Purwanto Korban Selamat Tsunami Banten, Terseret Gulungan Ombak Satu Kilometer

35
SELAMAT DARI MAUT: Walikota Depok, Mohammad Idris menjenguk korban selamat tsunami Banten, Slamet Purwanto (48) di RS Puri Cinere Depok

DEPOK – Salah satu peserta family gathering PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Barat, Slamet Purwanto (48) ditemukan selamat setelah digulung tsunami yang menghantam pantai Tanjung Lesung, Banten, Sabtu (22/12/18) malam.

Slamet merupakan staf pemeliharaan Gardu Induk PLN UIT JBB, yang sedang mengabadikan penampilan grup band Seventeen sebagai bintang tamu di acara gathering tersebut. Kepada Radar Depok (Pojoksatu.id Group), Slamet mengaku kejadian yang ia alami begitu cepat.

Gulungan ombak tsunami menyeretnya sejauh satu kilometer ke tengah pantai Tanjung Lesung. Ia sempat tenggelam, hingga akhirnya terbangun karena mendengar suara anak ketiganya, Afdan Latif (13).

“Ayah.. bangun ayah.. bangun..” suara itu membuat Slamet tersadar dan berusaha menyelamatkan diri. “

Tiba-tiba saya sudah di tengah laut, karena pingsan saya enggak ngerasain sakit. Lihat kanan-kiri ada balok sama papan, saya coba meraih itu,” ucap Slamet yang ditemui Radar Depok (Pojoksatu.id Group) di RS Puri Cinere, Senin (24/12).

Setelah berhasil naik ke permukaan, Slamet dibuat merinding. Di sekitarnya terdapat sejumlah jasad yang sudah mengapung dan tak dikenali. Warga Ciganjur ini semakin ketakutan, dalam suasana gelap gulita ia mendengar teriakan minta tolong. Hingga suara tersebut menghilang begitu saja ditelan deburan ombak.

“Di kiri kanan saya ada mayat, banyak yang minta tolong juga. Saya mencoba mendekati salah satu suara itu, ternyata perempuan lagi pegang balok yang mengambang,” kata Slamet.

Spontan saja Slamet tanya nama, dan perempuan itu mengaku bernama Vira. Diketahui, Vira merupakan salah satu anggota Event Organizer di acara family gathering PLN.

“Saya sodorkan papan balok itu ke dia, lalu berenang sambil dorong balok itu biar sampai daratan,” tuturnya.

Namun, perjuangan menyelamatkan diri mereka tak berjalan mulus karena gelapnya laut, sehingga tak tahu arah mana yang dituju untuk mencapai daratan. Beruntung pancaran sinar lampu dari satu bangunan berhasil menuntunnya ke arah darat dan selamat meski menderita sejumlah luka cukup parah di bagian kaki dan wajah.

“Saya enggak tahu daratan di mana, cuma saya lihat di ujung ada sinar kelap-kelip. Saya yakin itu daratan jadi saya ikuti. Saya harus ke sana,” lanjut Slamet.

Slamet kini terbaring lemah di kamar 529 RS Puri Cinere Depok bersama belasan pegawai PLN UIT JBB lainnya yang dirawat. Kepala Bagian Humas RS Puri Cinere, Widya Karmadiyanti menyebutkan, jumlah pegawai PLN UIT JBB yang masih rawat inap sampai sekarang yaitu 18 orang.

Tetapi, jumlah ini kemungkinan bisa bertambah. Mengingat family gathering PLN diikuti 201 pegawai. Hingga kini pemerintah masih terus berupaya melakukan pencarian korban.

“Dari 43 korban itu datangnya bertahap, dan sebagian sudah dibolehkan pulang. Hari ini hingga beberapa hari ke depan kami tetap siaga, bila ada korban yang menyusul,” ujar Widya kepada Radar Depok.

Dari 18 orang yang masih dirawat, lima di antaranya menderita patah tulang dan sudah dioperasi. Tidak hanya itu, RS Puri Cinere juga memberikan pendampingan Psikologis kepada korban dan keluarga yang trauma.

Tidak hanya itu, para korban di RS Puri Cinere dijenguk oleh Walikota Depok, Mohammad Idris yang didampingi Kapolresta Depok, Kombes Didik Sugiarto, dan jajaran pengurus PLN.

Tidak hanya itu, para korban di RS Puri Cinere dijenguk oleh Walikota Depok, Mohammad Idris yang didampingi Kapolresta Depok, Kombes Didik Sugiarto, dan jajaran pengurus PLN.

“Gimana kabarnya pak, sudah membaik?” tanya Idris kepada Senior Manager Konstruksi UIT JBB Frans Lisi (53) yang menderita patah tulang dan luka lecet di kepala serta kaki.

Kepada walikota, Frans mengaku waktu kejadian ia sedang menyaksikan grup band Seventeen hingga ombak menerpa panggung dan menyeret ratusan orang ke pantai Tanjung Lesung.

Frans yang masih terbaring lemah menuturkan tak mendengar suara debur ombak. Karena kejadian yang merenggut ratusan nyawa melayang ini terjadi sangat cepat.

”Waktu ombak datang itu enggak ada suara-suara berisik gitu, tiba-tiba ombak datang dan menghancurkan panggung. Saya sama yang lain terseret juga. Untungnya masih selamat,” jelas Frans.

Walikota Depok, Mohammad Idris Mohammad Idris menyampaikan turut berbela sungkawa kepada para korban tsunami khususnya warga Kota Depok. Tak hanya itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok ikut serta memberikan bantuan kemanusiaan untuk mengevakuasi korban tsunami di Banten.

“Saya instruksikan kepada PMI dan juga Pemadam Kebakaran Kota Depok untuk mengirimkan satu kendaraan operasional, satu ambulans dan 12 personel untuk berperan aktif membantu evakuasi korban tsunami. Bantuan itu berangkat hari ini (24/12) untuk membantu melakukan proses evakuasi di lokasi bencana,” jelasnya.

Sebelumnya, ucap Mohammad Idris, pihaknya juga sudah mengirimkan satu ambulans, serta empat personel PMI Kota Depok ke lokasi terjadinya tsunami di Banten. Pemkot Depok mengharapkan, dengan bantuan kemanusiaan itu dapat mempermudah pencarian para korban yang masih hilang.

(RD/rub/pojokjabar)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.