Rp 15.173 per 1 USD, Pemerintah Harus Waspada

5

JAKARTA – Nilai tukar rupiah makin terpuruk pada Kamis (4/10). Berdasarkan kurs rupiah di pasar spot berada pada level Rp 15.173 per 1 USD. Tekanan atas rupiah ini akibat data ekonomi negeri adidaya itu berada dalam kondisi positif.

Seperti dilansir Bloombreg di pasar spot, rupiah sudah melemah sejak pasar perdagangan di buka. Rupiah berada di level Rp 15.156 per USD.

Menanggapi pelemahan rupiah terhadap USD, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menyarankan agar pemerintah waspada dengan melemahnya rupiah.

Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, Pemerintah harus melakukan perbaikan mendasar agar tidak terjadi kebolongan di posisi-posisi lain. Pasalnya, negara sudah menggelontorkan dana banyak untuk mengatasi masalah ini.

“Waspada aja, karena jika tidak ada perbaikan yang mendasar, ini bisa bolong semua,” kata Fahri kepada Fajar Indonesia Network, Kamis (4/10).

Menurut Fahri, Bank Indonesia (BI) selaku pemegang kuasa atas masalah ini harus transparan atas masalah pelemahan rupiah terhadap dollar. Pasalnya, BI sudah banyak menggelontorkan uang banyak untuk menambal kelamahan rupiah terhadap USD.

“Saya tidak tahu BI, harus melaporkan sudah berapa uang yang dia keluarkan untuk menambal kelemahan rupiah ini. Itu harus transparan juga, karena itu bukan jumlah uang yang kecil,” pinta Fahri.

Sementara itu, Anggota Komisi XI Johnny G Lpatte menjelaskan, terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap USD ini harus dijelaskan dengan baik melalui instrument kebijakan lewat otoritas BI yang sudah dilakukan maupun otoritas fiscal yang sudah dilakukan oleh pemerintah.

“Harus disimpaikan dengan baik melalui instrumen-instrumen baluran kebijakan, baik itu baluran kebijakan melalui di otoritas monoter Bank Indonesia yang sudah dilakukan, maupun melalui otoritas fiscal, yang juga sudah dilakukan pemerintah tapi tekanan eksternal, tekanan global ini besar sekali,” jelas Platte.

“Kita sudah melalui kebijakan moneter. Itu sudah dilakukan untuk menaikkan tingkat suku bunga berbasis poin beberapa hari lalu. Begitu Amerika menaikkan tingkat suku bunganya, ini mempengaruhi seluruh dunia, termasuk Indonesia,” sambungnya.

Meski begitu, politisi Partai Nasdem ini mengakui, pemerintah Indonesia sudah memiliki instrumen kebijakan yang bisa dilakukan. Tetapi membutuhkan waktu agak panjang.

“Kita mempunya instrumen kebijakan yang sudah dilakukan. Ada fiskal yang tidak bisa dalam waktu pendek, yang fiskalnya tentu membutuhkan waktu,” ujarnya.

Selain masalah fiskal, Platte juga menyarankan agar melemahnya nilai tukar rupiah ini dilihat dengan besaran impor negara saat ini.

Khususnya alat-alat produksi. Namun, defisit naraca perdagangan Indonesia masih baik dan tidak seburuk yang dipikirkan. (rba/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.