Ribuan Lulusan SMA Kota Tasik Masih Nganggur

143
0
ANTRE. Sejumlah pencari kerja tengah mengantre pembuatan kartu kuning di Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya Rabu (10/6). Deni Nurdiansah / Radar Tasikmalaya

TASIK – Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya membatasi pengajuan kartu kuning, yang awalnya tidak terbatas kini hanya dibatasi 100 orang per hari.

Kepala Seksi Penempatan Kerja dan Transmigrasi Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya, Ikin mengatakan pembatasan itu diberlakukan pasca hari raya lebaran kemarin, untuk menghindari terjadinya kerumunan masa.

Baca juga : Azies: Warga Sukaresik Tasik Jangan Dibuat Terbiasa dengan Banjir, Pasti Ada Solusi..!

”Mereka juga diwajibkan pakai masker dan cuci tangan,” ujarnya kepada Radar, Rabu (10/6).

Menurut dia, para pencari kerja dilarang masuk ke ruangan, mereka hanya bisa duduk menunggu di luar.

”Nanti dipanggil satu-satu untuk legalisir dan mengisi formulir yang disediakan, tidak perlu antre berdesak-desakan,” ucapnya.

Lanjut dia, para pencari kerja ini didominasi oleh lulusan SMA dan SMK yang melamar ke berbagai perusahaan dan pabrik.

”Kalau yang lulusan dari universitas justru sangat sedikit, tercatat hanya lima orang saja,” jelasnya.

Sementara yang lulusan SMA tercatat ada 1.200 orang yang membuat kartu kuning untuk melamar kerja.

”Data itu dari tanggal 26 Mei sampai hari ini, jumlahnya memang cukup banyak yang lulusan SMA dan SMK,” ucapnya.

Pada saat PSBB, masih diberlakukan jumlah pencari kerja turun drastis, dalam sehari paling banyak 15 orang saja.

”Setelah PSBB berakhir, jumlah pencaker mengalami ledakan,” terangnya.

Salah seorang pencari kerja, Suherman (23) mengatakan bahwa dirinya sempat menganggur beberapa minggu karena pandemi Covid-19, kali ini dia pun berharap bisa mendapat pekerjaan.

”Mudah-mudahan saja dapat kerja, walaupun kondisinya sedang sulit begini,” katanya.

Bertambah 3,7 Juta Orang

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) sampai Selasa (12/5) terdapat 1.722.958 pekerja yang terdampak wabah Virus Corona (Covid-19) dari pemberhentian sepihak sampai dirumahkan.

Angka ini terbagi dari 1.032.960 pekerja formal yang dirumahkan, 375.165 pekerja formal yang mengalami pemutusan hubungan kerja dan 314.833 pekerja informasi yang terdampak.

Angka tersebut ternyata tidak berbanding lurus dengan data Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang menembus 2 juta hingga 3,7 juta orang baik yang di-PHK sampai kebijakan dirumahkan.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengatakan dari polemik yang muncul akhirnya diterbitkan surat edaran berisi opsi penundaan pembayaran tunjangan hari raya (THR) setelah menerima laporan banyak perusahaan yang kesulitan keuangan.

”Data telah sampai ke tangan saya dan Pengusaha menyampaikan kepada Kemenaker secara umum banyak sekali perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan dan dibuktikan dengan data yang disampaikan ke Dinas Ketenagakerjaan, merumahkan sebagian pekerjanya juga beberapa perusahaan yang melakukan PHK,” papar Ida dalam konferensi video yang dilaksanakan di Jakarta, Selasa (12/5).

Selain itu, dalam data-data yang dilaporkan perusahaan menunjukkan cash flow perusahaan kondisinya dalam kondisi sulit.

Menaker menegas­kan sebelum me­ngeluar­kan surat edaran itu, dirinya telah melaku­kan beberapa kali dialog dengan per­wakilan dari serikat pekerja dan peng­usaha.

Ter­pisah, Menteri Bappenas Suharso Monoarfa menye­butkan jumlah pekerja yang dirumah­kan dan terkena Pemutus­an Hubung­an Kerj­a (PHK) akibat pandemi Covid-19 mencapai 2 juta hingga 3,7 juta orang.

Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan catatan dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yaitu 1,7 juta orang, se­mentara Kadin mencatat terdapat 6 juta orang menganggur akibat pandemi Covid-19.

”Kemnaker mencatat 1,7 juta tenaga kerja yang di-PHK dan Bappenas sendiri menghitungnya sekitar 2 juta sampai 3,7 juta orang,” terangnya.

Baca juga : Jembatan di Ciawi Tasik Putus, Warga Bikin Tandu untuk 2 Ibu Hamil Siap Lahiran

Selain itu Bappenas juga memprediksi jumlah pengangguran di Indonesia pada tahun ini akan bertambah 4,22 juta orang dengan outlook Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 2020 sebesar 7,8 persen sampai 8,5 persen.

”Hitungan kita perkirakan 2,3 juta sampai 2,8 juta terjadi penciptaan lapangan pekerjaan pada 2021 berhadapan dengan pengangguran yang akan bertambah 4,22 juta pada 2020 dibandingkan 2019,” jelasnya. (den/ful/fin)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.