Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.5%

19.8%

7.7%

69%

Puasa & Lebaran tak Bisa Peluk Anak, 38 Relawan Covid-19 Kota Tasik Masih di Karantina

269
0

KOTA TASIK – Secara umum, relawan adalah orang yang bekerja secara sukarela membantu dalam suatu pelayanan atau organisasi tertentu tanpa berorientasi uang sebagai imbalan atas kerjanya.

Nah, di selama pandemi Covid-19 di Kota Tasikmalaya, 38 relawan kesehatan atau relawan medis yang turun tangan membantu Tim Gugus Tugas Penanganan dan Percepatan Covid-19.

Jumat (26/06) siang, radartasikmalaya.com sempat menemui para garda terdepan tangani pasien Covid-19, yang menetap sementara selama masa pandemi di Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Universitas Siliwangi (Unsil), di Kecamatan Tamansari.

Kordinator Relawan di Rusunawa tersebut, adalah Mohamad Haikal.

Dia mengatakan, sejak 20 Mei 2020 lalu, dirinya bersama rekan rekannya tinggal di Rusunawa.

Mereka, selama di sana dilarang untuk ke luar lokasi. Aktivitas kesehariannya adalah kerja yang dibagi 3 sift (pagi, siang, dan malam).

Kata dia, tenaga medis yang menangani Covid di Kota Tasik dibagi menjadi beberapa tim.

Mulai dari CS (Customer Service), bidan, perawat, farmasi, dan analis. Totalnya ada 38 orang.

“Aktivitas kita di luar dari tim yang menangani di ruangan isolasi, ya di dalam lingkungan Rusunawa. Ada yang bercocok tanam, ada yang lagi buat saung-saungan buat nongkrong, bersih-bersih dan lain sebagainya,” katanya.

Dia menerangkan, ada suka duka menjadi relawan Covid-19 ini. Yaitu jarang bertemu dengan keluarga.

Jika ada salah satu keluarga yang menengok, tetap jaga jarak dan tak bisa memeluk anak.

“Apalagi kita tak pulang-pulang dan tinggal di Rusunawa. Kalau rindu keluarga ya paling kita video call atau telepon. Alhamdulillah ya kita jalani semua dengan iklas. Alhamdulillah juga masyarakat menerima kita di sini dan tidak ada masalah,” terangnya.

Relawan lainnya, Guna Cakra Satia menuturkan, jam kerjanya dari pukul 06.30 WIB harus sudah siap.

Lalu, mereka dijemput kendaraan dinas untuk diberangkatkan ke rumah sakit-rumah sakit yang menangani pasien positif Covid-19 maupun ke lokasi lainnya yang menjadi lokasi isolasi ODP, PDP atau OTG.

“Karena kita harus menjaga diri. Kita diposisi ini sebagai carier. Meskipun kita aman, namun bisa menularkan jika terjangkit. Dalam artian aman memang kita selama di sini selalu dicek juga kondisi kesehatannya,” tuturnya.

Ditanya lelah tidaknya menangani pasien Covid ini walaupun yang ditanganinya belum tentu status pasiennya positif.

“Tetapi kita kerja adalah relawan. Kita ikhlas. Kalau bukan kita ya siapa lagi yang mau turun ke lapangan?” tambahnya.

Sementara itu para perawat pun mengaku semangat menjadi bagian dari tim tersebut.

Seperti kata Ika, perawat yang tinggal di Rusunawa tersebut mengaku dukanya adalah jarang bertemu dengan keluarga.

“Selama di karantina di sini memang jarang bertemu keluarga yang menjadi duka. Karena kita sudah dikarantina hampir 3 bulan.

Lebaran juga kita di sini. Sukanya di sini kita mendapat pengalaman baru ketika menghadapi pandemi Covid-19,” katanya.

Hal senada diungkapan perawat lainnya, Irma, yang merasa kangen dan sedih ketika tak bisa bertemu orang tua.

Apalagi dia harus melewati Ramadan dan Lebaran di Rusunawa.

Namun demikian bagi dirinya menjadi relawan adalah salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat.

(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.