Kisah Pilu Shopiah, Ibu Beranak Delapan yang Kehilangan Suaminya

Rencana Tamasya Malah Berujung Petaka

59
Faisal R Syam / FAJAR INDONESIA NETWORK EVAKUASI. Jenazah korban tsunami dievakuasi petugas Minggu (23/12). Hingga kini pencarian korban terus dilakukan mengingat jumlah korban meninggal mencapai 222 jiwa.

Cuaca Kabupaten Serang sangat tidak bersahabat. Seperti suasana hati Shopiah yang sedang risau. Di saat berlibur bersama suami dan delapan anaknya ke Pantai Carita, Serang, Banten. Bukan senang, melain- kan duka yang ia dapat.

KHANIF LUTFI – Serang

Sedari pagi, hujan terus meng­guyur Kawasan Wisata Carita. Sejumlah pasar dan pertokoan di Jalan Raya Carita Serang, Banten, semuanya tutup. Sangat kontras. Bencana tsunami yang meng­hantam pantai membuat tem­pat tersebut bagai kota mati.

Ribuan rumah yang berada di garis pantai juga sudah ditinggalkan penghuninya, mereka mengindahkan peringatan yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengungsi ke daratan yang lebih tinggi.

Sejumlah orang berkerumun di halaman Puskesmas Cinangka, Serang. Mereka kebanyakan orang dari luar Serang. Para anggota yang mengaku kehilangan anggota keluarganya melihat list daftar nama siapa saja yang meninggal, luka dan hilang.

Di sudut ruangan, mata Shopiah (42) sembab. Hatinya gelisah. Kotak makanan yang ditaruh petugas di bangku Puskesmas Cinangka, Kabupaten Serang tak disentuhnya. Beberapa kali ia mengelap air matanya. Ia hanya memikirkan nasib suaminya, Masnadi (42) yang hilang pasca bencana yang merengut lebih dari 200 jiwa tersebut.

Sabtu (22/12) malam, suaminya pergi memancing. Namun sejak tsunami menghantam tempatnya menginap, pria tersebut tak kunjung kembali. Pergi berlibur dari rumahnya di Kampung Kaliabang Dukuh, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Bekasi Barat bukan merasa senang, melainkan sang tulang punggung hilang entah di mana.

Shopiah terlihat sangat murung, ia duduk di bangku posko pengaduan di Puskesmas Cinangka. Beberapa kali ia mengecek telepon genggamnya. Hari sudah mulai siang, suaminya yang pergi sejak semalam belum juga jelas kabarnya. Di sudut lain, anaknya juga menangis minta pulang.

Kepada petugas BNPB, Shopiah sudah menjelaskan kronologinya. Ia bersama keluarga berangkat dari bekasi sejak Sabtu (22/12) pagi. Mereka menginap di salah satu hotel di pesisir Pantai Carita. Sekira pukul 19.45, Masnadi meninggalkan hotel untuk memancing.

“Suami saya tidak bilang mau mancing, karena saya lagi di kamar mandi. Tapi saya tahu kalau ia pamit kepada anak saya, dan bawa pancingan yang sudah disiapkan,” kata Shopiah sambil berlinang air mata.

Sekira pukul 23.00, Shopiah yang sudah terlelap di kamar mendengar peringatan untuk meninggalkan hotel dan pergi ke lokasi yang lebih tinggi. Ia bersama delapan anaknya langsung mengikuti petugas hotel yang mengarahkan ke lokasi perkampungan.

Hanya sekian langkah dia baru sadar, ternyata Masnadi tidak bersamanya. Ia tahu jika Masnadi pergi memancing dari anaknya Fahri (13). Bisa dibilang Shopiah tidak tahu apa yang terjadi, hanya saja, ia digiring petugas hotel pergi ke kampung terdekat dan berkumpul bersama tamu lainnya.

Nyawanya harus selamat. Malam kemarin, hujan juga turun dengan lebatnya. Hatinya semakin tidak menentu. Sudah hampir azan subuh, suaminya belum juga terlihat. Telepon genggam yang ia bawa tidak ada sinyal. Begitu juga listrik di perkampungan, semuanya padam.

Saat Matahari mulai timbul dari ufuk timur. Ia baru sadar, jika semalam baru saja terjadi tsunami. Ia berhasil selamat dengan delapan anaknya. Sedangkan suaminya, tak tahu rimbanya. “Sejak pagi saya langsung tahu kalau suami saya belum ada. Saya juga langsung mencari informasi dan mencari posko kehilangan untuk memberitahukan suami saya yang belun pulang sejak semalam,“ kata Shopiah sambil menggendong sang bungsu.

Menjelang siang, ia semakin khawatir, ia juga melihat beberapa rumah rusak parah. Matanya menatap beberapa kendaraan rusak secara tidak wajar. Hatinya hancur dan bertanya-tanya, apakah sang suami juga hilang dimakan ombak. Di beberapa perkampungan yang lokasinya sejajar dengan pantai, bangunan hampir rata dengan tanah.

Siang menjelang sore, Shopiah tak hentinya menangis. Mungkin hampir semalaman ia menangis. Ia bersama anggota TNI mencari informasi keberadaan terakhir suaminya. Tak jauh dari lokasi hotel, seorang warga setempat mengetahui, jika Masnadi pergi memancing ke dermaga kecil dekat suaminya. “Ada lima orang yang mancing, empat dilaporkan hilang termasuk suami saya. Dari laporan terakhir, satu selamat dengan kondisi patah di tangan dan kaki,“ jelas Shopiah yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.

Menjelang sore, sekira pukul 16.00, Shopiah bersama TNI yang bertugas mencari suaminya di lokasi terakhir saksi mata melihatnya. Bangunan dan kendaraan yang ada di lokasi semuanya diperiska, tapi sayang, Masnadi tidak juga ditemukan.

Beberapa anggota TNI juga menyusuri pantai, berharap karyawan swasta ini ditemukan. Tapi hingga senja, tak ada tanda keberadaan Masnadi. Shopiah tiba-tiba histeris. Ia semakin tidak percaya jika suaminya menjadi korban keganasan laut Carita. Sejumlah TNI yang bertugas mencoba menenangkan. Berjanji jika esok hari pencarian dilanjutkan.

Dalam remang senja, Shopiah masih berharap. Suaminya, Masnadi masih hidup dan berada di posko lain. “Saya bingung jika harus menanggung semuanya sendiri. Jika memang suami saya sudah tidak ada, paling tidak saya bisa melihat jasadnya,” tandasnya.

Lalu lintas di jalan raya sangat lengang. Hanya beberapa ambulance dan mobil polisi yang hilir mudik. Tapi cuaca masih sama, mendung dan turun hujan. Membuat suasana semakin mencekam. Jasad dan wajah sembab berlumur jadi satu. Buah dari teror menakutkan erupsi sang anak Krakatau. (*/fin/tgr)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.