Relokasi Pasar & Terminal Singaparna Tasik Belum Jelas, Ini Kendalanya..

1376
0
MEGAH. Maket Pasar Singaparna yang rencananya akan dibangun di Cilampunghilir Kecamatan Padakembang terlihat megah, Selasa (11/8). RADIKA ROBI RAMDANI / RADAR TASIKMALAYA

SINGAPARNA – Relokasi Pasar dan Terminal Singaparna ke Jalan Ciawi-Singaparna Desa Cilampunghilir Kecamatan Padakembang belum jelas kapan akan direalisasikan. Pasalnya, jalan akses menuju lahan baru yang sudah dibeli belum dibebaskan.

Sampai saat ini, setelah beberapa tahun dilakukan pembebasan lahan untuk pasar dan terminal belum ada progres lagi.

Baca juga : Positif Covid-19 di Ciamis Tambah 1 Kasus, PNS yang Bertugas di Kota Tasik

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tasikmalaya berdalih lanjutan pembangunan masih menunggu pematangan lahan dan akses jalan masuk ke lahan baru yang sudah dibebaskan.

“Untuk pembebasan lahan untuk lokasi pasar seluas tiga hektare sudah selesai. Kita tinggal tunggu akses jalan masuk ke pasar dan pematangan lahan, setelah itu baru ke tahapan pembangunan,” ujar Agus Sutisna, kepala Bidang Pasar dan Informasi Harga pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tasikmalaya kepada Radar, Selasa (11/8).

Agus mengatakan, untuk relokasi pasar itu terdapat tahapan-tahapan sampai ke tingkat fisik. Kalo penyusunan dokumen, studi kelayakan, pengadaan tanah, penyusunan DED dan AMDAL sudah selesai.

Loading...

Kemudian pematangan lahan dan akses jalan masuk setelah itu selesai nanti usulan pembangunan fisik di atas lahan seluas tiga hektare.

“Untuk penyusunan DED pematangan lahan akan diusulkan pada tahun 2021 mendatang,” ujarnya, menjelaskan.

Jelas dia, saat ini untuk ketebalan lahan yang akan digarap mencapai 1,5 meter, karena lahannya masih merupakan pesawahan dan kolam ikan. Hanya untuk biaya pematangan lahan, berapa rupiahnya belum tahu persis.

“Sedangkan akses jalan masuk ke pasar itu sebetulnya bidang PUPR, karena akses jalan itu katanya bagian dari Jalan Lingkar Utara. Sepertinya akses jalan dulu yang akan dibangun, baru pematangan lahan,” kata dia.

Sementara itu, kata Agus, untuk pembangunan fisik membutuhkan biaya mencapai Rp 120 miliar.

“Jika tidak memungkinkan dalam jangka waktu setahun, maka dibutuhkan waktu beberapa tahun. Pasalnya jumlah anggaran yang dibutuhkannya cukup besar,” katanya.

Menurutnya, pembangunan pasar ini mendapatkan dorongan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, terlebih pada bagian fisiknya.

“Itu pun tentunya jika pematangan lahan sudah selesai, baru dilanjut ke pembangunan fisik. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa mulai pematangan lahan dan relokasi pasar bisa segera terwujud,” ucapnya.

Ketua GMNU Kabupaten Tasikmalaya Lutfi Lutfiansyah menilai persoalan relokasi pasar sudah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), sehingga sudah sesegera mungkin direalisasikan.

“Kalau misalkan kita melihat relokasi pasar ini seharusnya dimulai pada 2018 yang sempat mencuat pro dan kontra. Kemudian hari ini masyarakat sepakat relokasi Pasar Singaparna yang berpindah di belakang kampus STIE di wilayah Padakembang,” kata dia.

Kata dia, ketika yang menjadi persoalan adalah akses menuju lahan yang sudah dibebaskan kenapa tidak dipersiapkan jauh-jauh hari.

Baca juga : Atasi Banjir Rutin di Sukaresik Tasik, BBWS Siap Normalisasi Citanduy Cikidang

Aritnya ini ada perencanaan yang tidak matang, sehingga lahan untuk pasar dengan posisi di tengah sudah dibeli, sementara akses jalan menuju lokasi belum dibebaskan.

Padahal seharusnya satu agenda dengan pembebasan yang tengah, sehingga bisa berlanjut tahapannya. (obi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.