Retribusi Pasar Cikurubuk Kota Tasik Dinilai Paling Buruk

77
0
SIMBOLIS. Kepala Dinas KUMKM Perindag Kota Tasikmalaya H M Firmansyah menyerahkan SKPTU kepada salah seorang pedagang di Gedung Pusat Pengembangan Industri Kreatif (PPIK), Jumat (18/1). RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA
Loading...

KAWALU – Sebagian pedagang pasar tradisional di Kota Tasikmalaya masih menunggak pembayaran retribusi. Pasar Cikurubuk memiliki catatan paling buruk di banding dengan yang lainnya.

Dinas KUMKM Perindag Kota Tasikmalaya memberikan Surat Keputusan Pemanfaatan Tempat Usaha (SKPTU) kepada 253 pedagang di Pasar Cikurubuk, Pasar Padayungan dan Pasar Burung Besi.

Dokumen tersebut khusus untuk mereka yang sudah tertib membayar retribusi. Kepala Dinas KUMKM Perindag Kota Tasikmalaya H M Firmansyah mengatakan saat ini sebagian pedagang masih belum membayar retribusi. Hal ini berdampak pada target retribusi yang jauh dari pencapaian.

“Dari target Rp 1,2 miliar, baru sekitar 32 persen saja,” ungkap kepada Radar, Jumat (15/1).

Baca juga : Plt Wali Kota Tasik HM Yusuf Siap Divaksin Pertama, Asalkan..

loading...

Dari beberapa pasar tradisional di Kota Tasikmalaya Pasar Cikurubuk tergolong paling banyak tunggakkan. Dari 2.772 kios dan los, baru 132 pedagang yang membayar retribusi. “Pasar yang lain juga masih ada yang belum, tapi hanya sebagian kecil, di bawah 20 % yang masih nunggak,” ujarnya.

Maka dari itu, SKPTU tersebut sebagai penghargaan dan legitimasi bagi pedagang yang tertib. Bahkan dokumen tersebut bisa jadi jaminan pedagang mendapatkan pinjaman di Bank. “Saya sudah berkomunikasi dengan Bank, nantinya dengan dokumen itu pedagang bisa meminjam untuk modal pengembangan usaha,” tuturnya.

Disinggung alasan pedagang yang tidak bayar retribusi, Firman mengaku tidak mengetahui secara pasti. Karena dari segi nominal, biaya yang harus dikeluarkan tidaklah besar. “Tapi bisa jadi karena sekarang masih masa transisi dari PD Pasar ke UPTD,” tuturnya.

Padahal, pemerintah sudah memberi keringanan mengingat situasi sedang pandemi Covid-19. Di mana beban retribusi pedagang hanya dihitung dari bulan Juni-Desember 2020. “Dan ketika tidak dibayar, itu jadi beban tagihan di tahun 2021,” katanya.

Target dari retribusi pedagang pasar tradisional sendiri di tahun 2020 yakni sekitar Rp 1,2 miliar. Sementara jumlah yang baru dicapai hanya sekitar Rp 480 juta. “Tapi meski begitu, ini pertama kalinya retribusi pasar memberikan sumbangsih PAD sampai Rp 480 juta setahun,” terangnya.

Disinggung soal konsekuensi bagi pedagang yang tidak juga membayar retribusi. Firman mengaku akan melakukan evaluasi dalam tiga bulan ke depan. “Aturannya tiga bulan sudah bisa kita cabut haknya dan dialihkan ke yang lain, tapi tentu kita tetap memberi mereka kesempatan lebih,” tuturnya.

Salah seorang pedagang sandal di Blok A.4 di Pasar Cikurubuk, H Mutakin (58) mengaku berterima kasih atas legitimasi yang diberikan. Terlebih SKPTU yang diterima bisa menjadi jaminan pinjaman.

“Tapi sementara disimpan saja, enggak langsung dipakai buat pinjam,” katanya.

Menurutnya, beban retribusi yang harus dibayar tergolong ringan meskipun bervariatif. Untuk sebulan, retribusi yang dia bayar hanya sekitar Rp 70 ribu saja. “Enggak terlalu berat, alhamdulillah selalu bayar,” pungkasnya. (rga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.