Puasa Bisa Atasi Penyakit Metabolik

38
0
dr Fa’idh Husnan
dr Fa’idh Husnan

TASIK – Kamu adalah apa yang kamu makan. Ungkapan tersebut kiranya benar adanya, sebab menurut dunia kedokteran semua zat gizi dari makanan yang kita makan akan berubah menjadi bangunan sel tubuh.

Dokter umum RS Jasa Kartini Tasikmalaya dr Fa’idh Husnan mengatakan, pemilihan makanan sangatlah penting karena makanan adalah penentu kesehatan tubuh manusia. Hal ini sesuai dengan ajaran agama Islam yang sangat memperhatikan terkait makanan dan kesehatan.

“Terbukti banyak sekali ayat yang mencantumkan perintah untuk selektif dalam memilih makanan dalam rangka menjaga kesehatan jasmani maupun rohani,” ujar dr Fa’idh Husnan kepada Radar, Jum’at (8/2).

Dokter Fa’idh mengatakan, ilmu kedokteran modern baru-baru ini menemukan bahwa setiap harinya setiap sel tubuh akan melakukan proses regenerasi dimana sel tua akan mati dan akan digantikan oleh sel baru.

“Bahan baku proses pembentukan sel baru ini adalah apa yang kita makan sehari-hari,” ujar dokter yang juga praktik di Klinik Graha Sejahtera Cisayong.

Semua zat gizi dari makanan akan berubah menjadi bangunan sel tubuh. Maka tidaklah berlebihan jika ada ungkapan kita adalah apa yang kita makan atau kamu adalah apa yang kamu makan.

Menurutnya, ilmu kedokteran terkini juga menyebutkan bahwa intake (asupan makanan) berlebih dapat menyebabkan keracunan gula dan keracunan lemak (glucolipotoxicity) tingkat seluler yang akan berujung pada kondisi resistensi insulin.

Kondisi resistensi insulin inilah yang akan menyebabkan kerusakan di seluruh sel tubuh. Proses kerusakan terjadi karena insulin yang memiliki peran penting dalam metabolisme sel bahkan DNA mengalami disfungsi sehingga metabolisme sel terganggu.

Hampir seluruh sel membutuhkan insulin dalam proses metabolismenya, mulai sel hati, jantung, ginjal, otot, sel telur, testis hingga sel imun. Maka jika terjadi resistensi insulin, maka organ sel tersebut tidak berfungsi maksimal.

“Hal ini dibuktikan oleh ribuan penelitian hubungan intake berlebih dengan tentang munculnya penyakit sistemik,” ujarnya.

Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Antonio C tahun 2003 yang menyatakan bahwa asupan zat gula dalam jumlah banyak dapat menyebabkan terjadinya resistensi insulin. Dan penelitian lain dilakukan oleh Storlien tahun 2006 yang menyatakan bahwa asupan makanan tinggi lemak dapat memicu dan mem­perberat kondisi resistensi insulin.

Kata dia, zat gula dan lemak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah segala jenis makanan yang mengandung gula dan lemak dalam bentuk sederhana maupun kompleks. Dijelaskan lebih dalam, bahwa pun jika mengkonsumsi protein berlebih makan akan disimpan dalam bentuk gula dan lemak.

“Salah satu mekanisme yang paling mendasari terjadinya resistensi insulin pada kasus ini adalah terbentuknya proses oksidatif stress yang menjadi radikal bebas dan merusak sel,” ujarnya.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Mervyn S tahun 2004 menyatakan bahwa kondisi resistensi insulin dapat berakhir dengan kegagalan multifungsi organ, seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, gagal jantung, diabetes melitus, infertilitas dan penuaan dini.

la menyebutkan bahwa penyebab utama dari terjadinya kondisi resistensi insulin adalah terlalu tingginya asupan makanan dan sedikitnya aktivitas fisik. Lebih jauh dijelaskan mekanisme yang bahwa mendasari semua kerusakan itu adalah gagalnya mitokondria (organel sel pembangkit tenaga) menghasilkan energi dengan optimal.

“Peneltian di atas selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Morino Katsutaro dari Fakultas Kedokteran Universitas Yale Amerika yang membuktikan bahwa akar dari semua penyakit sistemik adalah tidak terkontrolnya asupan makanan,” ujarnya.

Terang dia, asupan yang tidak terkontrol akan memicu proses kerusakan pada mitokondria ataupun sel beta pankreas. Kedua kerusakan tersebut akan saling mempengaruhi, dimana jika salah satu sudah mengalami kerusakan maka yang lain akan semakin cepat kerusakannya.

“Rasulullah SAW dengan bimbingan wahyu Allah menjelaskan, bahwa dengan membatasi asupan makanan (membatasi terutama gula dan lemak) akan meningkatkan kualitas  kesehatan kita,” ujarnya.

Pembatasan kalori pada saat puasa ternyata terbukti secara ilmiah oleh ilmu pengetahuan modern saat ini. Penelitian yang dilakukan oleh Carles tahun 2010 yang dimuat di jurnal kedokteran ternama Elsevier meneliti bahwa kondisi puasa dapat memperbaiki kualitas metabolisme sel.

“Semua makanan yang dikonsumsi dalam jumlah terlalu banyak dapat menyebabkan kondisi tubuh yang buruk. Puasa adalah salah satu obat terbaik untuk mencegah dan mengobati penyakit metabolik akibat buruknya (terlalu banyak) asupan,” ucap dia. (obi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.