Rencana Penutupan Sementara Masjid Agung Kota Tasik, Begini Kata Para Ulama..

314
0
DISKUSI. Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Kota Tasikmalaya bersama MUI Kota Tasikmalaya bersilaturahmi dengan perwakilan ormas Islam serta ulama di Gedung MUI Jalan Letjen Mashudi Senin (13/4). Firgiawan / Radar Tasikmalaya

KOTA TASIK – Rencana Gugus Tugas untuk menghentikan sementara aktivitas di Masjid Agung Kota Tasikmalaya,  sebagai bagian dari ikhtiar untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, ditanggapi para, kyai, ulama dan tokoh masyarakat.

Menurut KH Miftah Fauzi, hasil istikharah para kiai sepuh, aktivitas Masjid Agung jangan sampai dihentikan.

“Tetap berjum’atan, menjaga keseimbangan menangani Covid-19, kiai berpesan jangan tinggalkan masjid,” tutur KH Miftah dalam diskusi dengan tim Covid-19 Kota Tasik, Senin (13/04).

Miftah mengusulkan, daripada menutup aktivitas di Masjid Agung, dia menyarankan lebih baik ada penutupan jalan di sekitar Masjid Agung.

Berita Terkait : Penghentian Sementara Aktivitas di Masjid Agung Kota Tasik Dibahas MUI & Tim Covid-19

Dengan begitu warga yang sudah biasa beribadah di Masjid Agung masih tetap melaksanakan prosesi peribadahan.

“Walaupun 12 orang, lanjutkan salat di sana. Masuk masjid bila harus KTP dicek misalnya. Protap kesehatan diterapkan, ketimbang ditutup,” kata dia.

Loading...

Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Tasikmalaya, KH Asep Zaeni menjelaskan, bahwa Masjid Agung berdiri bukan di atas tanah negara melainkan tanah wakaf.

Apabila salat Jumat diliburkan, salat fardu dan dzikir diliburkan juga, maka terjadi kezaliman terhadap masjid karena berhak dihidupkan.

“Yang paling repot itu syi’ar Islam menjadi padam, meski libur dua kali Jum’atan. Hemat kami, solusi Masjid Agung silakan saja berjalan namun dengan mengikuti protokol kesehatan,” ujar KH Asep Zaeni.

Perwakilan PUI Kota Tasikmalaya, Agus Setiawan mengatakan sejak awal adanya kasus positif di Kota Resik, pihaknya meliburkan kajian pekanan.

Itu bukti mendukung upaya penekanan potensi penyebaran wabah virus tersebut.

“Fatwa MUI sudah lengkap dan gambarkan fleksibilitasnya ajaran Islam. Solutif, kita ikuti saja. Kalau Masjid Agung itu berada di zona rawan, ya tidak masalah,” kata dia.

Perwakilan Parmusi Pepen Ruspendi mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pusat akan adanya upaya penekanan risiko penularan.

“Namun, kami memaklumi dan insyaallah samina wa athona dengan pemerintah,” kata Pepen.

Lainnya, Ketua Baznas Kota Tasikmalaya KH Wawan Nawawi mengatakan, tentunya akan terjadi perbedaan pendapat ketika ada kebijakan tersebut.

Namun, jangan sampai semua pihak tercerai berai. Pemerintah tentunya bertanggungjawab dunia dan akhirat ketika memutuskan suatu keputusan yang berdampak terhadap masyarakat.

“Baiknya kita sekarang support mental masyarakat, buat program bersama pemerintah bagaimana warga daya tahan tubuh menguat,” kata H Wawan.

“Kemudian bercermin dari ulama-ulama kita yang kelihatan tenang-tenang saja karena keimanannya, bagaimana itu ditularkan sampai ke masyarakat agar pemikirannya seperti kita,” sambung KH Wawan.

Diwawancarai terpisah, Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Aslim SE menyebut perbedaan adalah sebuah rahmat. Ia memastikan dua sampai tiga hari ke depan akan ada keputusan dalam menyikapi rencana penghentian sementara kegiatan di Masjid Agung.

“Kami belum putuskan hari ini, kita akan rembuk antaran Pemkot, DPRD dan MUI,” kata Aslim.

Dia mengatakan saat ini daerah terbilang cukup kesulitan dalam menghadapi banyaknya pemudik. Sehingga menimbulkan lonjakan terhadap angka Orang Dalam Pemantauan (ODP).

“Nah berbagai antisipasi harus kita laksanakan dalam upaya penanganan dengan cepat,” ucapnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Uus Supangat menyebut seluruh stakeholder perlu bersinergis dalam menanggulangi Covid-19.

Salah satunya, Gugus Tugas berupaya meminta bantuan alim ulama, supaya lebih masif lagi mengedukasi masyarakat dalam menjalankan anjuran pemerintah.

“Kami yakin kota kita, Kota Santri. Bukan berarti pemerintahan tidak didengar, justru bekerja sama dengan alim ulama yang selama ini bersama-sama masyarakat, supaya menguatkan ketaatan masyarakat dalam mengikuti anjuran pemerintah.

Salah satunya hal sensitif seperti pembatasan kegiatan keagamaan,” kata dia memaparkan.

Uus menilai pada pertemuan tersebut sudah mulai mengerucut. Meski diakui berat bagi insan medis ketika muncul pertimbangan dan keputusan pada kondisi darurat harus disandingkan dengan hukum-hukum keagamaan.

“Suka tidak suka, mau tidak mau, kondisi darurat itu ketika ada pertimbangan harus disandingkan dengan hukum keagamaan memang berat,” ujarnya.

“Semoga kita doakan, pimpinan daerah bisa melahirkan kebijakan tepat sasaran dan diterima semua pihak. Betul-betul hadir daya penetarasi kuat memutus rantai penyebaran Covid,” sambung Uus.

Ketua MUI Kota Tasikmalaya KH Ate Musodik menambahkan, dalam waktu dekat, Pemkot akan memutuskan langkah selanjutnya dalam menindaklanjuti wacana penghentian sementara aktivitas keagamaan di Masjid Agung.

Baca juga : Positif Covid-19 dan OTG Naik Terus, Warga Kota Tasik Diminta Makin Waspad

“Memang agak sedikit alot. Insyaallah waktu dekat ini ada keputusan, tentu kalau hasilnya harus dihentikan kan tidak apa-apa. Salat boleh kok di rumah, karena Islam itu fleksibel. Tidak kaku,” kata KH Ate menjelaskan.

Pada kesempatan tersebut hadir sejumlah perwakilan Ormas Islam dan tokoh kyai seperti Sekretaris MUI Kota Tasikmalaya KH Aminuddin Busthomi, KH Amang Baden, Dindin C Nurdin, KH Udin Sa’dudin, Ustaz Maman Suratman dan lainnya.

(firgiawan)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.