Rumah Produksi Pupuk Oplosan di Mangunreja Tasikmalaya

445
0
DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA TEMPAT PUPUK OPLOSAN. Satreskrim Polsek Singaparna saat meninjau lokasi rumah produksi pupuk oplosan di Kampung Sindangkasih Desa Pasirsalam, Mangunreja Kabupaten Tasikmalaya Kamis (9/11).

TASIK – Satreskrim Polsek Singaparna Kabupaten Tasikmalaya menggerebek rumah produksi pengoplosan dan pembuatan pupuk tak berizin produksi di Kampung Sindangkasih RT 08 RW 02 Desa Pasirsalam Kecamatan Mangunreja Kamis (9/11). Polisi juga mengamankan CVA (30), pemilik perusahaan yang menjual pupuk oplosan tersebut di rumahnya, Warungpeuteuy Desa Margalaksana Kecamatan Salawu.
Kapolsek Singaparna Kompol Budiman menjelaskan pihaknya melakukan penggerebekan rumah produksi pengoplosan dan pembuatan pupuk yang tidak mempunyai izin atas laporan dari Babinkamtibmas dan Babinsa Desa Pasirsalam yang curiga dengan aktivitas pembuatan pupuk tersebut.
Kemudian pihaknya mengirimkan anggota Reskrim Polsek Singaparna untuk meninjau langsung ke lokasi. Dan ternyata benar rumah tempat pembuatan pupuk untuk tanaman padi di Desa Pasirsalam belum mempunyai izin. Di lokasi tersebut hanya ada dua pekerja yakni Os (50) dan Eh (30) warga kampung setempat.
“Kami temukan 10 ton pupuk di dalam karung sekitar 300-an karung yang sudah siap angkut untuk dijual. Untuk perizinan setelah dicek pelaku belum menempuh prosedur perizinan kepada pemerintah daerah,” terang Budiman kepada wartawan di lokasi penyimpanan pupuk di Kampung Sindangkasih Desa Pasirsalam, kemarin (9/11).
CVA, diamankan di Polsek Singaparna. Sementara dua pekerjanya, Os dan Eh berstatus sebagai saksi. Keduanya tidak mengetahui perusahaan tempat mereka bekerja memproduksi pupuk oplosan dan tidak mempunyai izin.
Menurut Budiman, dari pengakuan CVA, pupuk sudah dipasarkan ke toko-toko dan pasar di wilayah Kecamatan Singaparna, Leuwisari dan Taraju bahkan sampai ke Rancah Kabupaten Ciamis. “Pupuk tersebut digunakan untuk tanaman padi. Kami mengimbau kepada masyarakat jangan menggunakan merk pupuk Azka, nanti tanaman padinya bukan malah subur tapi menjadi kering,” imbaunya.
CVA terjerat tindak pidana pengoplosan dan pembuatan pupuk tanpa izin. Dia membuat pupuk dengan cara mengoplos pupuk Zulfat Almunium (ZA) dengan bahan-bahan lain diantaranya garam, pewarna cat (oker), kapur dan pembuatan pupuk tersebut tidak dilengkapi izin-izin dari pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.
Menurut kapolsek, CVA terjerat pasal Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 8 huruf e jo Pasal 62 dan Undang-undang RI Nomor 7 tahun 2014 tentang Perlindungan konsumen pasal 106 jo Pasal 113 dan UU RI Nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman Pasal 37 ayat 1 Jo pasal 60 Ayat (1). “Dengan Ancaman hukuman sampai lima tahun,” terang dia.
Barangbukti yang berhasil disita dari rumah produksi pembuatan pupuk oplosan termasuk dari pelaku, terang Budiman, adalah 269 karung pupuk KCL yang sudah dioplos satu karung berukuran 50 kilogram. Satu buah mesin jahit karung dengan merek Newlong, Satu buah timbangan duduk atau timbangan kilbang.
Kemudian satu buah papan alat sablon, dua buah sekop, satu buah ember, satu buah gayung, dua buah piring, satu buah mangkuk, 25 kilogram garam yang disimpan dalam karung, seperempat karung oker pewarna ukuran 50 kilogram, dua karung kapur ukuran satu karung 50 kilogram. Selanjutnya, satu buah buku salinan pendirian perseroan komanditer CV Azka Tani tanggal 30 Agustus 2017 Nomor 33.
Satu lembar tanda daftar perusahaan yang dikeluarkan dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dengan Nomor TDP : 101434200092/503.5/2458 berlaku sampai dengan tanggal 4 Oktober 2022 yang dikeluarkan tanggal 4 Oktober 2017.
Kepala Desa Pasirsalam Ee Supyano mengaku tidak mengetahui rumah pembuatan pupuk di desanya tidak memiliki izin. Bahkan pelaku tidak pernah mengajukan izin ke pemerintah desa. “Pas penggerebekan saya kaget, saya pulang kerja tahu-tahu ada polisi, babinkamtibmas dan babinsa,” ungkapnya.
Ee akan memberikan pembinaan kepada kedua warganya Os dan Eh yang tertipu bekerja di rumah produksi pupuk oplosan. “Menurut masyarakat pelaku tidak memasarkan pupuk di Mangunreja. Jadi warga pun tidak mengetahui apakah perusahaan pupuk tersebut memiliki izin atau tidak,” terangnya.
Kepala Seksi Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) dan Sarana Produksi Pertanian Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Tasikmalaya Asep Kuswara menjelaskan bahwa CV Azka Tani belum tercatat di Dispertan dan juga belum menempuh izin produksi kepada pemerintah daerah.
Menurut Asep, bahan-bahan yang dicampur dalam pembuatan pupuknya juga tidak lazim. Dispertan akan membawa sampel pupuk yang dioplos untuk diuji dilab di Lembang Bandung. “Lima hari kedepan hasilnya akan keluar. Apa saja campuran dan kandungan dalam pupuk tersebut, termasuk reaksi pupuk terhadap tanaman padi,” jelasnya.
Jadi soal kandungan di dalam pupuk, kata dia, untuk sementara dari informasi kepolisian di dalamnya mengandung ZA, kapur, zat pewarna cat dan garam. Intinya Dispertan sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian. “Jadi ada kelihaian pelaku untuk memasarkan pupuk tanpa izin, karena lokasinya berada di pelosok di Desa Pasirsalam Manunreja,” terangnya.
Tersangka CVA (30) mengaku baru tiga bulan memproduksi pupuknya untuk dipasarkan ke wilayah Singaparna, Leuwisari, Taraju sampai ke Rancah Kabupaten Ciamis. Dari tiga bulan tersebut ia berhasil membuat 10 ton pupuk dengan penghasilan mencapai Rp 8 juta. “Bahannya dicampur ZA, garam, kapur, pewarna cat. Bahan-bahannya saya dapat dari Padalarang dan Cirebon. Saya jual Rp 40 ribu per 50 kilogramnya, sekilo dijual Rp 100 perak,” ujanya.
CVA mengakui bahwa CV Azka Tani memang belum menempuh izin kepada pemerintah daerah. Dia mengaku kualitas pupuk yang dibuatnya tidak jauh berbeda dengan pupuk lainnya. Hanya dalam timbangan lebih berat. “Sebenarnya tidak ada efek buruk kepada tanaman padi jika menggunakan pupuk ini. Kualitasnya hampir sama dengan pengusaha pupuk lainnya,” jelasnya.
Pegawai di CV Azka Tani Os (50) yang juga warga di Kampung Sindangkasih mengungkapkan tidak mengetahui pupuk yang disuruh pelaku untuk dibuat ternyata tidak memiliki izin produksi dan dioplos dengan bahan-bahan yang tak lazim. ”Seperti garam, kapur dan pewarna cat. Saya hanya ikut kerja saja. Saya diberi upah kerja sehari Rp 40 ribu,” ujarnya. (dik)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.