Rp940 Juta untuk 94.000 Nasi Bungkus di Dishub Kabupaten Tasik Disoal Warga

322
0
Deni Syukron
Loading...

SINGAPARNA – Realisasi anggaran Covid-19 di Dinas Perhubungan Kabupaten Tasikmalaya sebesar Rp 940 juta untuk 94.000 nasi bungkus disoal.

Pasalnya anggaran tersebut dinilai tidak efektif dan jauh dari tugas fungsi Dishub dalam pencegahan dan penanganan Covid-19.

Baca juga : Koni Kabupaten Tasik Bagikan Sembako ke Cabor

Ketua Wahana Lingkungan dan Pendidikan Sosial (Walpis) Kabupaten Tasikmalaya Deni Syukron mengatakan, pihaknya mempertanyakan realisasi dan perencanaan awal pembagian puluhan ribu nasi bungkus yang habis dalam waktu lima hari.

“Kami pertanyakan data penerimanya dari mana, tempatnya di mana. Apakah pembagian ini bebas seenaknya saja atau seperti apa mekanismenya. Apakah sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat atau belum dengan pembagian puluhan ribu nasi bungkus ini,” ujarnya saat dihubungi Radar, Senin (20/7).

Kata dia, pihaknya belum mengerti mekanisme pembagian 94.000 nasi bungkus yang habis dalam lima hari dengan titik pendistribusian di beberapa posko dan terminal.

Artinya masing-masing posko harus membagikan ribuan nasi bungkus dalam waktu satu hari. Kemudian menentukan siapa para penerimanya pun masih tanda tanya besar, karena dari mana bisa muncul 94.000.

Loading...

“Selain tidak jelas soal data, menurut saya ini pun kurang tepat dilakukan Dishub, karena bukan tugas pokok dan fungsinya. Apalagi soal makan minum sudah saja satu pintu di Dinas Sosial dan Dishub masih banyak aspek lain yang jauh lebih bermanfaat ketimbang hanya membagikan nasi bungkus yang tidak jelas,” ujarnya, menjelaskan.

Menurutnya, seharusnya Dishub bisa fokus pencegahan dan penanganan Covid-19 yang lebih efektif dan efisien khusus pada bidangnya, yakni perhubungan dan angkutan umum.

“Misalnya Dishub melakukan pembagian masker kepada awak angkutan dan menyediakan hand sanitizer di setiap kendaraan angkuan umum dan penyemprotan disinfektan. Sehingga tufoksinya jelas dalam pencegahan dan penaganan Covid-19,” katanya.

“Kalau menurut saya mubazir anggaran hampir Rp 1 miliar dikeluarkan Dishub untuk membagi-bagikan makanan yang tidak begitu jelas target dan sasarannya. Bukan salah, hanya kurang tepat saja. Apalagi program tersebut sudah ada di PKK Jawa Barat,” ujarnya, menambahkan.

Sebelumnya, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Tasikmalaya sudah merealisasikan anggaran pencegahan dan penanganan Covid-19 terhadap beberapa program, di antaranya gerakan nasi bungkus (gasibu) dengan anggaran sekitar Rp 940 juta yang dilakukan selama lima hari berturut-turut.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Tasikmalaya Asep Darisman mengatakan, pembagian makanan siap saji yang diberi nama program gasibu ini dilakukan selama lima hari berturut-turut di delapan posko yang didirikan dan terminal-terminal.

“Dalam satu hari bisa menghabiskan 18.800 nasi bungkus dengan total mencapai 94.000. Sasarannya awak angkutan penumpang, pedagang asongan di terminal dan masyarakat sekitar posko,” ujarnya kepada Radar, Senin (29/6).

Kata dia, kenapa membuat program gerakan nasi bungkus ini karena banyak yang terdampak akibat pandemi ini, terlebih awak angkutan dan warga di Terminal Singaparna.

Apalagi dengan adanya pembatasan dan kapasitas penumpang menjadikan pendapatan awak angkutan mengalami penurunan signifikan.

Kata dia, kenapa memilih gerakan nasi bungkus, karena dari sisi anggaran pemerintah daerah pun terbatas.

Baca juga : HEBAT.. Dishub Kabupaten Tasik Bagikan 18.800 Nasi Bungkus per Hari

Kemudian pihaknya memandang apa yang dibutuhkan hari itu pada saat pandemi adalah makan. Sehingga Dishub menetapkan untuk membuat program gerakan nasi bungkus sekaligus menyesuaikan dan anggaran yang ada.

“Sasarannya yang menerima selama lima hari ini ada yang masih itu orangnya dan baru. Kemudian penumpang di terminal termasuk posko penyekatan,” ujarnya, menjelaskan. (yfi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.