REALITAS POLITIK

1460
0
Oleh Asep M Tamam

Politik adalah perang yang dingin. Sementara perang, ia adalah politik yang panas. Demikian menurut Ernest Renan, seorang sastrawan, filolog, filsuf dan sejarawan Prancis (1823-1892 M). Teori Renan cukup menarik bagi kita jika menyimak dan mengikuti detail dialektika politik massa di Indonesia. Bukan kali ini saja, perebutan kepentingan dan wacana kekuasaan dengan suhu hangat-hangat panas sudah menjadi tradisi sosial politik sejak lama.

Sebagai negara yang mengusung konsep demokrasi, politik di Indonesia sangat dinamis. Partisipasi rakyat dalam berpolitik cukup tinggi. Event-event politik tak luput dari haru biru masyarakat untuk tak ketinggalan meramaikannya. Dalam skala tertentu, bahkan politik benar-benar telah menjadi seperti kebutuhan pokok masyarakat di mana segala masalah dikaitkan dengan politik. Bahkan lebih dari itu, keberpihakan berpolitik, keberpihakan memilih pilihan politik bisa mengalahkan nilai-nilai kekeluargaan dan afiliasi organisasi.

Namun demikian, demokrasi di Indonesia masih sehat. Indonesia berada di garis tengah antara negara-negara yang ada di dunia. Politiknya tak panas, tapi juga tak dingin. Perdebatan politik tak sampai berdarah-darah. Di belahan bumi lainnya, ada negara yang terus mengalami konflik internal hingga terjadi perang di antara sesama warga negara. Sesama saudara saling membunuh dengan senjata. Sementara itu, ada pula negara-negara lain yang berada di level kehidupan yang aman, nyaman, damai, dan sejahtera. Fokus warga pada pembangunan, pada upaya peningkatan kesejahteraan, juga pada pengembangan dan peningkatan taraf kehidupan ekonomi, sosial, budaya, juga pendidikan. Indonesia berada di antara dua tipologi negara-negara ini.

MEMAHAMI POLITIK

Ada yang rancu ketika kita memahami dan mengajarkan politik hanya sebagai ajang meraih kemenangan. Politik melulu dikenalkan kepada rakyat sebagai ajang mengalahkan lawan.

Memahamkan politik perlu dilakukan dengan mengajarkan bahwa dalam politik tak ada draw. Politik juga tak mengajarkan ‘hampir’ menang. Kalau tidak menang, ya kalah. Kalau tak kalah, ya menang. Jika memahamkan politik sebagai ilmu, atau seni untuk menang, maka rakyat tak akan siap untuk kalah. Jika rakyat tak siap untuk kalah, maka akan banyak narasi yang berkembang, di antaranya narasi kecurangan.

Realitas politik hadir dan menjadi kisah panjang dalam sejarah perhelatan kehidupan manusia. Di seluruh negara di dunia, proses pemilihan pemimpin negara berlangsung panas, terutama jika pasangan calon pemimpin hanya dua. Demikian adanya, pemilihan pemimpin hingga skalanya yang paling rendah, tak luput dari riuh rendah masyarakat pemilih. Sungguh, pesona jabatan sungguh memikat.

REALITAS INDONESIA

Situs resmi Vision of Humanity, Rabu (19/6/2019) mengeluarkan penilaian tahunan Global Peace Index. Ada sejumlah negara yang dianggap paling aman dan damai. Islandia misalnya, yang menjadi juara bertahan 3 tahun belakangan di posisi pertama. Selanjutnya, disusul dengan Selandia Baru yang juga jadi juara bertahan posisi ke-2. Kemudian, disusul dengan Portugal yang naik 2 peringkat dan Austria di posisi ke-4.

Indonesia, negara kita tercinta, masuk ke dalam daftar dari total 163 negara yang ditilai. Ternyata, Indonesia berhasil menduduki posisi ke-41. Posisi ini naik pesat 14 peringkat dari tahun sebelumnya, 2018, yakni posisi ke-55.

Rilis Vision of Humanity ini cukup mengejutkan. Sejauh ini, kita melihat dan menyaksikan keterbelahan masyarakat dalam euforia sosial politik begitu hangatnya. Setiap hari rakyat saling mengumpat, mem-bully, mencemooh, bahkan memfitnah. Kebencian kadang sampai di puncak ubun-ubun. Kebencian ditumpuk dan sengaja disebar lewat media sosial. Banyak pihak terperangkap ucapannya sendiri. Banyak orang dilaporkan dan dimasukkan penjara.

Tapi, rilis di atas menurut saya sangat positif bagi kehidupan sosial politik di Indonesia. Jika kita telaah dan telusuri lebih lanjut, dialektika publik hanya sebatas retorika. Perpecahan hanya di media sosial saja. Cuaca panas politik tak sampai mencipta badai peperangan. Tak ada dendam membara. Tak ada darah menetes. Jika pun kemarin ada yang meninggal karena politik, tak ada hubungannya dengan perseteruan dua kubu.

Jika realitas politik meniscayakan adanya pihak yang menang dan kalah, maka realitas politik Indonesia mengabarkan sesuatu yang lumrah, berpolitik dengan dinamis, hangat sedikit sebagai sebuah kemestian. Realitas Indonesia sebagai negara demokrasi menyuguhkan fenomena tentang politik sebagai perang yang dingin.

Seluruh elemen masyarakat harus memiliki tanggung jawab menjaga Indonesia dengan segala kompleksitasnya. Sebagai negara dengan tingkat kedamaian yang membanggakan ini, harus dijadikan modal untuk kemajuan lebih lanjut. Indonesia, siapa pun presidennya harus lebih maju dan menyejahterakan. (*)

*Pengamat sosial, politik dan pemerintahan

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.