PVMBG Belum Bisa Simpulkan Penyebab Pergerakan Tanah

5
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melakukan penelitian pergerakan tanah di bantaran sungai Desa Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Selasa (27/11).

CIREBON – Menindaklanjuti pergeseran tanah yang menyebabkan tiga rumah ambruk di Desa Ciwaringin beberapa pekan lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), melakukan penelitian pergerakan tanah di bantaran Sungai Desa Ciwaringin, Selasa (27/11).

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon H Dadang Suhendra mengatakan, pada saat itu, pihaknya masih menunggu rekomendasi dari vulkanologi terkait kajian tersebut.

“Karena kita tidak berbicara secara kasat mata. Secara rinci saya masih menunggu rekomendasi dari vulkanologi untuk kita sampaikan dan tindaklanjuti, baik oleh pemerintah daerah maupun BBWS. Intinya, kita menunggu kajian ini, hasilnya sekitar satu minggu,” ujar Dadang kepada para wartawan.

Dadang membeberkan, pergerakan tanah merupakan pergerakan tipe rayapan. Pergerakan itu terjadi secara lambat dan berlangsung pada saat curah hujan yang tinggi.

Penyebabnya dimungkinkan karena beberapa faktor. Seperti, kemiringan lereng yang curam, batu di sekitar sungai yang berjenis lempung pasiran, kondisi bantaran sungai, pembebanan adanya jalan dan curah hujan yang tinggi.

Untuk mengetahui situasi secara keseluruhan dan dampak dari pergeserahan tanah tersebut, lanjutnya, pemetaan dilakukan menggunakan kamera drone.

Hasilnya, terlihat empat rumah yang berdampak. Selanjutnya, akan diteliti oleh Badan Vulkanologi dan dikirimkan ke BPBD sebagai bahan rekomendasi kepada pemerintah daerah atau Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Dikatakan Dadang, aliran air sungai yang berbelok, menyebabkan struktur tanah menjadi mengembang apabila terkena hujan.

Sehingga membuat tanah di atasnya terjadi getaran dan berdampak pada rumah di sekitar dan juga jalan di atasnya. Karena itu, harus diantisipasi oleh BBWS dan harus dibronjong.

“Atau sedimentasi dikeruk, kemudian dinormalisasi aliran sungainya. Nanti kita komunikasikan dengan BBWS setelah menerima rekomendasi,” ujarnya.

Staf Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Widia mengatakan, pihaknya akan melakukan kajian lebih lanjut terkait hal tersebut. Kajian dilakukan dengan mengecek kondisi sungai dan pergerakan tanah yang terjadi.

“Harus dipelajari terlebih dahulu. Kami tidak bisa menyimpulkan sekarang,” ujarnya. (ade-mg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.