Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Salahkan Pelaku

Praktik Pungli di Kawasan Wisata Cipanas Garut Berdampak Negatif pada Kunjungan

61
0
Loading...

TAROGONG KIDUL – Pemerhati pemerintahan Agus Barkah menilai praktik pungutan liar (pungli) di kawasan wisata akan berdampak buruk terhadap citra pariwisata di Garut.

“Kalau banyak pungli, wisatawan semakin enggan datang ke Garut,” ujar Dosen Universitas Garut (Uniga) itu ketika dihubungi Rakyat Garut, Sabtu (28/12).

Menurut dia, di zaman sekarang yang serba terbuka, kejadian pungutan liar di tempat wisata informasinya akan cepat menyebar.

Seperti kejadian pungli di kawasan Cipanas beberapa waktu lalu. “Dengan informasi yang menyebar sangat cepat ini, pasti masyarakat mikir dua kali kalau mau datang ke Garut,” kata dia.

Karena itu dia meminta pemerintah kabupaten maupun polisi segera bertindak dan memberikan jaminan keamanan kepada wisatawan, sehingga tidak kapok datang ke Garut. “Kalau ini tidak cepat ditindak, hunian hotel yang sekarang menurut data terus menurun akan terus terpuruk,” katanya.

Ia mengungkapkan praktik pungli di kawasan Cipanas memang telah lama terjadi. Hal itu seolah menjadi sebuah tradisi yang kurang baik.

Wisatawan yang datang ke Garut, kata dia, selalu dimanfaatkan secara pragmatis. Padahal seharusnya, wisatawan disambut sebagai tamu.

Loading...

Agus mencontohkan. Di Kabupaten Pangandaran masyarakatnya telah siap secara mental menyambut wisatawan. Tamu yang datang tidak dipersulit.

“Misalnya masuk ke Pangandaran hanya sekali bayar parkir dan tidak ditarik lagi. Itu bukti mereka siap. Kejadian terbalik justru terjadi di Garut,” kata dia.

Ia menyarankan Pemkab Garut berusaha lebih keras melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar sadar wisata. Pasalnya, jika praktik itu dibiarkan, potensi wisata di Garut yang seharusnya dapat menjadi sumber ekonomi justru akan tenggelam.

Agus mengatakan Pemkab Garut harus mencari latar belakang masih banyaknya oknum yang melakukan praktik pungli. Ia menduga praktik itu dilakukan lantaran banyak warga Garut yang belum memiliki pekerjaan atau penghasilan yang cukup.

Bahkan, bisa jadi warga tak merasa mendapat manfaat dari keberadaan destinasi wisata. Karena itu, menurut dia, pemerintah jangan hanya menyalahkan para pelaku, tapi juga mencari akar masalahnya.

“Misalnya, mereka bisa diberdayakan di tempat wisata, baik jadi pengelola atau diberikan pelatihan untuk membuat produk. Jadi mereka juga dapat manfaat dari kedatangan wisatawan,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Polsek Tarogong Kaler mengamankan lima orang yang diduga pelaku pungutan liar (pungli) di kawasan Objek Wisata Cipanas Selasa (24/12). Pelaku berinisial PI (35), DH (24), DR (30), OM (59) dan DN (30) diamankan setelah aksinya dikeluhkan wisatawan di media sosial dan menjadi viral. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.