Rampas Rezeki Kartu Perdana

230
0
RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA PROTES. Pengusaha outlet seluler yang tergabung dalam Teman Outlet Priangan Timur (TOPT) memasang spanduk aspirasi di Kantor Kominfo, Jumat (16/3).
Loading...

TASIK – Para pengusaha outlet seluler di Kota tasikmalaya memprotes kebijakan pemerintah tentang pembatasan tiga kartu subscriber identity module (SIM) untuk satu Nomor Induk KTP (NIK). Kebijakan tersebut dinilai mencekik para pedagang kecil yang mencari nafkah dari kuota kartu perdana.
Pedagang yang tergabung dalam Teman Outlet Priangan Timur (TOPT) itu mendatangi Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Tasikmalaya, Jumat (16/3). Namun, karena mereka datang sore, perkantoran sudah sepi. Mereka pun akhirnya hanya menempelkan spanduk aspirasi di lokasi tersebut.
Ketua TOPT Hermansyah menjelaskan pihaknya sepakat dengan kebijakan pemerintah soal pengisian data diri yang sesuai Nomor Induk KTP (NIK) serta Kartu Keluarga (KK) pada registrasi kartu perdana. Akan tetapi tidak dengan aturan pembatasan tiga kartu.
“Harusnya tidak perlu dibatasi. Asal datanya sesuai dengan identitas,” ungkapnya.
Menurutnya, hal itu memberikan kesulitan kepada pengusaha outlet yang mengandalkan penjualan kartu perdana kuota. Hal ini berimbas kepada penghasilan yang menurun drastis. “Kalau kuota biasa kan harganya mahal, beda dengan kartu perdana kuota,” tuturnya.
Komunitas yang berada di bawah naungan Kesatuan Niaga Celluler Indonesia (KNCI) itu berharap pemerintah bisa mengevaluasi kebijakan soal aturan registrasi kartu pra bayar. Pasalnya, sebelumnya sudah ada janji dari pemerintah untuk tidak membatasi penggunaan NIK pada registrasi kartu. “Kalau begini pemerintah sudah mengingkari janjinya,” tuturnya.
Hari senin 19 Maret, rencananya mereka juga akan melakukan audiensi ke kantor DPRD. Selain itu, ada juga rencana aksi susulan yang serentak dilakukan di berbagai daerah se-Indonesia. “Kita tunggu informasi dari KNCI bagaimana langkah ke depannya, akan tetapi akan ada aksi lagi jika aspirasi kami tidak didengar,” tutur dia. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.