PUBLIK MINTA TULISAN ARAB DIPERBAIKI

628
0
HARUS DIUBAH. Salah satu tulisan arab di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya. Publik meminta banyaknya kekeliruan dalam penulisan arab di papan nama SKPD segera diperbaiki. rangga jatnika / radar tasikmalaya
Loading...

Kekeliruan dalam tulisan arab di papan nama kantor Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Tasikmalaya yang tidak sesuai dengan kaidah Arab Pegon harus diperbaiki. Hal ini, dinilai memalukan dunia pesantren yang sudah melekat dengan Kabupaten Tasikmalaya.

Dewan Kiai Pondok Pesantren Cintawana Tasikmalaya KH Irvan Hilmi menilai kekeliruan SKPD mencoreng dunia pesantren. Karena tidak bisa dipungkiri Kabupaten Tasikmalaya merupakan daerah yang kaya akan pesantren dan santrinya. “Ya pasti memalukan, Tasik itu sudah dikenal banyak pesantrennya,” ungkap dia kepada Radar, Senin (24/6).

Untuk orang yang belum paham, kata dia, bisa menganggap tulisan itu benar. Tapi bagi orang-orang yang paham ilmu Imla Arab Pegon, pasti menertawakan tulisan tersebut. “Pasti dikiranya yang bikin itu sok tahu,” tuturnya.

Seharusnya, tambah dia, pemerintah berkoordinasi dengan pesantren atau orang yang berkompeten dalam penulisan Imla Arab Pegon. Sehingga penulisannya sesuai dengan kaidah kelimuan. “Ini dipelajari (Imla Arab Pegon, Red) di pesantren, jadi orang pesantren pasti tahu penulisan yang benar seperti apa,” ujarnya.

Dia meminta SKPD memperbaiki tulisan arab tersebut, agar sesuai dengan kaidahnya. Selama belum dipersiapkan anggarannya, maka tulisan itu harus dihapus. “Ya selama belum ada anggaran, lebih baik dicopot semua,” katanya.

Akademisi Tasikmalaya Dr Acep Zoni Saeful Mubarok MAg mengapresiasi upaya Pemkab memasyarakatkan Arab Pegon. Karena selama ini hanya lingkungan pesantren dan kelompok-kelompok tertentu yang mengenal tulisan tersebut. “Niatnya sangat bagus dan sangat saya apresiasi,” ujarnya.

Akan tetapi, menurut dosen Pendidikan Agama Islam Unsil itu, dia menyesalkan penulisan yang tidak didasari oleh ilmunya. Karena idealnya Pemkab berkonsultasi dengan beberapa ahli, khususnya di pesantren. “Seharusnya sebelum niat baik itu dilaksanakan, ada kajian dan dikonsultasikan dengan orang yang berkompeten,” katanya.

Loading...

Sepakat dengan KH Irvan, Acep juga meminta Pemkab melalui masing-masing SKPD memperbaikinya. Supaya benar-benar mengedukasi masyarakat yang belum mengenal tulisan Arab Pegon. “Di Kabupaten Tasik kan ada beberapa perguruan tinggi Islam, tidak akan sulit mencari orang untuk diajak berkonsultasi,” katanya.

Meskipun tulisannya menggunakan huruf arab, tambah dia, namun Arab Pegon bukan berasal dari negara Arab. Tulisan tersebut merupakan mahakarya ulama nusantara ketika Islam masuk ke Indonesia. “Jadi ini (Arab Pegon, Red) merupakan hasil karya ulama kita dan khas nusantara, bukan khas arab,” pungkasnya.

Akademisi Tasikmalaya lainnya, Ilam Maolani mengusulkan supaya Pemkab bukan menggunakan tulisan Arab Pegon dalam papan nama kantor SKPD. Dia lebih setuju jika yang dibubuhkan adalah terjemahan nama dinas dalam bahasa arab. “Misalnya dinas sosial, bahasa arabnya apa,” katanya.

Menurutnya, hal itu akan memiliki nilai edukasi terjemah bahasa untuk masyarakat. Sehingga pengetahuan masyarakat bisa bertambah. “Saya yakin jika itu dilakukan, minimal menambah ilmu pengetahuan Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab,” pungkasnya

Warganet Bereaksi

Setelah pemberitaan terkait tulisan arab di papan nama kantor Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, warganet ramai memberikan komentar. Mereka mendesak Pemkab segera memperbaiki tulisan tersebut.

Beberapa akun facebook tampak membagikan tulisan berita itu baik melalui link berita online, pun foto halaman depan Harian Radar Tasikmalaya edisi 24 Juni 2019 itu. Berbagai komentar dituliskan warganet yang menilai bahwa kekeliruan tersebut cukup memalukan.

Seperti halnya komentar dari akun Muhlis Muhtar Tohir yang sudah menduga ada salah dalam tulisan arab tersebut. “Ternyata dugaan hati kecil saya benar tulisan nya gak bener 🙂 , entah madzhab mana yang di ambil hehe,” tulisnya.

Kekeliruan tersebut dianggap warganet telah mencederai Tasikmalaya yang kaya akan pesantren. “Ngerakeun pisan ih…,” kata akun Muhammad Irfan Helmy.

Warganet lainnya menilai, dalam hal ini SKPD cenderung ceroboh. Pasalnya tulisan tersebut tidak mengacu kepada kaidah Imla Arab Pegon. “Mungkin dari Google itu haha,” tulis akun MHasan Al Asy Ari.

Akun Alifah mengatakan kekeliruan ini harus sesegera mungkin diperbaiki. Anggaran yang dikeluarkan tampaknya tidak sesuai dengan hasil yang didapat. “Secepatnya harus diperbaiki… ! Nilai oyeknya begitu fantastis, namun tak sesuai kinerjanya ??????,” katanya.

Terpisah, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya mengaku tidak mengetahui adanya kaidah dalam penulisan arab di papan nama kantor Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

Kepala Bagian (Kabag) Hukum Setda Kabupaten Tasikmalaya Azis Priyadi SH menjelaskan awal mula pembuatan tulisan arab tersebut sejak tahun 2017. “Untuk anggarannya dialokasikan masing-masing SKPD masing-masing, yang membuatnya merupakan tim ahli bahasa yang disiapkan pemerintah,” ujarnya kepada Radar, Senin (24/6).

Tujuan nama kantor SKPD ditulis bahasa arab, kata dia, untuk mengenalkan kearifan lokal Kabupaten Tasikmalaya. ”Memang itu inisiatif bupati terdahulu (H Uu Ruzhanul Ulum, Red), agar memasyarakatkan bahasa arab,” ungkapnya.

Azis mengakui jika pegawai pemerintahan dan pihak yang ditugaskan dalam proyek pembuatan tulisan arab di SKPD tidak mengetahui soal kaidah Imla Arab Pegon. “Makanya ada tim yang dibentuk dan ditugaskan Pemkab berkonsultasi. Jadi kalau soal kaidah (penulisan) pemerintah tidak tahu,” paparnya.

Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Tasikmalaya H Demi Hamzah Rahadian SH MH mengungkapkan jika tulisan arab di papan nama SKPD tidak sesuai kaidah, pihaknya meminta Pemkab melakukan evaluasi. ”Dewan meminta dikaji dan dievaluasi kalau memang benar tulisan-tulisan tersebut dari sisi ilmu penulisan kaligrafi tidak sesuai kaidah,” ungkap Demi.

Dia berharap pemkab dalam mengeluarkan setiap kebijakan atau pembuatan program-program termasuk tulisan yang saat ini menimbulkan polemik lebih matang dan benar-benar mengkaji. “Jangan sampai, anggaran negara yang dipergunakan menjadi program atau proyek yang sia-sia atau manfaatnya kurang dirasakan masyarakat,” tandasnya. (rga/dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.