Politik Tak Seserius Itu

100
0
Oleh Asep M Tamam

DOMINASI politik dalam kehidupan manusia Indonesia tak terbantahkan. Karena dihadirkan untuk kepentingan seluruh warga, maka politik menjadi hal serius. Karena semua elemen terlibat di dalamnya, maka tanggung jawab politik pun bukanlah hal main-main.

Bagi para pelaku, bagi para politisi, bagi tim sukses, prinsip untuk memenangkan pertaruhan politik adalah visi aktivitasnya. Otak diperas. Tenaga dikerahkan. Perhatiannya adalah mencari dan memilih pendekatan, teknik, juga strategi untuk menang. Bagi para pelaku politik, menang bukan sekadar visi, tapi juga kepuasan, harga diri, investasi, juga seni.

Keseriusan dalam praktik berpolitik, secara positif bisa menghantarkan negara ke arah positif. Kerancuan, kesalahan, ketidakadilan, dan kesenjangan menjadi menu perlawanan dan misi gerakan. Di media sosial kita bisa membuktikan bahwa daya kritis masyarakat berkembang dan menjadi bagian pelurus kebijakan. Keseriusan warga masyarakat dalam berpolitik menumbuhkan daya kritis, bahkan pada masalah tetek bengek yang tak penting sekali pun.

Tapi di sisi lain, keseriusan dalam berpolitik pun menjamah tak hanya para pelaku dan tim sukses, tapi bahkan seluruh elemen masyarakat. Sumber berita dari atas diramu di bawah. Hierarki informasi dari atas ke bawah kadang mengalami penambahan atau pengurangan. Pada perkembangan selanjutnya, tingkat keseriusan masyarakat di bawah, sebagai pemasar produk opini politik yang dipasok dari atas, yang justru lebih terlihat dominan.

Hasilnya, kita menyimak cukup banyaknya pihak yang menilai bahwa sisi negatif politik di 2019 lebih dominan dibanding sisi positifnya dibanding lima tahun yang lalu, 2014.

Keterpecahan masyarakat begitu kuat terbaca. Arus praktik kampanye negatif dan kampanye hitam cukup deras. Nafsu untuk mematahkan opini lawan seimbang dengan hasrat untuk menyerang dengan materi yang sudah diramu, digoreng, dibumbui dan diolah sedemikian rupa. Seperti permainan sepak bola, pola ofensif dari kedua belah pihak lebih disukai daripada teknik defensif. Maka wajar saja jika pelanggaran kerap dilakukan di area pertahanan demi mengamankan gawang dari gempuran lawan.

POLITIK CANDA TAWA

Di sela keriuhan dunia politik, terutama yang bisa dipantau dan dipirsa lewat jalur media sosial, kita patut berterima kasih pada berbagai pihak yang melihat dan menampilkan diri berbeda dari mainstream. Terasa benar bahwa kehadirannya untuk bisa menurunkan tensi politik masyarakat kita, terutama pengguna media sosial. Dunia maya yang menjanjikan banyak hal unik, menarik, nyentrik, lucu, dan penting untuk tidak dilewatkan, sering dikagetkan oleh kemunculan dan penampakan mereka.

Karena tampilan berbeda sering membuat orang penasaran, maka beberapa orang yang memiliki jiwa karsa dan kreativitas berpikir muncul untuk menampilkan hal-hal berbeda yang kemudian menjadi tontonan alternatif. Mereka muncul dan berhasil menghibur duka, juga mencairkan suasana.

Nurhadi-Aldo, misalnya, adalah pasangan calon pemilihan presiden fiktif dengan nomor urutan 10 yang dibuat oleh delapan anak muda di Jogjakarta dan sekitarnya. Produk kreatifnya tersebar di Indonesia. Nurhadi sendiri merupakan seorang tokoh asli Kudus yang berprofesi sebagai tukang pijat. Sedangkan Aldo, Pak Nurhadi sendiri tidak mengenalnya. Foto profil Aldo sendiri merupakan foto dari Dr Anak Agung Gede Oka Wisnumurti MSi yang merupakan Rektor Universitas Warmadewa dan juga Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali.

Ada juga Pak Ndul, sosok kocak yang bernama asli Agung Sukoco ini asli Madiun. Pak Ndul merupakan ahlinya ahli, intinya inti, dan core of the core. Dia adalah sosok kocak dengan obrolan ngaler dan ngidul yang terus berbicara dengan bahasa super ilmiah. Dia pandai berbahasa Inggris dan mahir memilih diksi bahasa populer ilmiah dengan maksud menghibur. Akunnya di YouTube dan Instagram menjadi sangat viral dan cukup kuat memberi efek lain dari arus kuat politik di media sosial.

Selain dua nama trending di atas, ada juga duet Andel Achrian dengan Melon Tembok yang tampil dengan hastag BISAae, Bang Ijal (Muhammad Rijal Mulyana) dengan Boboho-nya yang fenomenal dengan pertanyaan, “Seberapa geregetnya kamu?”, Bocah Ngapa(k) Ya yang dibintangi oleh tiga anak SD bernama Ilham, Azkal, dan Fadli, juga yang lainnya.

Kepada mereka, kita, sekali lagi, harus berterima kasih karena telah memberi pesan, langsung mau pun tak langsung, bahwa berpolitik tak harus seserius apa yang bisa kita saksikan dalam pertengkaran non-stop di media sosial.

Para tokoh di atas, yang hadir dan menjadi trending di tengah kita saat ini memberi pesan kuat agar hidup tak harus diseriusi dengan sangat serius. Jiwa kita membutuhkan asupan berimbang antara hal serius dengan canda tawa. Ada ungkapan menarik yang boleh diviralkan untuk memberi warna lain di media sosial saat ini, yaitu “Politik Tak Seserius Itu”. (*)

*Pengamat politik, sosial dan pemerintahan Tasikmalaya

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.