Presiden Gelisah Soal Neraca Dagang Defisit

60
0
fin HADIRI. Para menteri yang mengikuti rapat kabinet di Istana Kepresidenan, Bogor, Senin (8/7). Mereka membahas soal neraca RI.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan jajaran kabinet untuk berhati-hati, terutama dengan masalah ekspor dan impor. Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Januari sampai Mei 2019, year on year turun 8,6. Impor Januari-Mei pun turun 9,2.

“Hati-hati terhadap ini. Artinya, neraca perdagangan kita Januari sampai Mei ada defisit 2,14 miliar dolar AS,” kata Presiden Jokowi saat memberikan pengantar pada Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (8/7).

Presiden meminta agar dicermati angka-angka (defisit) itu dari mana dan kenapa impor sangat tinggi. Kalau didetailkan lagi, menurut Presiden, migas naiknya tingi sekali. “Naiknya gede banget. Ya hati-hati di migas Pak Menteri ESDM yang berkaitan dengan ini, Bu Menteri BUMN yang berkaitan dengan ini, karena remnya paling banyak ada di situ,” tegas Presiden.

Sementara yang berkaitan dengan ekspor, Presiden mengatakan sebetulnya Indonesia masih memiliki peluang besar, apalagi sekarang dengan terjadinya perang dagang. Menurut Presiden, ini kesempatan ekspor Indonesia masuk ke Amerika besar sekali dengan pengenaan tarif terhadap barang-barang produk dari Tiongkok.

“Ini kesempatan kita menaikkan kapasitas dari pabrik-pabrik, dari industri-industri yang ada,” ucap Presiden seraya menambahkan pemerintah mestinya memberikan insentif terhadap peluang yang ada.

Kalau hanya rutinitas, tidak bisa memberikan insentif-insentif khusus bagi eksportir baik yang kecil, besar, maupun sedang ataupun insentif-insentif berupa bunga misalnya, menurut Presiden, sulit untuk menembus, ke pasar yang telah disampaikannya maupun pasar-pasar baru yang ada.

“Saya kira banyak peluang karena ini tekstil itu peluang, alas kaki peluang, gede-gede sekali, furnitur peluang. Inilah yang selalu kita kalah memanfaatkan peluang atau opportunity tapi tidak bisa kita ambil karena insentif-insentif itu tidak kita berikan,” kata Presiden.

Pada bagian lain, Presiden mengingatkan kembali masalah investasi. Sudah berapa puluh kali telah disampaikan agar investasi yang berkaitan dengan ekspor, berkaitan dengan barang-barang substitusi impor untuk tutup mata, berikan izin secepat-cepatnya. “Tapi kejadian di lapangan, tidak seperti itu,” tegasnya.

Ia menunjuk contoh dari Kementerian Kehutanan misalnya, masih lama, terutama yang menyangkut urusan lahan. Presiden mengutip cerita Wapres JK mengenai petrochemical yang diperlukan tetapi berhenti sudah setahun lebih gara-gara berkaitan dengan lahan. “Urusan kecil tapi ya ini menghambat,” ujarnya.

Demikian pula di Manado, Presiden menyampaikan kekurangan hotel, (investor) hotel berbondong-bondong hendak membangun bikin. Tapi urusan yang berkaitan dengan tata ruang, lanjut Presiden, sebetulnya dari Menteri BPN bisa menyelesaikan dengan kesepakatan yang harus dilakukan.

“Semua hal seperti ini kalau secara detail, kita ini terbelit oleh rutinitas dan tidak berani melihat problem, melihat tantangan-tantangan yang riil kita hadapi. Ya sampai kapan kita tidak bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada,” tegas Presiden.

Untuk itu, Presiden mengingatkan perlunya mendahulukan kerja yang terintegrasi, kerja tim antar kementerian. “Sekali lagi cermati. Kerja terukur dan selalu terapkaan koordinasi setiap kementerian,” timpalnya.

Terpisah Pengamat dari Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho menyatakan barang-barang konsumsi yang berasal luar negeri atau impor harus menjadi prioritas pemungutan pajak terutama yang bergerak melalui ekonomi digital.

“Ya, kalau di dalam negeri, saya rasa tidak perlu pembebanan seperti itu karena untuk mendorong UMKM di dalam negeri juga bagaimana mereka masuk ke dalam market place. Yang perlu dikejar adalah barang-barang impor yang ditujukan untuk konsumsi,” ujar Andry, kemarin. (ful/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.