Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.5%

19.8%

7.7%

69%

Program Guru Keliling di Ciamis Beratkan Honorer, Ini Alasannya..

92
0
MENGAJAR. Guru honorer SDN 3 Kecamatan Sadananya Kabupaten Ciamis Tata Nugraha mengajar anak didiknya di rumah salah satu siswa, belum lama ini. ISTIMEWA

CIAMIS – Sampai saat ini belum ada kejelasan kapan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di sekolah kembali dilaksanakan. Padahal, orang tua murid, siswa dan para guru sudah mengharapkan bersekolah kembali seperti biasa.

Namun, pemerintah belum memberikan izin kembalinya KBM tatap muka di sekolah karena masih dalam pandemi Covid-19.

Baca juga : Tim Covid Ciamis Waspadai Munculnya Kluster Kantor

Salah satu alternatif untuk tetap melaksanakan KBM dengan sistem guru keliling untuk memberikan pelajaran kepada peserta didik.

Akan tetapi, sistem guru keliling ini dirasa cukup memberatkan bagi para guru yang masih honorer atau sukwan. Seperti yang dikeluhkan Tata Nugraha, guru honorer SDN 3 Kecamatan Sadananya kepada Radar, Minggu (9/8).

Menurutnya, saat ini pemberian mata pelajaran kepada siswa masih dilakukan secara daring (dalam jaringan) atau guru keliling ke rumah-rumah peserta didik. Sistem guru keliling ini dilakukan empat titik di rumah orang tua dengan satu kelompok tujuh sampai delapan orang.

“Saya setiap hari keliling dari pagi sampai siang, mungkin bagi PNS tidak keberatan. Namun bagi saya yang merupakan guru honorer atau sukwan  kalau keliling memerlukan BBM lebih, sehari bisa lebih dari satu liter. Ya bagi saya sebagai honorer uang segitu cukup berarti sekali kalau dikalkulasikan,” ujarnya.

Kata dia, ketika diberlakukan guru keliling tidak ada dana stimulan apa pun atau transportasi tambahan. “Ya tetap saja honorer segitu-gitunya per bulan hanya Rp 300.000-500.000.

Jadi kalau tidak ada penghasilan tambahan ya repot juga untuk memenuhi kebutuhan setiap bulannya,” ujarnya, menjelaskan.

Memang banyak kendala dalam pelaksanaan guru keliling dan belajar daring. Misalnya untuk guru keliling karena kelompoknya dibatasi, jadi semua tidak bisa tersentuh merata.

Kemudian belajar daring pun banyak kendala, karena tidak semua siswa atau orang tuanya memiliki HP yang mendukung belajar virtual.

“Termasuk persoalan kuota pun menjadi persoalan. Kemudian di wilayah saya yang memiliki smartphone mungkin hanya 40 persen,” katanya.

“Jadi guru keliling dan daring itu ada kendala, lebih baik tatap muka dan kami merindukan yang namanya sekolah dibuka lagi,” ucapnya, menambahkan.

Baca juga : Siswa SMP Cihaurbeuti Ciamis Terlindas Truk di By Pas Kota Tasik

Yuli, salah satu orang tua murid mengaku membingungkan dan tidak efektif dengan pembelajaran guru keliling atau dalam jaringan. Karena jauh berbeda dengan pembelajaran secara tatap muka langsung.

“Kalau kami orang tua jelas sangat mengharapkan belajar di sekolah, tapi dengan menerapkan protokol kesehatan yang super ketat. Kami heran kepada pemerintah, di mana mal, wisata dan tempat keramaian lainnya dibuka tapi sekolah tidak,” katanya. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.