Regenerasi Sulit Dipaksakan

6
MENUNJUKKAN. Pengusaha kerajinan anyaman Rajapolah H Zaenal Muttaqin menunjukkan tas produksinya yang siap dikirim ke luar negeri Kamis (27/9).

SINGAPARNA – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tasikmalaya mengklaim sudah optimal memberikan perhatian terhadap kerajinan di Kecamatan Rajapolah. Termasuk untuk mencetak regenerasi perajin anyaman yang berbahan baku bambu, mendong dan pandan ini.

Kepala Bidang (Kabid) Industri Agro Disperindag Kabupaten Tasikmalaya Drs Amir Subyana MM menjelaskan berbagai program dan kegiatan sudah dioptimalkan sebagai bentuk perhatian kepada kerajinan Rajapolah.

Akan tetapi, soal regenerasi perajin ini memang pihaknya tidak bisa memaksakan generasi muda untuk menggeluti dunia kerajinan. “Regenerasi perajin lebih didasarkan kepada minat masyarakat atau generasi muda itu sendiri. Mereka tidak bisa dipaksakan untuk bekerja sebagai perajin,” ujarnya kepada Radar, Kamis (27/9).

Memang diakui saat ini perajin di Rajapolah didominasi kalangan perempuan yang sudah berusia di atas 30 tahun. Karena perempuan lebih banyak di rumah, sehingga mempunyai waktu untuk bekerja sampingan menjadi perajin anyaman.

Kerajinan Rajapolah sudah menjadi budaya di masyarakat. Upaya yang sudah dilakukan Disperindag diantaranya memberikan pelatihan supaya para perajin mampu membuat kerajinan yang bisa bersaing dengan produk lainnya. Termasuk membantu dalam pemasaran serta manajerial.

Selain itu, untuk lebih maksimal harus ada pelatihan yang dimasukan kepada dunia pendidikan formal. Sehingga generasi muda mampu menekuni dan memahaminya hingga berminat menjadi perajin. “Ya masuk menjadi ekstrakurikuler muatan lokal,” terangnya.

Dengan berbagai upaya yang sudah dilakukan, lanjut dia, menunjukkan bahwa pemerintah benar-benar serius memperhatikan soal keberlangsungan kerajinan di Rajapolah. Walaupun kondisinya masih terbentur alokasi anggaran.

Staf Ahli Bupati Tasikmalaya Bidang Ekonomi dan Pembangunan Ir Safari Agustin MP mengatakan keberpihakan soal kerajinan sudah optimal. Baik itu dalam pelatihan, pembinaan termasuk menyediakan pasar untuk produknya hingga mempromosikan ke daerah lain. “Tapi untuk alokasi anggarannya masih sangat terbatas. Mengingat pemerintah masih memprioritaskan anggaran untuk pendidikan, infrastruktur dan kesehatan,” tandasnya.

Ke depan, kata dia, pihaknya akan terus berbenah dan memperbaiki kekurangan pada bidang kerajinan. Sehingga kerajinan yang sudah menjadi budaya di Rajapolah ini bisa terus berkembang.

H Zaenal Muttaqin, salah satu pengusaha kerajinan di Kampung Sukaruas Desa Sukaraja Kecamatan Rajapolah mengatakan minimnya regenerasi perajin salah satu faktornya dari orang tua. Mereka tidak mau anaknya hanya menjadi perajin dengan penghasilan yang tidak tentu.

“Perajin yang ada saat ini kebanyakan perempuan atau ibu rumah tangga. Mereka menekankan kepada anak-anaknya untuk tidak mengikuti jejak ibunya menjadi perajin. Melainkan disarankan untuk mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih menjanjikan,” ungkapnya. (obi/dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.