Rp 1,6 Miliar Bisa Buka Destinasi Wisata Baru

Proyek Pembangunan Pagar dan Lampu Dadaha Dianggap Penghamburan

165
0
SISA-SISA. Pengguna jalan melintas di dekat puing-puing tembok pagar di Kompleks Olahraga Dadaha, Senin (8/7). rangga jatnika / radar tasikmalaya

CIHIDEUNG – Proyek pembangunan pagar dan lampu taman Kompleks Olahraga Dadaha yang memakan biaya Rp 1,6 miliar dianggap sebagai penghamburan anggaran. Dengan anggaran sebesar itu, pemerintah kota (pemkot) seharusnya bisa membangun destinasi wisata baru.

Hal tersebut diungkapkan oleh aktivis pemuda Kota Tasikmalaya Dian Pertama. Dia menyesalkan adanya proyek pemagaran ulang Dadaha itu lantaran pagar yang telah dirobohkan masih sangat kukuh. “Kalau memang tujuannya supaya lebih bagus bisa dicat ulang atau dihias semenarik mungkin,” ujarnya kepada Radar, Senin (8/7).

Dia tidak keberatan jika pemkot ingin menata kawasan Dadaha supaya lebih baik. Namun, bila anggaran Rp 1,6 miliar hanya untuk pagar dan lampu taman, itu sangat lucu. “Ya lucu, dengan anggaran sebesar itu pemkot bisa membuat hal yang jauh lebih bermanfaat, tidak hanya sebatas mengganti pagar dan menambah lampu taman,” tuturnya.

Menurutnya, banyak hal yang lebih penting dilakukan untuk mendorong pariwisata. Jika memang pembangunan itu berdasarkan pengajuan, pemkot idealnya lebih fokus kepada membuka destinasi wisata baru. “Apalagi saat ini kita tidak punya destinasi wisata yang benar-benar dimiliki pemerintah,” katanya.

Idealnya, pembangunan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam hal pariwisata, menurut Dian, Kota Tasikmalaya butuh destinasi baru sehingga bisa mengangkat perekonomian. “Kalau begini kan hambur anggaran, manfaat untuk masyarakatnya apa?” ujar dia.

Dia mengungkapkan, banyak pembangunan di Kota Tasikmalaya yang kurang bermanfaat untuk masyarakat. Bahkan, cenderung hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. “Jangan sampai pembangunan itu hanya mengakomodir kebutuhan proyek pemborong saja,” kata dia.

Salah seorang pengunjung Da­daha, Rini Wulandari (30) mengaku kurang begitu peduli dengan dirombaknya pagar Dadaha. Karena tidak akan begitu berpengaruh baginya selaku masyarakat. “Ya gimana pemerintah saja, baiknya seperti apa,” katanya.

Dengan dana yang digunakan mencapai Rp 1,6 miliar, dia sendiri merasa kaget. Pasalnya, angka tersebut bukan jumlah kecil dan harus benar-benar dimanfaatkan. “Kalau memang segitu, berarti pagarnya juga harus benar-benar mewah,” tuturnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.