Putu Wijaya Kagum dengan Geliat Seni Tasik

45
PUNCAK ACARA. Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman dan Putu Wijaya (di kursi roda) bersama para pengurus DKKT pada puncak acara Festival Putu Wijaya di GKKT, Selasa (4/12) malam.

DADAHA – Drama itu bukan hanya sekadar hiburan. Tetapi sebuah investasi kultural untuk jangka panjang. Tidak bisa dinilai saat ini. Tidak bisa dinilai dengan uang. Tapi hanya bisa dirasakan.

Hal tersebut diungkapkan sang maestro Putu Wijaya usai melaksanakan pidato kebudayaan pada penutupan Festival Putu Wijaya yang dilaksanakan Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya (GKKT), Selasa (4/12) malam.

“Para penonton yang datang kemari tertawa, tersenyum. Tetapi sebetulnya ketika pulang, membawa sesuatu di dalam hatinya. Apa yang terjadi di pentas memang penting. Tapi yang lebih penting lagi apa yang terjadi dalam pikiran mereka ketika sampai di rumah, atau besoknya, atau setahun kemudian, atau ada yang sepuluh tahun kemudian,” terang budayawan dan seniman bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya ini.

Putu Wijaya sangat terharu dengan geliat kesenian di Kota Resik yang diwadahi oleh DKKT. Para penonton datang berbondong-bondong untuk menonton pertunjukan teater di GKT. “Hujan turun, tapi tidak menghentikan mereka untuk datang.

Saya sungguh terharu. Ini sebuah kekayaan yang harus dipupuk. Mudah-mudahan ini bisa berlangsung terus. Sehingga pemberian pengalaman batin itu datang dari kota-kota kecil,” ungkap sastrawan kelahiran Puri Anom Tabanan, Bali, 11 April 1944 ini.

Kota Tasik, kata dia, bisa menjadi contoh bagi kota-kota besar seperti Jakarta —yang masyarakatnya super sibuk dengan urusan pekerjaan dan mencari kedudukan— bahwa dari drama pun bisa belajar sesuatu. Dia juga mengapresiasi seniman-seniman muda yang mementaskan karya-karya lawasnya dengan gaya kekinian.

Mereka tidak hanya bersenang-senang. Tetapi berpikir, peka dan tahu akan menghadapi tantangan yang sulit di masa depan. “Karena itu mereka harus pintar. Mereka harus mengisi pikirannya dan mengajak teman-temannya untuk lebih ngeuh lagi, lebih sadar lagi terhadap lingkungannya. Bukan fokus terhadap satu titik. Tapi 365 titik,” papar Putu.

Dalam kesempatan itu, Putu Wijaya juga berbicara mengenai kondisi teater Indonesia saat ini. Menurut dia, sekarang, teater Indonesia tengah membangun pasar dan network.

Teater itu membutuhkan waktu lama untuk latihan. Kadang-kadang tiga bulan hingga enam bulan. Tapi cuma dipentaskan hanya satu hari, dua hari atau tiga hari. Sayang sekali. Maka dari itu, perlu ada pengembangan jaringan. “Di mana pertunjukan mereka dimainkan di mana-mana. Dan itu sudah dimulai sekarang. Itu bagus sekali,” ujarnya.

Putu Wijaya juga berpesan kepada seniman-seniman muda Tasikmalaya untuk memperkuat seni tradisi kearifan lokal. Jangan terlalu terpesona oleh kemilau barat.

Untuk menjadi kebarat-baratan itu tidak mungkin. “Kultur kita sudah lain. Latar belakang kita sudah lain. Tradisi kita dilupakan. Sementara orang barat datang ke kita, mengambil tradisi kita. Dipelajari. Dan kita belajar tradisi kita dari barat. Itu sayang sekali,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman menilai Festival Putu Wijaya sangat luar biasa. Apalagi bisa menghadirkan Putu Wijaya sebagai ahli teater Indonesia. Banyak karya tulis berupa novel, naskah drama, cerita pendek (cerpen), esai dan lain sebagainya yang dibuat Putu Wijaya.

Dia berharap keberadaan Putu Wijaya ini bisa menjadi motivasi para budayawan dan seniman Tasikmalaya. “Dan seni budaya ini bisa hadir di tengah-tengah masyarakat Kota Tasikmalaya,” terang dia. (ujg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.