PUPR Harus Berani Blacklist Pengembang Gedung Tulip RSUD Kota Tasik, Jika..

274
0
Loading...

TAWANG – Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya menegaskan, pengembang pembangunan gedung rawat inap RSUD dr Soekardjo khususnya yang mengerjakan Gedung Tulip harus segera menuntaskan berbagai perbaikan fasilitas dan kekurangan yang belum lengkap.

Jika tak bisa tepat waktu maka menurut wakil rakyat itu pengembang proyek tersebut harus di-blacklist oleh Dinas PUPR karena kerjanya tidak profesional dan meninggalkan banyak Pekerjaan Rumah (PR).

“Ya (harus di-blacklist, Red) oleh PUPR jika pengembang tak bisa memperbaiki hingga masa pemeliharaan habis,” tegas Ketua Komisi III, H Heri Ahmadi kepada radartasikmalaya.com usai sidak ke Ruang Tulip RSUD, Senin (1/7).

Dalam sidak ini, Heri didampingi Wakil Ketua Komisi III, H Ate Tahjan, dan Anggota Komisi III, Bagas Suryono serta Wahid. Para wakil rakyat ini melihat langsung kondisi Gedung Tulip dari lantai paling atas hingga paling bawah.

Mereka juga meninjau kondisi bangunan yang belum lengkap fasilitasnya ini dan diduga bermasalah karena tak sesuai desain serta standar user, yaitu pihak RSUD dr Soekardjo. “Ini harus segera dibenahi. Banyak masalah yang kami temui dan lihat langsung,” tegasnya.

“Jadi pihak pengembang harus segera membenahi semua masalah di gedung baru ini. Mulai dari masalah di lantai atas sampai di ruangan pasien. Sebelum masa pemeliharan habis pada tanggal 9 Juli ini,” sambungnya.

Dia menjabarkan berbagai masalah yang didapati pihaknya. Antara lain ruang isolasi tidak ada sirkulasi udara, mesin lift makanan, bongkar lift makanan salah lubang, instalasi pipa air panas harus sesuai speknya, pembuangan air kotor dan bersih, plafond ada rembesan air dan lain sebagainya.

Loading...

Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tasikmalaya, Adang Mulyana, angkat bicara soal dugaan banyak masalah di ruang Tulip yang merupakan gedung baru RSUD dr Soekardjo yang telah dipergunakan pasien rawat inap dan masa pemeliharaannya akan segera habis dalam hitungan jari.

Kata dia yang ditemui radartasikmalaya.com sebelum menghadiri pelantikan pengurus Persikotas di Balekota, Kamis (27/6), masa pemeliharaan gedung itu adalah 6 bulan.

“Mungkin sudah dicek oleh pihak RSUD dan dari kita mana yang masih kurang serta perlu sentuhan perbaikan,” paparnya.

Secara teknis berbagai kekurangan yang diduga menjadi masalah di gedung baru itu, terang dia, akan terus intensif diperiksa pihaknya agar segera dilakukan berbagai perbaikan.

“Pada intinya terima kasih adanya berbagai temuan itu dan akan kita terus periksa, agar segera dilengkapi kekurangannya,” terangnya.

Disinggung apakah bangunan baru itu ada dugaan kesalahan desainnya, dia ogah berkomentar lebih panjang. “Kalau soal itu (kesalahan desain, Red) saya tak bisa komentar. Yang saya tahu soal kebocoran pipa saja. Dan kita hanya tim teknis,” katanya.

“Tapi memang dalam hal ini yang masih kurang itu adalah kewajiban pengusaha atsu pengembangnya untuk seger memperbaikinnya. Lalu yang soal itu (kesalahan desain) ada di manajemen konstruksi. Dan kita telah sesuai tofuksi intinya dalam ini untuk melakukan berbagai perbaikan kekurangan,” sambungnya.

Sekadar diketahui, munculnya genangan air di Gedung Tulip RSUD dr Soekardjo pekan lalu, ternyata bukan merupakan kali pertama terjadi. Sebab kini telah diketahui itu akibat adanya tata letak atau desain yang tak tepat dalam penempatan torn di bagian atap gedung.

Hal itu diungkapkan Kuasa Hukum RSUD, Taufik Rachman setelah pihaknya melakukan penelusuran dan upaya klarifikasi terhadap sejumlah petugas di rumah sakit. Menurutnya dari keterangan petugas cleaning service, kepala lantai 2 dan 3 gedung, kebocoran air bukan pertama kali terjadi.

“Ternyata, Mei lalu juga sudah ada laporan dari pihak gedung terhadap
rumah sakit, supaya diperbaiki. Ada rembesan air pada dinding gedung, area lift dan genangan di toilet ruang rawat inap,” katanya kepada RadarTasikmalaya.com, Rabu (26/6).

Keterangan lainnya, terang dia, ada beberapa rembesan di bagian dinding gedung lantai 2. Termasuk ada beberapa instalasi kelengkapan gedung yang belum selesai.

“Seperti perangkat bel pasien untuk memanggil suster jaga. Itu lantai 2 kemarin belum diperbaiki. Padahal gedung beroperasi sudah sekitar 2 bulan. Kemudian pada lantai 3 juga belum beroperasi bel itu,” terangnya.

Tidak hanya itu, petugas instalasi teknis rumah sakit turut dipanggil untuk dimintai keterangan. Diketahui tangki penampungan air kerap luber, ketika air terisi penuh. Sebab, torn air tidak berfungsi secara otomatis melainkan dihidup-matikan secara manual melalui stop kontak.

“Kondisi dinding penampungan tangki air juga sudah pada retak. Padahal dibalik dinding itu ada panel listrik dan tentu bisa fatal apabila bocor atau ambruk,” bebernya. (rez)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.