Polresta Tasik Bakal Panggil Denny Siregar, Soal Dugaan Pelanggaran UU IT

890
0

KOTA TASIK – Polresta Tasikmalaya mula melakukan langkah penyelidikan terkait laporan Forum Mujahid Tasikmalaya, atas dugaan pelanggaran Undang-Undang (UU) Informasi Teknologi (IT).

Kasus pelanggaran UU IT ini diduga dilakukan Denny Siregar, buzzer dan pegiat media sosial (Medsos) yang sempat memposting foto para santri Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi Kota Tasik, sedang dalam aksi 212.

Namun positingan Denny pada 27 Juni 2020 lalu itu di akun facebooknya memberi judul dengan postingan foto para santri itu dengan judul ‘Adek2ku Calon Teroris yg Abang Sayang’. Namun demikian postingan itu pun sudah dihapus.

“Kita sudah mulai pemeriksaan terhadap korban dalam kasus dugaan pelanggaran UU IT tersebut,” ujar Kasatreskrim Polresta Tasik, AKP Yusuf Ruhiman yang dihubungi radartasikmalaya.com, Jumat (03/07) siang.

Terang dia, langkah selanjutnya yang akan dilakukan pihaknya adalah pemanggilan saksi-saksi dan terduga terlapor.


“Nanti terlapor juga akan kita panggil tapi nanti terakhir,” terangnya.

Terpisah, pihak Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi Kota Tasik membantah ada anggapan dalam aksi 212 tahun lalu mengeksploitasi santri untuk ikut aksi.

Keikutsertaan para santri dalam aksi 212 di Jakarta, kata dia, adalah untuk membaca Alquran dan bermain nasyid.

Pimpinan Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi, Ustadz Ahmad Ruslan Abdul Gani menuturkan, keterlibatan para santri dalam aksi itu bukan untuk ikut turun ke jalan.

Apalagi, tegas dia, kegiatan itu bukanlah aksi politik, melainkan merupakan aksi bela Islam.

“Lagi pula, mereka (para santri, Red) tidak teriak-teriak. Mereka hanya mengaji dan bermain nasyid, menghibur peserta aksi,” tuturnya.

Menurut dia, tak ada bukti para santri ikut teriak-teriak turun ke jalan. Santri mengikuti aksi dengan damai dan hanya mengaji di depan Masjid Istiqlal.

Kalau santri teriak-teriak, jelas dia, baru itu dapat dikatakan radikal. Namun, saat itu santri hanya mengaji dan bermain nasyid.

Menurut Ruslan, pernyataan yang disebutkan Denny Siregar bahwa para santri itu adalah calon teroris merupakan tuduhan tak berdasar.

Denny dianggap pihaknya telah mencemarkan nama baik para santri dan pesantrennya.

“Dia tak tahu kejadian, tapi menuduh mereka (para santri) calon teroris,” bebernya.

Bukannya membuat pernyataan minta maaf, jelas dia, Denny justru mengelak bahwa foto itu merupakan obyek dari isi statusnya.

Menurut Denny, dalam status terakhirnya, foto itu hanya ilustrasi yang memperkuat statusnya.

Namun, Ustadz Ruslan menganggap hal itu justru membuat kesalahannya semakin tampak. Sebab, status mengenai santri telah lebih dulu dihapus.

“Kalau ilustrasi itu kan menguatkan konten. Tapi saya paham bahasa. Dalam status itu, ia menjelaskan mengenai foto itu,” tandasnya.

(rezza rizaldi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.