Safana Butuh Bantuan Kita

MARI KITA BANTU. Fairuz Safana digendong ibunya, Irma Kamis (13/9).

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

INDIHIANG – Fairuz Safana butuh bantuan kita semua. Di usianya baru lima tahun, dia sakit. Di antara kedua mata anak perempuan ini terdapat benjolan. Itu sudah ada sejak dia berusia 2,5 tahun.

Cukup besar. Dengan demikian, penglihatannya terganggu. Tak hanya itu, menurut ibu kandungnya, Irma (39) anak ke limanya itu juga menderita penyakit hidrosefalus yaitu penumpukan cairan pada rongga otak. Lalu epilepsi dan bronchitis dan memiliki masalah dengan sarafnya.

Safana bisa merespons ketika dipanggil. Namun dia tidak bisa berbicara seperti anak seusianya. Hanya terdengar lenguhan-lenguhan. Itu yang keluar dari mulutnya. Sulit dimengerti apa pesannya.

Di sisi lain, Irma yang tinggal di rumah orang tuanya, di Jalan Sukaratu, tepatnya Kampung Talaga RT/RW 01/08 Kelurahan Sukamaju Kidul Kecamatan Indihiang adalah single parent. Dia harus merawat enam anak. Sehari-hari, dia berjualan kue.

“Tadinya (benjolan, Red) kecil di bagian mata saja. Sekarang jadi besar,” tuturnya kepada Radar. “Setiap seminggu sekali rutin terapi, untuk meminimalisir risiko,” terangnya.

Saat ini Safana harus kembali menjalani operasi. Namun, kata Irma, RSUD dr Soekardjo sudah tidak memiliki tenaga medis di bidang saraf. Adapun untuk bisa menggunakan BPJS, Safana harus dioperasi di RS Hasan Sadikin. “Karena sudah tidak ada dokter saraf di rumah sakit umum,” ujarnya.

Meskipun menggunakan BPJS, pihaknya harus rajin melakukan check up ke Bandung guna persiapan operasi. Itu menjadi beban bagi Irma.

“Belum ongkos. Terus kebutuhan sehari-hari di Bandung juga kan perlu biaya,” katanya.
Safana, kata Irma, bisa saja menjalani operasi di Tasik. Hanya sepengetahuannya dibutuhkan dana sebesar Rp 30 juta. Itu jika dioperasi di rumah sakit swasta.
“Inginnya sih bisa di Tasik, tapi uang segitu mana saya mampu,” keluhnya.

Irma membesarkan enam anaknya seorang diri setelah bercerai dengan suaminya. Sejak awal pernikahan, suaminya hanya sesekali pulang tanpa memberikan nafkah. “Sudah enggak kuat saya, makanya saya yang ngajuin cerai,” katanya.

Maka dari itu dia harus banting tulang untuk keperluan pengobatan Safana dan menghidupi lima anak lainnya. Dia pernah bekerja di kedai bakso, namun berhenti setelah melahirkan anak bungsunya. Untuk penghasilan tambahan, dia kadang bekerja serabutan. Irma membantu tetangga yang membutuhkan tenaganya.

Untuk menekan pengeluaran, Irma selalu menggunakan sepedanya ketika bepergian, baik itu ke rumah sakit atau pun untuk mencari nafkah.

Selepas bercerai, Irma dan anak-anaknya kembali menempati rumah orang tuanya yang sudah tinggal bersama kerabatnya yang lain. Tidak jarang dia harus berutang. Namun terkadang saudaranya pun membantu meringankan beban ekonominya. “Kadang kalau jualan kue keliling suka ada juga yang ngasih uang lebih,” ungkapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Irma berharap ada dermawan yang bisa membantu meringankan bebannya, khususnya untuk keperluan pengobatan Safana. Rasa frustrasi sering menghampiri mengenai nasib si kecil Safana. Namun selama napas anaknya masih berhembus, Irma akan selalu berusaha untuk mengobatinya.

“Kadang suka terpikir apa saya sudahi saja upaya saya. Tapi ketika melihat wajahnya (Safana), saya enggak tega,” akunya sambil menitikkan air mata. (rga)

loading...