Potensi Usaha Desa Cibeureum Terus Digali

13
POTENSI. Kepala Desa Cibeureum Yayan Sukirlan berdiskusi dengan perajin batok kelapa beberapa waktu lalu. (Cecep herdi / radartasikmalaya.com)

BANJAR – Kepala Desa Cibeureum Kecamatan Banjar Yayan Sukirlan terus mendorong masyarakat pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) dengan memberikan bantuan modal dan pelatihan.

Yayan mengatakan kendala pelaku UMKM di desanya pertama soal modal. Kedua sempitnya proses pemasaran produk dan ketiga tidak ada fasilitas galeri untuk memamerkan dan memasarkan produk secara kontinyu.

“Kita berikan dukungan modal, meskipun nilainya tidak besar tapi bisa lah membantu meringankan keluhan selama ini terkait modal produksi,” kata Yayan Minggu (13/1).

Ia menjelaksan banyak pelaku UMKM di Desa Cibeureum. Seperti pengolahan batok kelapa yang dijadikan alat perkakas dapur, kemudian dijadikan hiasan rumahan juga. Selain itu ada UMKM produksi golok.

“Upaya kita selain memberikan bantuan modal juga mengusulkan pelatihan secara berjenjang ke Dinas Ketenagakerjaan. Kemudian ke Dinas Perdagangan untuk mengatasi masalah pemasarannya,” kata dia.

Produk olahan batok kelapa, kata dia, sudah tembus ke pasar nasional. Di Bali, Lombok, Yogyakarta, produk olahan batok kelapa sudah banyak dipesan. Pemasarannya dilakukan melalui sistem daring.

“Pemesannya jauh-jauh dari Bali contohnya. Itu dipesan kemudian diproduksi dan nanti dikirim ke sana (Bali, Red). Pemasarannya melalui online,” kata Yayan.

Yayan mengaku memberikan bantuan modal usaha dari anggaran pemerintah desa dan pemerintah kota melalui program Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda).

“Dorongan kami dari dulu sudah kami support dengan anggaran dari desa bantuan buat perajin ini. Kami terus berupaya untuk mencarikan bantuan modal lain dan alhamdulillah dari Pemkot Banjar juga ada kemudian dari pihak-pihak lain juga alhamdulillah ada bantuan,” kata dia.

Ia juga mendorong UMKM lainnya terus berupaya memasarkan produknya melalui pasar online sehingga produk yang dihasilkan bisa dipesan dari berbagai wilayah. “Ketika sudah dikenal luas saya berharap para pengusaha UMKM lebih sejahtera perekonomiannya,” harapnya.

Yayan Sutisna perajin yang memanfaatkan limbah batok kelapa di desa itu mengatakan pemasaran dilakukan melalui sistem online sejak tiga tahun lalu.

“Pas awal-awal dipasarkan secara konvensional, sekitar tiga tahun lalu mencoba melalui online. Pembeli banyak dari mana-mana minta pesanan seperti cangkir dan aksesori tangan. Paling banyak dipesan dari Bali, dijadikan oleh-oleh cenderamata,” ungkapnya.

Dia mengaku saat ini mendaur ulang batok kelapa menjadi mata pencaharian satu-satunya. “Dalam sekali kirim bisa mendapatkan keuntungan Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta,” ungkapnya. (cep)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.