Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.4%

4.8%

41.9%

14%

1.4%

26.6%

0%

10.8%

0%

Revolusi Industri 4.0 Bukan Ancaman

19
0
oleh: Prof Dr H Dedi Kusmayadi SE MSI AK CA ACPA

Fase Revolusi Industri 4.0 dimulai dengan munculnya kemajuan internet yang berimbas, terhadap pesatnya perkembangan komputer dan sistem interkoneksi hingga lahirlah smartphone. World Economic Forum menjelaskan revolusi industri ini ditandai kemunculan sistem big data, cloud computing, super komputer, robot pintar, internet of thing (IoT), Artificial Intelligence (AI), rekayasa genetika dan perkembangan neuroteknologi yang akan mendorong manusia untuk mengoptimalkan fungsi otak.

Dunia digital akan melahirkan manfaat dan peluang yang besar bagi masyarakat untuk kepentingan bisnis, terutama potensi terkait dengan produksi, pelayanan dan pendapatan, yaitu melalui harga yang murah dan kompetitif, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, efisiensi biaya transportasi dan komunikasi, meningkatkan efektivitas logistik dan rantai pasokan global, efisiensi biaya perdagangan, membuka pasar baru serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun era ini pun berimplikasi dan memicu terhadap risiko diantaranya employee descreassing, business credibility, bahkan business sustainability (Prasetyo, dan Sutopo, 2018).

Saat ini, dunia digital terus merambah ke perkembangan bisnis modern yang melahirkan berbagai kemungkinan baru. Termasuk potensi meningkatkan pendapatan global dan kualitas hidup bagi masyarakat dunia. Bisnis modern itu merupakan inovasi dan kreativitas dalam memanfaatkan era digital sehingga melahirkan peluang bisnis baru. diantaranya : 1. Fintech (Finance and Technology), merupakan inovasi dalam jasa keuangan. Beberapa contoh bisnis tergabung dalam fintech diantaranya proses jual beli saham, pembayaran, lending secara peer to peer, transfer dana, investasi ritel dan personal finance.

2. Cloud hosting. Salah satu penyimpanan database yang ringan dan sangat mudah diakses, misalnya Google Drive dan Dropbox. 3. Bisnis Jual-Beli online, promosi yang efektif dan efisien membuat bisnis ini semakin maju. Cara pembayaran lebih mudah, banyak ditawarkan saat ini. Sistem pembayaran cash on delivery (COD), virtual account hingga berbagai pembayaran lewat perusahaan fintech telah membuat bisnis jual-beli online terus berkembang (Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Lazada, Blibli).

4. On-demand, yaitu sebuah layanan jasa yang hanya muncul di sekitar kita, jika kita menginginkannya. Seperti aplikasi transportasi online (gojek, grab dan uber).

Setidaknya ada empat peran penting akuntan di era digital. Pertama, sebagai decision maker. Akuntan harus mengambil tanggungjawab dalam risk management, information technology investmen decisions, dan supply chain. Peran kedua, sebagai auditor, akuntan harus bertanggungjawab dalam audit of financial statement degan lebih akurat dan cepat, serta jasa-jasa assurans lainnya. Peran ketiga dan keempat, sebagai business decision making advisor dan sebagai digital system users. Oleh karena itu, untuk menghadapi peran penting dan tantangan kebutuhan profesi saat ini dan di masa yang akan datang, akuntan perlu melakukan : 1. Investasi pada pengembangan digital skills, 2. Menerapkan prototype teknologi baru, (learning by doing), 3. Pendidikan berbasis international certification dan digital skills, 4. Responsive terhadap perubahan industry, bisnis dan perkembangan teknologi, 5. Kurikulum dan pembelajaran berbasis human-digital skills.

Selain itu, akuntan harus mampu mengidentifikasi peluang dan risiko penggunaan teknologi informasi. Agar, bisnis dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Ada dua hal penting yang saling terkait dalam bisnis, yaitu 1.konsep big data dan risk analysis yang akan mendorong kemajuan bisnis di era digital saat ini. 2. Konsep cyber security dalam technology risk perspective. Maka seorang akuntan harus memahami dengan baik mengenai keamanan siber dalam setiap aktivitas profesinya.

Selain tantangan dan risiko, juga memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan akuntansi mau pun peluang peran baru bagi akuntan, diantaranya mencakup internal control, jasa asuransi, non asuransi dan pekerjaan strategis lainnya.

Begitu juga metode analisis akan berpindah dari sifatnya retrospektif menjadi prediktif. Peluang baru tersebut diantaranya dalam posisi 1. Analis data, 2. Penasihat, 3. Mitra dengan teknologi 4. Berkembang ke area-area baru pada posisi non financial reporting dan cyber security.

Kompetensi yang harus dikuasai akuntan di era digital, diantaranya 1. Aplikasi mobile, b. Mengelola data korporasi berbasis internet, c. Pengukuran dan penilaian biaya serta manfaat penggunaan teknologi, pada dunia cloud computing dan social networking, d. Akuntansi akan diintegrasikan dengan kegiatan operasi melalui perangkat lunak sehingga akuntansi tidak dijalankan secara mandiri. Dan e. audit laporan keuangan akan berbasis real-time, regulator dan auditor langsung menarik data secara otomatis dari sistem dan sensor melekat pada kegiatan operasional, (Martani, 2019).

Revolusi Industri 4.0, berdampak luar biasa terhadap tatanan sendi kehidupan manusia. Hampir semua aktivitas strategis terdisrupsi. Peran manusia akan semakin terbatasi karena bergesernya kendali aktivitas ada di tangan teknologi, sehingga beberapa profesi pun yang terkait dengan proses bisnis dapat berpotensi kehilangan pekerjaannya, termasuk profesi akuntan. Untuk mencegah disintegration of human resources, tak terkecuali para akuntan dari profesinya, perlu kerjasama dari berbagai pihak melalui metode triple helix mau pun penta helix, untuk merumuskan regulasi dan kebijakan secara terintegrasi dan komprehensif menyikapi current and future condition untuk membangun ekosistem yang lebih akuntabel dan goal oriented (Leydesdorff dan Meyer, 2013).

Revolusi industri 4.0, janganlah dijadikan sebagai ancaman dan malapetaka. Namun, disikapi dengan melakukan role revitalization melalui competency improvement yang selaras dengan tuntutan dan kebutuhan current and future condition. Kemajuan teknologi tidak akan mampu menggantikan analisis manusia. Teknologi yang diciptakan tentunya tidak akan mampu melebihi kemampuan yang menciptakannya. Karena sejatinya ilmu yang terus berkembang dan teknologi yang terus maju adalah untuk kemaslahatan manusia, dan manusia tetap harus menjadi subjek bukan menjadi objek apalagi korban dari kemajuan teknologi.(*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.