REI Bangun 5.000 Rumah Subsidi

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

TASIK – Masalah perizinan masih menjadi kendala dalam percepatan program sejuta rumah. Persoalan ini juga dialami para pengembang perumahan yang tergabung dalam REI (Real Estate Indonesia) Priangan Timur.

Sekretaris REI Priangan Timur H Indra Suhendra mengatakan di tengah lesunya bisnis properti, pihaknya meminta pemerintah daerah menerapkan regulasi perizinan yang lebih sederhana dan murah. “Pemerintah pusat sudah mengeluarkan berbagai kebijakan penyederhanaan izin properti, namun belum semuanya diimplementasikan di daerah,” kata Indra kepada Radar, kemarin (18/2).

Di antaranya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 64 Tahun 2016 bahwa pemerintah ingin mempercepat, mempermudah dan mempermurah perizinan untuk pembangunan rumah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Serta Permendagri Nomor 55 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Perizinan dan Non Perizinan Pembangunan Perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di daerah. “Dengan peraturan tersebut seharusnya proses perizinan bisa lebih cepat,” ujarnya.

Selain itu dalam PP No 34/2016 ini, Presiden Joko Widodo meminta kepala daerah melakukan perubahan Peraturan Daerah (Perda) tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah (BPHTB) untuk perolehan/pembelian Tanah dan Bangunan sebesar 5 persen menjadi 2,5 persen. Namun di daerah Tasikamalaya masih berlaku tarif 5 persen. “Program sejuta rumah kan peran terbesar ada di Pemda karena kecepatan izin menentukan, pembebasan lahan, dan bagaimana percepatan penyiapan infrastruktur induk seperti listrik dan air bersih. Itu semua ada di daerah,” tuturnya.

Pihaknya berharap Pemda lebih memahami spirit pusat tentang pentingnya program sejuta rumah. Sehingga, perizinan di daerah bisa lebih cepat dan cost-nya bisa ditekan. “Dalam waktu dekat REI akan mengadakan diskusi panel dengan pemda dan stakeholder untuk membuat suatu kesepakatan yang bisa menggeliatkan bisnis properti,” ujarnya.

Sebab, sambung H Indra, di awal 2018 ini bisnis properti di Priangan Timur belum menunjukkan lonjakan yang siginifikan. “Kita melihatnya masih abu-abu. Biasanya tiga bulan sebelum Ramadan penjualan properti bagus, tapi jelang Ramadan tahun ini belum terlihat riak-riaknya,” ujarnya.

Menurut Indra, ada keterlambatan daya beli masyarakat yang menyebabkan turunnya penjualan properti, sehingga saat ini banyak developer yang melakukan penghematan. “Kita berusaha survive dengan unit yang sudah ada, dan beberapa developer memutuskan untuk belum membuka proyek baru,” katanya.

Untuk tahun ini, kata ia, REI Priangan Timur berencana menyediakan sekitar 5.000 unit rumah subsidi, angka tersebut termasuk stok rumah tahun 2017. (na)

loading...