Polisi Dalami Aktivitas Paguyuban Tunggul Rahayu Garut, Cetak Uang Untuk Transaksi Antar Anggota

212
0
istimewa CETAK SENDIRI. Uang kertas yang diduga dicetak oleh sebuah organisasi.

KARANGPAWITAN – Satuan Reserse dan Kriminal (Sat Reskrim) Polres Garut melakukan penyelidikan terkait aktivitas Paguyuban Tunggal Rahayu yang melakukan perubahan lambang negara dan pembuatan uang.

“Saat ini masih kita dalami. Baru dua orang mantan anggota paguyuban yang kami periksa sebagai saksi,” ujar Kasat Reskrim Polres Garut AKP Maradona Armin Mappaseng kepada wartawan, Rabu (8/9).

Baca juga : Pengedar Ganja di Pasar Kulon Garut Diringkus Polisi

Hasil pemeriksaan sementara, ditemukan fakta adanya transaksi uang rupiah buatan paguyuban. Uang itu digunakan untuk saling bertransaksi di antara anggota.

“Belum banyak yang bisa kami sampaikan dari hasil penyelidikan. Masih berjalan karena memang ada pengaduan,” ujarnya.

Penggunaan uang itu, disebut Maradona memang terjadi. Pihaknya masih terus mendalami aktivitas paguyuban karena baru melakukan pemeriksaan selama dua hari.

Loading...

“Sementara dari keterangan saksi hanya soal mata uang saja yang mereka ketahui,” katanya.

Selain itu, ada fakta lain yang berhasil diungkap, yakni untuk bergabung paguyuban itu diharuskan membayar uang pendaftaran.

Orang yang tertarik untuk bergabung, dijanjikan akan mendapat deposito emas.

“Jadi calon anggota yang akan bergabung diharuskan membayar uang pendaftaran. Besarannya bervariatif, mulai dari Rp 100 ribu sampai Rp 600 ribu,” ujarnya.

Meski ada pembayaran, kata dia, calon anggota tertarik bergabung karena dijanjikan sesuatu. Yakni pencairan deposito emas yang berada di Bank Swiss.

“Tapi setelah bergabung beberapa lama mereka ragu dengan janji dari pimpinan paguyuban itu. Akhirnya mereka memilih keluar,” katanya.

Terkait perubahan lambang negara, Maradona menyebut saksi yang diperiksa tidak mengetahuinya.

Pihaknya juga harus mendapat keterangan dari ahli terkait perubahan lambang negara. “Kalau dari keterangan saksi, mereka tidak mengetahui soal pembuatan lambang Garuda. Termasuk tujuan pendirian organisasi itu,” ujarnya.

Fakta lain yang ditemukan yakni adanya tipu muslihat dari pimpinan paguyuban kepada calon anggota. Mereka meyakinkan orang yang ingin bergabung dengan uang pendaftaran.

“Perkara penipuan ini bisa dijerat pasal 378, 379 yakni penipuan sebagai mata pencaharian,” ujarnya.

Terkait jumlah anggota paguyuban, Maradona mengaku belum mengetahui pasti. Para saksi yang diperiksa memberikan keterangan yang berbeda.

Baca juga : Protokol Kesehatan Hotel do Garut Diperketat

“Keterangan saksi masih beda-soal jumlah anggota. Ada yang menyebut di bawah 100, di bawah 200,” ucapnya.

Maradona mengklaim jika sudah tak ada aktivitas paguyuban tersebut di Kecamatan Cisewu. Bahkan sudah tak ada anggota yang aktif dalam organisasi itu. (yna)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.