Rekor Dunia Lukisan Tertua

9
Usia lukisan yang ditemukan di dinding gua Sangkulirang-Mangkalihat mengungguli usia lukisan yang ditemukan di dinding gua kawasan Franko-Kantabria, Eropa dan Kabupaten Maros, Sulawesi, Indonesia.

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Maka Museum Rekor Dunia Indonesia menganugrahkan penghargaan rekor dunia lukisan tertua kepada lukisan tersebut.

Gua Kapur

Sejak tahun 1990-an para arkeolog dan geolog sudah menduga bahwa gua-gua kapur Sangkulirang-Mangkalihat memiliki perbendaharaan lukisan prasejarah.

Untuk menemukan sketsa satwa prasejarah itu, tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang terdiri dari para ilmuwan Institut Teknologi Bandung dan Universitas Griffith, Australia harus menerabas hutan rimba belantara di sudut timur Kalimantan kemudian merangkak sambil mengikat helm penambang dengan lampu di kepala masing-masing demi menerobos lorong gua berkepanjangan.

Mereka perlu menemukan endapan mineral khusus pada lukisan gua untuk menentukan usia dengan teknologi yang mengukur peluruhan unsur uranium.

Psikogeokultural

Sekitar 14.000 tahun yang lalu, para penghuni gua mulai secara teratur membuat sketsa figur manusia melakukan hal-hal seperti menari dan berburu, seringkali mengenakan penutup kepala yang besar.

Pulau Kalimantan masih terhubung dengan daratan Asia Tenggara ketika gambar figuratif pertama dibuat sekitar 40 ribu tahun lalu yang juga merupakan waktu homo sapiens hadir di Eropa.

Lukisan menampilkan sosok satwa paling awal di gua Prancis dan Spanyol dibuat sekitar 33.500 hingga 37.000 tahun yang lalu.

Apakah gelombang baru dari orang-orang yang bermigrasi dari Afrika membawa keterampilan lukisan gua figuratif dengan mereka, atau apakah seni ini muncul kemudian, masih belum jelas.

Goresan tertua buatan manusia di dinding gua paling awal telah ditemukan di Afrika yang diduga digoreskan pada sekitar 73.000 tahun yang lalu.

Penemuan arkeologis terbaru di Sangkulirang-Mangkalihat memicu polemik tentang apakah peristiwa di dalam lembaran sejarah peradaban manusia apa yang disebut sebagai evolusi juga secara psikogeokultural mendorong “ledakan kreatifitas manusia” pada waktu yang nyaris serentak bersamaan akibat perubahan iklim. [***]

Penulis adalah pendiri MURI dan pembelajar kebudayaan dunia.

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.