Sambut Tol, RTRW Akan Direvisi

123

BUNGURSARI – Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya akan merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) berkaitan dengan adanya pembangunan Tol Bandung—Banjar. Pengerjaan proyek tol yang menghubungkan Gedebage, Majalaya, Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar itu akan terealisasi pada Mei.

Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman bersyukur usulan pembangunan tol yang dirintisnya sejak 2014 mulai terealisasi. Tol itu sangat penting lantaran selama ini transportasi dan distribusi barang-barang dari dan menuju Kota Tasikmalaya terhambat arus lalu lintas yang padat. “Saya sudah usulkan beberapa kali, alhamdulillah akhirnya terealisasi,” ucapnya, Rabu (6/2).

Dalam menyambut kehadiran jalur bebas hambatan itu, pihaknya tengah membahas revisi RTRW. Revisi tersebut dilakukan karena pada RTRW yang sudah disusun sebelumnya tidak terbayangkan ada percepatan pembangunan di Kota Resik. Misalnya, ada Jalan Mangkubumi—Indihiang (Mangin), Lingkar Utara (Lingtar), Bandar Udara (Bandara) Wiriadinata dan penegerian Universitas Siliwangi (Unsil) serta yang terbaru pembangunan Tol Bandung—Banjar. “Kita akan sesuaikan dengan rencana ke depan seperti apa atas adanya kondisi sekarang ini,” tuturnya.

Melalui revisi RTRW untuk rencana pembangunan kota sampai 2031 itu, pemkot bertekad menjadi daerah perdagangan dan industri termaju di Jawa Barat. Maka dari itu, revisi RTRW harus benar-benar matang. Apalagi, kehadiran tol akan memberikan multiplier effect dalam berbagai bidang. “Maka harus kita perhitungkan antisipasinya, terutama memilah lahan mana yang akan digunakan sebagai kawasan industri perdagangan,” ujarnya membeberkan.

Budi mengungkapkan wilayah yang bakal dijadikan kawasan industri di antaranya Jalan Mangin, Lingkar Selatan (Lingsel), SL Tobing, Letjen Mashudi dan Gubernur Sewaka. Meski di Jalan Letjen Mashudi tidak akan optimal, lantaran adanya kawasan Bandara Wiriadinata, dia berharap ke depannya di wilayah tersebut bisa menjadi lokasi perindustrian bahan baku yang berkaitan dengan potensi ekonomi kreatif Kota Tasikmalaya. Dengan demikian, bisa turut mendongkrak suplai bahan para pelaku industri khas daerah. “Kita harus siapkan, efek sosialnya dari pembangunan itu harus diimbangi. Sebab, nantinya Tasikmalaya akan jadi Bandung-nya Priangan Timur,” ucap dia.

Wakil Gubernur Jawa Barat H Uu Ruzhanul Ulum menerangkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat tengah menjalankan tahap lelang dan penentuan lokasi Tol Bandung—Banjar. Pemprov dan pemerintah daerah (pemda) telah melakukan upaya negosiasi dengan para pemilik lahan yang terlewati megaproyek nasional tersebut. Ganti rugi pembebasan lahan pun akan disesuaikan dengan penaksiran dari tim appraisal. “Untuk harga ganti lahannya nanti dilaksanakan tim survei harga,” tuturnya.

Uu menyatakan kehadiran tol tersebut sudah urgen. Hal itu karena arus lalu lintas di jalur Jawa Barat selatan kerap macet. Pihaknya juga sudah meminta pintu keluar-masuk tol tidak terlalu jauh dari Kabupaten dan Kota Tasikmalaya.

Asas keadilan tersebut, kata Uu, supaya manfaat keberadaan tol bagi perkembangan ekonomi, sosial dan lain sebagainya dapat terasa masyarakat Tasikmalaya. “Jadi tidak jauh dari wilayah pemkab dan pemkot, keduanya bisa terakomodir. Alhamdulillah, informasinya di Indihiang pintu tolnya jadi terbilang dekat keduanya,” ucap Uu menjelaskan.

Sejauh ini, informasi yang diterimanya pembangunan tol di wilayah Jawa Barat selatan bakal dilaksanakan dalam tiga tahapan. Pertama, Bandung—Tasikmalaya, kemudian Tasikmalaya—Banjar. “Setelah itu lanjut ke Banjar—Cilacap. Informasi yang kami terima seperti itu,” tutur dia. (igi)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.