Pola Makan Buruk Picu Diabetes

246
0
DIWAWANCARA. Dokter Puskesmas Parigi dr Nata Sanjaya usai diwawancara mengenai penyakit diabetes, Sabtu (20/7). Deni Nurdiansah / Radar Tasikmalaya
DIWAWANCARA. Dokter Puskesmas Parigi dr Nata Sanjaya usai diwawancara mengenai penyakit diabetes, Sabtu (20/7). Deni Nurdiansah / Radar Tasikmalaya

PANGANDARAN – Penyakit Diabetes Melitus (DM) atau yang biasa disebut kencing manis, merupakan salah satu penyakit mematikan di Indonesia. Penyakit ini kian marak seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat modern yang lekat dengan junk food.

Dokter Umum Puskesmas Parigi dr Nata Sanjaya mengatakan penyakit diabetes disebabkan oleh ketidakmampuan atau kegagalan fungsi tubuh untuk mengubah gula menjadi energi yang berguna, sehingga kadar gula dalam tubuh menjadi tinggi.

”Adanya resistensi dari insulin yang dihasilkan oleh pankreas,” ungkapnya kepada Radar, Sabtu (20/7).

Menurutnya, resistensi insulin tersebut bisa saja disebabkan oleh timbunan kolesterol, sehingga respons sel tubuh terhadap insulin terganggu.

”Jadi orang yang kolesterolnya tinggi, akan mengalami gangguan pada distribusi insulin, biasanya itu terjadi pada diabetes tipe 2 yang menyerang orang dewasa,” jelas dokter yang juga praktik di Klinik Mekar Medika ini.

Ada beberapa gejala klasik diabetes yang biasanya dirasakan seperti sering haus, sering buang air kecil, nafsu makan bertambah, berat badan turun dan lain-lain.

Gejala diabetes juga bisa dilihat dari air kencing yang didominasi oleh keton (busa putih) dan juga mulut yang kering dan kadang-kadang menimbulkan bau tidak sedap.

”Kemudian kulit kering dan gatal, bibir pecah-pe­cah dan tubuh yang terasa lemas ka­rena ku­rang­nya cairan,” terang­nya.

Kadar gula da­rah ­di­katakan terlalu tinggi ji­ka me­le­bihi 200­ mg/dl. ”Ta­pi ki­­ta harus mela­kukan tes lebih dari satu kali, jangan sekali tes langsung vonis diabetes,” katanya.

Diabetes ini dibagi menjadi dua yakni tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1 biasanya menyerang sejak usia kanak-kanak dan berhubungan dengan penyakit auto imun, sedangkan diabetes tipe 2 diidap penderita usia dewasa dan berhubungan dengan berat badan berlebih dan pola makan yang buruk.

Diabetes tipe 1 disebabkan oleh kerusakan pankreas sehingga produksi insulin berkurang, sementara tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin dalam arti insulinnya cukup tetapi tidak bekerja dengan baik dalam mengontrol kadar gula darah.

Karena penyebabnya berbeda, pengobatan kedua tipe diabetes ini juga tidak sama. Penderita diabetes tipe 1 harus mendapat suntikan insulin dari luar atau biasa disebut suntik insulin.

”Kalau diabetes tipe 2 bisa hanya dengan meminum obat-obatan, tidak perlu suntik insulin, ini bisa didapatkan di rumah sakit” terangnya.

Namun penderita tipe 2 bisa saja naik statusnya menjadi diabetes tipe 1, jika pola hidupnya tidak diatur dan terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan.

”Diabetes adalah penyakit kronis jangka panjang yang tidak bisa disembuhkan, namun bisa dikendalikan dengan baik,” katanya.

Orang yang mengalami obesitas atau kegemukan sangat rentan menderita diabetes, karena lemak-lemak dalam tubuhnya berpotensi menekan prankeas sebagai penghasil insulin. ”Lemak ini akan mengganggu produksi insulin,” terangnya.

Penyakit diabetes bisa menyerang siapa saja, tidak mengenal batas usia baik itu muda maupun tua, tidak mengenal kaya atau miskin. ”Semuanya berisiko terkena penyakit ini, maka jagalah kesehatan dengan pola hidup yang sehat,” tuturnya.

Dokter Nata menambahkan, banyak faktor yang dapat memengaruhi kadar gula darah. Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Makanan yang mengandung karbohidrat tinggi mempunyai pengaruh yang besar pada kadar gula darah.

Untuk itu, para penderita maupun masyarakat disarankan untuk membatasi asupan karbohidrat simpleks seperti nasi putih, mie serta makanan yang terbuat dari tepung terigu.

“Ada anggapan yang menyebutkan bahwa nasi kemarin itu sangat baik, padahal kadar gulanya malah makin tinggi, seharusnya makan nasi itu yang fresh atau baru di tanak, tapi porisnya harus diatur jangan banyak-banyak,” jelasnya.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa asupan karbohidrat yang dianjurkan bagi penderita diabetes sebesar 20-150 gram per hari atau sebesar 5-35% karbohidrat dari total asupan kalori harian.

Ia menyarankan, masyarakat untuk mengonsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, roti gandum, ubi, singkong dan lain-lain.

“Jangan lupa juga konsumsi buah dan sayuran. Namun pilih juga buah yang tidak terlalu matang dan tidak terlalu manis,” katanya.

Selain mengontrol makanan, penderita diabetes juga harus menerapkan gaya hidup sehat aktif dengan berolahraga. (den)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.