Proyek di Kompleks Dadaha Kota Tasik Dibagi-bagi, Begini Kata Dewan..

151
0
radartasikmalaya.com
Trotoar Jalan Utama Kompleks Olahraga Dadaha disulap seperti kota-kota besar, dengan ornamen bola batu yang dicat warna-warni. dok radartsikmalaya.com

KOTA TASIK – Silang sengketa, beda pendapat antara wakil rakyat (Dewan) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya saat ini mulai muncul.

Salah satunya dalam hal proyek pembangunan dan pengelolaan Kompleks olah raga dadaha.

Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, Muslim mengatakan, gagasan pembangunan dan pengelolaan kawasan olahraga Dadaha seharusnya dikerjakan oleh 1 instansi, agar tersusun rapi.

Pasalnya, hingga kini pembangunan dan pengelolaan Dadaha masih dilakukan beberapa instansi.

Conthnya, kata dia, seperti pengelolaan kursi di sekitar lapangan upacara dilakukan Dinas Perwaskim.

Lalu, pembangunan bola-bola raksasa bergambar payung geulis yang baru saja tuntas, dikerjakan Disporabudpar.

Sedangkan, pengelolaan sampah oleh DLH, pengelolaan bangunan GOR oleh UPTD Dadaha.

“Ini biar satu konsep. Jadi di Dadaha itu harus menonjolkan ciri khas Kota Tasik. Agar dikenal lebih luas dan ada bangunan monumentalnya,” ujar Muslim kepada radartasikmalaya.com, Minggu (22/11).

Muslim mencontohkan seperti ada median atau lokasi yang menonjolkan ciri khas dan seni Kota Tasik.

“Nah ini harus ada kesepakatan bersama kedepannya kalau mau memodifikasi komplek Dadaha,” terangnya.

Lalu Muslim pun mencontohkan lokasi lainnya, seperti di belakang Gedung Kesenian masih banyak kawasan hijau. Banyak rumput, ilalang dan lainnya.

“Di belakang Gedung Kesenian kan perlu juga diubah dan dimanfaatkan menjadi lokasi yang bisa dipergunakan masyarakat ketika berkunjung ke Dadaha,” bebernya.

“Nah ini makanya perlu ada dinas terkait yang mengkomunikasikannya. Karena yang banyak mengkritisi saat ini terkait Dadaha adalah yang mencintai Kota Tasik,” sambungnya.

Muslim mengakui masalah di komplek Dadaha itu cukup pelik. Selain itu diperlukan juga Detail Enginering Design (DED) khusus se-kompleks Dadaha itu mau dibagaimanakan dan akan ada apa saja?

“Kalau proyeknya masih dibagi-bagi, maka ya akan sapotong-sapotong. Misal di sini dibuat siapa, di sana dibuat siapa, di tengah dikerjakan siapa,” tambahnya.

Tegas dia, jika dikerjakan dan dikelola oleh satu instansi maka DED-nya pun bakal satu. Kalau dikerjakan satu maka akan muncul bangunan monumental.

“Kalau tak seperti itu maka, ya berbeda-beda hasil kerjaannya. Jadi ya saran saya sih mending diserahkan ke satu instansi, atau dikelola dan dikerjakan itu oleh UPTD Dadaha saja,” sarannya.

Makanya dia juga meminta kepada Plt Wali Kota, HM Yusuf, agar dikaji ulang berbagai rencana pembangunan dan pengelolaan khusus untuk kompleks Dadaha kedepannya.

“Jadi kebijakannya oleh satu instansi saja. Biar maksimal, optimal dan satu ciri khas. Tak akan berbeda-beda nanti hasilnya dan bisa memunculkan bangunan khas monumental,” tandasnya.

Terpisah, Plt Wali Kota Tasik, HM Yusuf menuturkan, kompleks Dadaha itu menurut dia lebih baik pengelolaan dan pengerjaan kegiatannya masih tetap seperti saat ini.

“Kalau menurut saya ya tinggal koordinasi aja yang baik antar instansi yang bertanggungjawab mengelola bagian perbagian dari apa yang ada di Dadaha,” tuturnya.

Yusuf mengakui, pembangunan di kompleks Dadaha hingga kini berdasarkan sektor di beberapa instansi dan dinas. Jadi menurut dia tak perlu dikerjakan oleh satu instansi.

“Saya kira tak perlu itu dikerjakan oleh satu instansi. Yang penting itu koordinasi aja antar dinas dan instansi. Ya mudah-mudahan kedepan penataan Kota Tasik ini akan semakin lebih baik,” harapnya.

(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.