Pria Lebih Beresiko Dua Kali Lipat Serangan Jantung

65
0
dr Reni Herlinawati dokter tamu PKM Kawalu
dr Reni Herlinawati dokter tamu PKM Kawalu

TASIK – Serangan jantung dapat terjadi pada umur berapa pun dan tidak mesti lebih tua umur berarti risiko akan serangan jantung semakin tinggi. Hal itu diungkapkan dokter tamu PKM Kawalu dr Reni Herlinawati.

“Menurut PERKI (Persatuan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia), penyebab terbanyak dari kematian mendadak adalah serangan jantung,” ujarnya kepada Radar, Jumat (21/2).

Kata dia, kondisi kematian mendadak ini terjadi pada kurang lebih 15 persen populasi dan laki-laki lebih berpotensi 2 kali lipat mengalami kematian mendadak. Dan paling sering terjadi pada umur 30-40 tahun.

Faktor risiko terjadinya serangan jantung menurutnya adalah merokok, diet yang buruk, kebiasaan sadentary (diam), peningkatan IMT (obesitas), hipertensi, hiperkolesterolemia dan diabetes.

“Gejala serangan jantung pada umumnya adalah nyeri pada dada, sesak bahkan sampai pingsan,” katanya.

Reni menjelaskan, nyeri dada pasien yang mengalami serangan jantung disebut juga dengan angina pectoris, nyeri yang dirasakan di dada kiri atau tengah yang menjalar ke rahang, bahu, lengan kiri terutama daerah kelingking.

Namun, ujar dia, terkadang nyeri yang dirasakan juga tidak begitu khas, kadang keluhan berupa nyeri di ulu hati, atau bahkan di gigi bawah. Pada umumnya, pasien dengan angina pectoris, dibagi ke dalam dua golongan yakni stabil dan tidak stabil.

Dikatakan stabil, jika nyeri tidak berlangsung lebih dari 5 menit dan membaik dengan istirahat. Sementara angina pectoris tidak stabil adalah sebaliknya dan biasanya menunjukkan gambaran khas pada rekaman jantung atau electrokardiogram (EKG).

“Hal penting dalam penanganan serangan jantung adalah cepat tidaknya pasien ditangani dengan tepat. Meski golden period penanganan serangan jantung adalah 6 hingga 12 jam, namun semakin cepat penanganan akan semakin baik,” ucapnya.

Bahkan, lanjut Reni, waktu yang ditempuh pada kondisi kematian mendadak adalah 1 jam setelah gejala dirasakan, jadi akan lebih baik jika kurang dari 30 menit sudah tertangani.

Lanjutnya, saat terjadi cardiac arrest (henti jantung), pastikan cek denyutan di arteri carotis (arteri di leher atas), jika tidak ada denyutan, segera panggil bantuan atau telepon ambulans sambil melakukan pijatan jantung paru, namun sayangnya di Indonesia masih sangat awam dengan resusitasi jantung paru (RJP) ini.

“Di negara maju, semua warga harus mampu melakukan RJP, sehingga saat ada pasien yang tiba-tiba henti jantung, dapat tertolong segera,” katanya.

Di Tasikmalaya sendiri sudah ada program Si Cetar (Tasik Cepat Tanggap Darurat) yang diinisiasi oleh Dinas Kesehatan.

“Jadi masyarakat dapat menelepon ke 119 jika ada masalah medis gawat darurat,” ujarnya.

Reni menambahkan, menurut jurnal yang dikeluarkan American College Of Cardiology (ACC) dan American Hearth Assosiation (AHA) pada Maret 2019, pencegahan yang dapat kita lakukan untuk mencegah timbulnya serangan jantung adalah beraktivitas fisik minimal 150 menit/minggu dengan aktivitas sedang, atau 75 menit/minggu dengan aktivitas berat.

Selain itu berhenti merokok (baik aktif ataupun pasif), diet tinggi sayuran, buah buahan, ikan, kacang-kacangan dan gandum, menghindari konsumsi lemak jenuh dan natrium (garam) serta mengurangi berat badan.

Selain itu, rutin kontrol gula darah, kolesterol, trigliserida, tensi darah, berat badan dan kondisi jantung.

“Pada dasarnya serangan jantung atau kematian mendadak yang disebabkan penyakit lain, dapat dicegah, jika kita melakukan pencegahan secara rutin dan terkontrol,” kata dia. (obi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.