Pupuk Oplosan dari Batu Karang

306
0
Asep Kuswara

Digiling, Dibuat Mirip Pupuk NPK
Ada-ada saja. Tersangka CVA (30), menjadikan batu karang menjadi bahan membuat pupuk oplosan. Perusahaan miliknya, CV Azka Tani, menggiling material tersebut menjadi butiran-butiran kecil lalu mencampurnya dengan cat pewarna agar warna pupuk oplosannya kecoklatan, mirip pupuk asli seperti pupuk Nitrogen Posfor Kalium (NPK).
Kepala Seksi Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) dan Sarana Produksi Pertanian Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Tasikmalaya Asep Kuswara menyebutkan pupuk oplosan yang disita polisi di Desa Pasirsalam, Mangunreja, Kamis lalu selintas mirip pupuk Nitrogen Pospor Kalium (NPK). “Batu karang yang digiling jadi kecil. Ditepungkan dimiripkan seperti pupuk NPK,” ujar Asep saat diwawancara Radar di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya Senin (13/11).
Soal hasil uji laboratorium kandungan pupuk oplosan di Mangunreja, kata Asep, sampai kemarin (13/11) masih belum keluar hasilnya. Uji lab yang dilakukan Laboratorium Agro Kimia Lembang Bandung akan keluar minggu ini. “Nanti hasil lab-nya bisa keluar Jumat (17/11). Nanti hasil uji labnya disampaikan ke penyidik Polsek Singaparna,” ujar Asep saat diwawancara Radar di Kantor Dispertan Kabupaten Tasikmalaya, kemarin (13/11).
Menurut Asep, CV Azka Tani, milik tersangka CAV, di Mangunreja yang mengoplos dan membuat pupuk sudah dipastikan tidak memiliki izin edar dari Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya. “Jadi ilegal. Termasuk oplosan karena ada kandungan Zulfat Almunium (ZA) dicampur bahan lain seperti kapur, cat pewarna dan garam,” paparnya.
Tersangka CVA, ungkap Asep, menakar komposisi pupuknya tidak sesuai perhitungan kadar yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Jadi inisiatif sendiri membuat pupuk tanpa ada perhitungan takaran yang benar. ”Kandungan ZA dalam pupuk itu sekitar 22 persen, dia (tersangka, Red) lebih banyak mencampur ZA-nya,” terang dia.
Efek terhadap tumbuhan, jelas dia, sudah pasti akan memperlambat pertumbuhan tanaman karena takaran komposisinya tidak benar. “Jadi untuk tumbuhan tidak ada artinya, menghambat pertumbuhannya,” jelasnya.
Bahkan kapur yang dipakai campuran pupuk oplosan karya CVA, terang Asep, jenis kapur mati. Bukan kapur pertanian yang biasa digunakan untuk pertanian agar PH tanah stabil. Produk pupuk oplosan ini baru dijual ke Singaparna, Leuwisari dan Rancah Pangandaran. “Jadi hanya ada di wilayah tersebut, tiga bulan produksi 10 ton. Kalau dibagi tiga hanya 3 ton di satu daerah beredarnya,” jelasnya.
Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya ditahun 2017 ini, kata dia, baru menemukan satu kasus pupuk yang dioplos di Mangunreja. “Jadi tidak ada kasus lain,” ujarnya. (dik)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.