Retakan Tanah di Kawali & Panawangan, Begini Kata BPBD Ciamis..

77
0
LOKASI RETAKAN TANAH. Tanah di Dusun Sukamaju Desa Talagasari Kecamatan Kawali mengalami retakan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Jawa Barat telah melakukan penelitian di lokasi tersebut. Salah satu sarannya yaitu ada alih fungsi lahan di kawasan tersebut.
Loading...

CIAMIS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis berupaya mengubah cara berpikir masyarakat di daerah retakan tanah, seperti di Kecamatan Kawali dan Panawangan.

Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Ciamis Dian Wardianto menjelaskan, mengubah cara berpikir masyarakat tata kelola lahan menjadi langkah kedua yang akan pihaknya laksanakan, karena tahap pertama yaitu menyosialisasikan hasil penelitian dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Jawa Barat.

Hasil penelitian tersebut baru akan keluar satu minggu ke depan.

Di Kawali, kata Dian, masyarakat memiliki kolam di atas, sedangkan, di bawah pemukiman. Itu memicu kontur tanah menjadi berat dan terjadi longsoran.

“Nah mind set itu diubah, baik kolam maupun sawah jangan sampai ada pola tanam basah atau kolam di atas, dialih fungsi lahan nanti disampaikan di kegiatan sosialisasi,” ujar Dian kepada Radar, Jumat (15/1).

loading...

Baca juga : Front Persaudaraan Islam Jabar Bedah Rumah Warga Miskin di Ciamis

Tahun ini, kata dia, akan diadakan sosialisasi dari BPBD Ciamis mengenai kebencanaan dan hasil Geologi untuk mengubah perilaku masyarakat. Materi sosialisasi mengalih fungsi lahan dari kolam ke tanaman keras.

Kemudian materi mitigasi bencana sampai ke penanaman pohon. Termasuk, jenis pohon yang disarankan Geologi yaitu jenis pohon aren yang nanti akan dikolaborasikan dengan komunitas penyemaian pohon aren.

“Kalau misalnya hasil Geologi ada relokasi tentunya relokasi, tapi kalau pun tidak diadakan relokasi, berarti kita akan melakukan pencegahan yakni sosialisasi yang tadi perubahan dari pola basah (kolam ikan, Red) menjadi ditanami pohon keras,” ujarnya.

Namun demikian, sebaiknya, beberapa rumah di tebing-tebing bisa dipindahkan daripada membahayakan.
“Saran terbaik memang relokasi, kalaupun tidak upaya-upaya lain yang tadi harus diterapkan,” ujarnya.

Dihubungi terpisah Kepala Dusun Sukamaju Desa Talagasari Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis Lili mengatakan, pihaknya sejauh ini masih menunggu hasil dari Geologi. Namun masyarakat ada yang mau tetap di tanah yang lama. Ada juga yang mau direlokasi.

“Jadi sebenarnya kejadian ini bukan hanya tahun 2018, namun dari nenek moyang juga pernah terjadi, namun yang parahnya tahun 2021. Upaya saat ini kami bersama masyarakat rencana dalam waktu dekat akan bikin gerakan tutup tanah yang retakan, baik jalan, kolam juga,” ujarnya menjelaskan.

“Kami juga ke depan sesuai arahan, mungkin akan merapatkan mengenai pola alih fungsi lahan dari kolam jadi tanaman keras mungkin,” kata dia menambahkan.

Sedangkan, Kepala Dusun Cilimus Desa Indragiri Kecamatan Panawangan Ana Rusliana mengatakan apapun hasilnya dari Geologi, masyarakat kebanyakan ingin direlokasi, karena memang saat ini retakan terus bertambah, terutama musim hujan saat ini.

“Namun tentunya mengenai saran pola tanam diubah akan kembali kami rapatkan dengan masyarakat maunya seperti apa,” ujarnya.

Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Jawa Barat telah selesai melakukan penelitian retakan dan pergerakan tanah di Kecamatan Panawangan dan Kecamatan Kawali Kamis sore (14/1). Hasilnya akan keluar seminggu lagi.

Namun mereka menyarankan agar retakan tanah segera ditutup dan ada alih fungsi lahan dan kolam harus ditanami tanaman palawija atau tanaman keras.

Peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Jawa Barat Maryono, sehari sebelumnya, saat dihubungi Radar menjelaskan hasil penelitian sementara, di dua titik di Panawangan dan Kawali ada potensi pergerakan tanah.

Di Dusun Sukamaju Desa Talagasari Kecamatan Kawali, kata dia, masih ada potensi pergerakan tanah. Namun pergerakannya lambat.

“Kalau rumah yang ada di dua kecamatan itu kalau direlokasi akan lebih baik, karena kalau enggak mau relokasi, harus ada penyesuian pola kegiatan di sana,” ujar Maryono menyarankan.
Pertama, kata dia, jangan ada kolam di sana. Pola tanam diganti dengan pohon yang mampu menyerap air dan berakar kuat.

“Kalau bangunan di sana kalau permanen pakai tembok dikit bisa retak karena berulang dari dulu sering terjadi di Kawali itu, cuman yang tahun ini paling parahnya,” ujarnya.

Menurut Maryono, jika warga mau tetap tinggal di sana, maka dilarang ada kolam dan rumahnya jangan permanen.

“Kalau relokasi memang menyelesaikan masalah, tapi warganya pasti dengan lokasi yang baru mungkin jauh dan tidak mau, karena lokasi yang ideal jauh dari sana. Makanya kalau mau tetap tinggal di sana kalau pakai rumah panggung kalau ada pergerakan tinggal didongkrak saja, kalau permanen akan pecah,” ujarnya.

“Jadi kalau dua tahun pakai rumah permanen bisa aman, tapi kalau musim hujan lagi datang curah hujannya besar akan terjadi gerakan lagi,” kata dia menerangkan. (isr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.