebuah indikasi bahwa minat untuk mendaftar menjadi CPNS masih tinggi.

Pertanyaannya, apakah ini salah? Apa yang menjadi motivasi mendaftar CPSN? Jawabannya tentu tidak salah dan sangat manusiawi. Sebab setiap warga negara berhak untuk menjadi PNS apalagi berdasarkan kualifikasi akademiknya yang disandangnya sudah memenuhi persyaratan. Terkait dengan apa motivasi mendaftar jadi PNS? Yang dapat menjawab, hanyalah mereka-mereka yang menjalaninya.

Seseorang yang diangkat menjadi PNS memiliki hak sesuai dengan aturan dalam UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Dalam pasal 21 UU ASN dinyatakan bahwa PNS berhak memperoleh; (1) gaji, tunjangan, dan fasilitas; (2) cuti; (3) jaminan pensiun dan jaminan hari tua (4) perlindungan; dan (5) pengembangan kompetensi. Bisa jadi inilah salah satu motivasinya. Namun, motivasi ini menjadi berbalik ketika seseorang sudah menjadi pensiun.

Beberapa waktu yang lalu saya menonton salah satu acara reality show di salah satu TV nasional. Dalam acara tersebut terjadi dialog antara seorang pensiunan PNS (P) dengan motivator (M).

P: “Pak, bolehkah saya bertanya?”
M: “Boleh”. Sebelum P bertanya lagi, M bertanya nama, dari mana, dan apa pekerjaan.
P: “Nama saya…..dari….pekerjaan saya, dulu saya itu PNS, sekarang pensiunan,” dengan nada memelas.
M: “Apa pertanyaan anda?”
P: “Begini pak, saya bingung untuk mengatur keuangan saya. Anak saya banyak. Istri saya lagi sakit. Sementara saat ini saya tidak punya lagi pendapatan kecuali meng­andalkan gaji pensiunan. Bapak tahu kan berapa gaji pensiun itu. Bagimana solusinya pak?”
M: “Sebelum saya menjawab, izinkan saya untuk memberi komentar dari apa yang bapak ceritakan tadi. Menurut saya, bapak itu, dulu salah cari kerjaan. Kenapa Anda mau jadi PNS? Kalau akan tahu bahwa gaji pensiun itu tidak menjadi jaminan hidup di masa mendatang?”

Guru Sebuah Profesi
Dalam UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dinyatakan, “Profesi adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, kecakapan, memenuhi standar mutu atau norma tertentu, memerlukan pendidikan profesi”. Menilik pengertian tersebut sejatinya profesi guru menjadi sumber penghasilan dan harapan masa depan. Namun apa yang terjadi ketika definisi profesi dikaitkan dengan cerita di atas, sebuah situasi yang paradoks.

Data statistik PNS di Indonesia saat ini menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2017 berjumlah 4.374.349 orang. PNS sebanyak itu tentu memiliki hak-hak yang sama sesuai dengan aturan yang berlaku. Bayangkan berapa negara harus menanggung beban anggaran untuk membayar hak-hak PNS tersebut. Dari mana sumber uang untuk membayar itu, belum lagi harus membayar tunjangan profesinya. Luar biasa.

Saya mulai berpikir dan mencoba mengambil pelajaran. Satu dalam pikiran saya bahwa menjadi PNS bukanlah sebuah ‘primadona’ yang harus menjadi rebutan setiap orang laksana sang seorang gadis yang harus diperebutkan oleh banyak orang. Tentu hal ini tidak didasarkan pada alasan karena saya bukan PNS. Masih banyak profesi dan pekerjaan yang dapat menjadi harapan untuk hidup di masa depan. Apa itu? Mari kita cari jawabannya masing-masing. Wallahu ‘alam. (*)

* Ketua Prodi PGMI Suryalaya dan Mahasiswa S3 SPs UPI Bandung

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.