Dianggap Berpotensi Timbulkan Konflik

Rilis Kemenag Bikin Miris

430
0
Loading...

TASIK – Keluarnya daftar 200 nama mubalig yang dilakukan Kementerian Agama (Kemenag) menuai reaksi dari para ulama di Tasikmalaya. Mereka menganggap Kemenag tidak peka dengan situasi yang tengah berkembang di Indonesia.

Ketua DKM Masjid Agung Kota Tasikmalaya KH Aminudin Bustomi MAg menilai daftar nama mubalig  yang dirilis Kemenag berpotensi menimbulkan polemik di lapangan. Pasalnya opini yang terbentuk di masyarakat akan lain, ketika santer isu teroris dan radikalisme di masyarakat masih kentara. “Menurut saya diam saja, tak perlu mengeluarkan rilis seperti itu,” ungkapnya kepada Radar, Minggu (20/5).

Maka dari itu, pihaknya tidak sepakat dengan langkah yang dilakukan Kemenag. Karena dikhawatirkan bisa menimbulkan perpecahan umat., sebab bagaimana pun  masyarakat punya penilaian sendiri terhadap integritas seorang mubalig. “Jadinya kan rilis itu debatebel,” ungkapnya.

Ketua MUI Kota Tasikmalaya KH Achef Noor Mubaraq LC  mengaku tidak terlalu ambil pusing dengan rilis Kemenag tersebut. Karena dirinya percaya para mubalig dan masyarakat bisa menyikapinya dengan bijaksana. “Pekerjaan dia (kemenag) merilis dan pekerjaan kita dakwa. Itu saja,” terangnya.

Pimpinan Ponpes Ihya As-Sunnah Ustaz Maman Suratman menilai rilis 200 mubalig dari Kemenag terkesan mengkotak-kotakan keberadaan ulama. Terlepas dari apa yang menjadi maksud dan tujuannya, kata dia, rilis tersebut sedikit banyak memicu konflik. “Menurut saya ini salah satu kebodohan yang dibuat oleh Kemenag,” paparnya.

Loading...

Indikator untuk menjadi mubalig yang recommended pun menurutnya belum jelas, karena pada dasarnya setiap ulama dan mubalig memberikan dakwah dengan merujuk pada Alquran dan Sunah Rosul. Beda halnya ketika data tersebut hanya untuk catatan Kemenag demi kepentingan tertentu. “Tapi kan ini dipublikasi bukan hanya catatan Kemenag sendiri,” bebernya.

Terpisah, Pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya KH Zaenal Abidin Anwar menegaskan tidak sepakat dengan kebijakan Kementerian Agama (Kemenang) soal 200 nama mubaligh atau penceramah yang dinilai memenuhi kriteria. “Semua ulama sama menyampaikan ilmu agama. Pengakuan status ulama atau kiai itu dari masyarakat. Bukan pengakuan dari pemerintah,” ujar KH Zaenal saat dihubungi Radar, Minggu (20/5).

Menurutnya, semua ulama atau mubalig sama tugasnya menyebarkan kebaikan dan syariat Islam kepada masyarakat termasuk berbakti untuk negara dan bangsa. ”Majelis Ulama Indonesia (MUI) lah yang menjadi wadah para ulama. Jadi jangan dipisah-pisahkan kurang begitu baik. MUI yang jelas mewadahi ulama seluruh Indonesia,” paparnya.

Pimpinan Umum Pondok Pesantren Miftahul Huda KH Asep Maosul Affandy mengungkapkan perbedaan pendapat atas munculnya daftar 200 mubalig yang dikeluarkan Kemenag merupakan hal wajar. “Sebetulnya siapa pun ulama atau kiai boleh saja direkomendasi menjadi mubalig pilihan pemerintah. Namun yang jelas Indonesia yang mayoritas umat Islam, tentunya harus bersatu tidak boleh ada perbedaan,” katanya.

Sampai saat ini, KH Asep pun belum mengetahui apakah di Tasikmalaya ada salah satu ulama atau kiai yang masuk daftar rekomendasi Kemenag. “Saya belum tahu, saya juga tidak masuk,” paparnya.

Ketua PD Persis Kabupaten Tasikmalaya KH Yuyun menganggap bahwa keputusan pemerintah pusat soal dipilihnya 200 mubalig merupakan langkah yang tidak bijak.

Keputusan tersebut, kata dia, akan menimbulkan kecemburuan sosial diantara para ulama atau kiai. “Kriteria memilih 200 mubalig tersebut tidak jelas seperti apa. Kemudian tidak terbuka dalam penilaiannya,” ungkap dia.

Apakah dengan dipilihnya 200 mubalig tersebut, kata Yuyun, akan mampu mewakili masyarakat Indonesia yang membutuhkan pembelajaran ilmu agama. “Sementara di negara ini kan sangat banyak sekali ulama atau mubalig hampir ratusan ribu orang. Apakah bisa hanya di wakili oleh 200 orang mubalig,” tambahnya.

Wakil Ketua Bidang Tabligh Lazismu dan Lembaga Haji PD Muhammadiyah Kabupaten Tasikmalaya Ustadz Cecep Iwan Ridwan SThI mengatakan lengkah Kemenag mengundang ketidakharmonisan diantara ulama atau kiai di Indonesia. “Jangan sampai di kotak-kotak, karena semua mubalig itu sama. Tujuannya adalah menyampaikan kebaikan syariat Islam kepada masyarakat,” paparnya. (rga/dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.