Rumah Makan Jangan Pakai Gas Bersubsidi

18
SIDAK. Tim Monitoring Gas Elpiji Kota Tasikmalaya melakukan sidak ke sejumlah restoran di Jalan Yudanegara, Selasa (14/8).

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

CIHIDEUNG – Tim Koordinasi Monitoring Gas Elpiji Kota Tasikmalaya masih menemukan kegiatan usaha kelas menengah memakai gas bersubsidi elpiji 3 kg yang peruntukannya bagi kalangan orang miskin.

Hal itu diketahui saat melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di bawah koordinasi Bagian Ekonomi Setda, Dinas KUMKMPerindag, kepolisian, Pertamina dan Hiswana Migas terhadap sejumlah rumah makan di Jalan Yudanegara dan pabrik pembuatan tahu di Kecamatan Indihiang serta Purbaratu.

“Ini upaya memastikan pendistribusian gas subsidi tepat sasaran. Maka, kita monitoring lewat sidak ke beberapa titik yang terindikasi masih mengonsumsi gas tersebut,” ujar Staf Ahli Wali Kota Tasikmalaya Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Keuangan H Tantan Rustendi usai sidak, Selasa (14/8).

Adanya temuan itu, tim memberikan pemahaman dan meminta pemilik usaha rumah makan supaya tidak lagi menggunakan gas subsidi. Kemudian beralih menggunakan gas tak bersubsidi seperti 5 kilogram atau 12 kilogram. “Artinya masyarakat yang tidak berhak tidak lagi menggunakan gas subsidi. Supaya pasokan tidak mengalami kekurangan karena untuk produksi tentu akan memakan cukup banyak kuota,” jelas dia.

Aturan penggunaan gas bersubsidi 3 kg sudah jelas bagi rumah tangga miskin yang penghasilannya Rp 1,5 juta per bulan. Sedangkan untuk usaha ditinjau dari nilai aset dan investasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM.

Di dalamnya dijelaskan usaha yang diperbolehkan menggunakan gas elpiji 3 kg yakni usaha yang berpenghasilan Rp 300 juta per bulan dan kepemilikan aset Rp 50 juta ke bawah.

Dari hasil pantauan, kata dia, sejauh ini penggunaan gas subsidi di luar peruntukan cenderung berkurang. Dari empat rumah makan yang dikunjungi hanya satu saja yang masih menggunakan gas 3 kilogram. “Yang kedapatan masih gunakan gas subsidi kami beri teguran dan meminta pemiliknya menyanggupi tidak lagi menggunakan gas 3 kilogram,” tegas mantan Kepala Dinas KUMKM Perindag itu.

Pihaknya mengakui sosialisasi penggunaan gas elpiji masih harus dilakukan lebih intens supaya benar-benar tepat sasaran. Selain itu, untuk menghindari kekurangan pasokan gas nonsubsidi 12 kg dan 5 kg yang berefek pada pemakaian gas 3 kg. “Kami juga meminta Pertamina dan Hiswana Migas untuk memaksimalkan ketersediaan gas nonsubsidi. Sehingga, ketika masyarakat membutuhkan itu bisa terpenuhi. Bukan kembali menggunakan gas 3 kilogram,” tandasnya. (igi)

loading...