Regulasi Cukai Plastik Bakal Diloloskan DPR

21
ilustrasi

JAKARTA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) optimis pembahasan cukai plastik yang tengah digodok oleh dewan perwakilan rakyat (DPR) bakal diloloskan. Hal ini karena Indonesia sudah masuk darurat sampah plastik nomor dua setelah Cina.

Mengutip hasil penelitian Jambeck, 2015 tercatat Indonesia menempatkan urutan kedua setelah Cina sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut sebanyak 0,48-1,29 juta metrik ton per tahun. Sedangkan China di peringkat pertama mencatatkan angka 1,32-3,53 juta metrik ton sampah plastik yang dibuang ke laut.

Salah satu solusi untuk mengurangi sampah plastik yang sudah semakin parah, maka pemerintah akan mengenakan cukai kantong plastik.

Kepala Bidang Kebijakan Kepabeanan dan Cukai Nasrudin Joko Surjono mengatakan, cukai yang akan dikenakan untuk kantong plastik sebesar Rp 30.000 per kg atau sekitar Rp 200 per lembar.

Harga kantong plastik setelah cukai per lembarnya adalah Rp 450-Rp 500. Sebelumnya Asosiasi Ritel Indonesia telah mengenakan harga kantong plastik Rp 200 per lembar sejak 1 Maret 2019.

“Kami sudah mengkaji kebijakan ini sebelumnya dan sudah diterapkan juga di berbagai negara,” kata Nasrudin.

Menurut dia, bahwa kajian pengenaan cukai di Indonesia sudah selaras dengan yang dilakukan oleh negara-negara lain di dunia. Salah satunya, Denmark yang mengenakan cukai plastik Rp 46.768 per kg.

Dia menyebutkan, di Denmark pengenaan cukai plastik per kilogram sebesar Rp 46.768 sudah sejak 1998. selain Denmark, kata Nasrudin, negara lain yang mengenakan cukai adalah Afrika Selatan Rp 41.417 per kg, Taiwan Rp 84.239, Irlandia Rp 322.990 per kg, kemudian Wales Rp 85.534 per Kg.

“Untuk negara tetangga Indonesia, seperti Malaysia mengenakan cukai plastik sebesar Rp 63.503 per kg, Vietnam sedikit lebih murah yaitu Rp 24.793 per kg,” tutur dia.

Lanjut dia, Hongkong mengenakan cukai plastik sebesar Rp 82.534 per kg, Inggris mengenakan sebesar Rp 85.534 per kg, Kenya sebesar Rp 16.763 per kg lebih murah apabila dibandingkan dengan beberapa negara lainnya.

“Sementara Kamboja dan Filipina masing-masing mengenakan tarif cukup besar sekitar Rp 127.173 dan Rp 259.422 per kg,” ujar dia.

Kesempatan yang sama, Direktur Operasional Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia Felicia Sathrieyanti Natalia menyatakan, pihaknya mendukung kebijakan tersebut karena untuk mengurangi sampah plastik yang tidak ramah lingkungan yang baru dapat terurai 100 tahun lebih. (ds/din/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.