Pemkab Tasikmalaya Dianggap Tak Serius Urus Lingkungan

Sampah Rumah Tangga 914 Ton Sehari

346
0

SINGAPARNA – Dalam satu hari, masyarakat Kabupaten Tasikmalaya membuang sampah sebanyak 914 ton atau 333.817 ton setiap tahunnya. Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Bina Produksi Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tasikmalaya Drs Aam Rahmat Selamet MPd kepada Radar, Minggu (3/2).

Kata Aam, jumlah produksi sampah setiap harinya di Kabupaten Tasikmalaya memang cukup besar. Didominasi dari sampah rumah tangga. Dari 39 kecamatan, Karangnunggal menjadi penyumbang sampah rumah tangga paling banyak dengan jumlah 44 ton sehari. Kecamatan Cigalontang produksi sampahnya mencapai 36 ton per hari. Selanjutnya rumah tangga di Singaparna memproduksi sampah 35 ton setiap harinya. Kemudian Cipatujah dan Sodonghilir masing-masing 34 ton dan Manonjaya 32 ton. Jumlah tersebut setelah dihitung produksi sampah rumah tangga sebanyak 0,525 kilogram sehari.

“Persoalan sampah ini perlu kepedulian dari semua pihak, bukan hanya dari pemerintah saja. Makanya harus ada kolaborasi semua pihak, sehingga ada kesadaran dari masyarakat untuk menekan angka produksi sampah,” ujarnya.

Petugas kebersihan, kata dia, terus berupaya maksimal mengangkut seluruh sampah yang diproduksi oleh masyarakat. Maka dari itu, masyarakat harus membuang sampah kepada tempat yang sudah ditentukan untuk mempermudah petugas dalam pengangkutannya.

“Jangan sampai membuang di pinggir jalan yang bukan tempatnya. Karena mengganggu kenyamanan dan kesehatan serta supaya seluruh sampah dapat terangkut oleh petugas,” katanya.

Lanjut dia, budaya membuang sampah sembarangan ini harus benar-benar diubah. Saat ini, masih banyak masyarakat yang membuang sampah tidak pada tempat yang sudah ditentukan petugas. Sehingga lokasi tersebut menjadi tempat pembuangan sampah liar.

Jelas dia, banyaknya sampah yang diproduksi masyarakat Kabupaten Tasikmalaya dalam sehari tak sebanding dengan armada yang dimiliki petugas. Saat ini, hanya ada tujuh unit. Itu pun lima armada yang biasa dioperasikan, karena satu unit rusak dan satunya lagi cadangan. Kelima armada sampah ini baru bisa melayani pengangkutan sampah di 14 kecamatan. Idealnya, setiap kecamatan ini dilayani oleh satu armada untuk pengangkutan yang maksimal dan tepat waktu. “Tahun ini, kita sudah mengajukan untuk penambahan armada sampah. Mudah-mudahan bisa terealisasi untuk pelayanan yang lebih baik,” harapnya.

Lanjut dia, 14 kecamatan yang sudah terlayani armada sampah diantaranya Manonjaya, Singaparna, Ciawi, Rajapolah, Cisayong, Mangunreja, Sukarame, Jamanis, Leuwisari, Padakembang, Tanjungjaya, Salawu, Bantarkalong dan Karangnunggal. Itu pun belum semua desa. “Untuk yang belum terlayani pengangkutan armada dimaksimalkan dengan TPS yang menerakan sistem 3R (reduce, reuse dan recyle),” terangnya.

Sistem 3R, kata dia, memilah sampah organik dan anorganik. Sehingga bisa dilihat mana sampah yang bisa dilakukan duar ulang atau dibuang. Termasuk memilih sampah organik yang bisa dijadikan sebagai pupuk kompos.

“Pengelola TPS 3R ini akan mendatangi masyarakat untuk menarik sampah organik dan anorganik. Kemudian, dari TPS akan langsung memilah mana sampah yang bisa didaur ulang atau tidak,” katanya.

Selain itu, dia berharap pemerintah desa bisa ikut mengalokasikan dana desa untuk pengelolaan sampah dengan sistem TPS 3R, sehingga bisa menekan jumlah produksi sampah setiap harinya.

Mengingat, kata dia, Kabupaten Tasikmalaya saat ini hanya memiliki satu tempat pembuangan akhir (TPA) di Nangkaleah Kecamatan Mangunreja dengan luas 6,2 hektare. Dinas LH sudah merencanakan untuk pembangunan TPA baru di Kecamatan Pagerageung, Ciawi, Manonjaya, Taraju, Karangnunggal dan Cikatomas.

Terpisah, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Singaparna Asep Abdul Rofiq menilai pemerintah daerah belum maksimal dalam menyikapi persoalan sampah. Itu terbukti dengan minimnya armada pengangkut sampah di masyarakat. “Kurangnya armada sampah ini menandakan Pemkab Tasikmalaya tak serius menyelesaikan persoalan sampah. Ini terkesan persoalan lingkungan dikesampingkan. Saya lihat masa Bupati Uu dan Ade saat ini tidak ada keseriusan terkait pengelolaan sampah, padahal ini merupakan citra dari suatu pemerintahan,” paparnya kepada Radar, tadi malam.

Lanjut dia, di Kecamatan Singaparna sendiri pengelolaan sampah masih belum maksimal. Itu terbukti dengan hadirnya TPS liar atau yang sudah overload sehingga daya tampungnya sudah tidak mencukupi.

“Di sepanjang Jalan Raya Timur Singaparna ini sering terdapat banyak tumpukan sampah yang belum terangkut. Itu jelas mengganggu kenyamanan warga,” ucapnya.

Fasilitator Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat yang juga Ketua Ecovillage Kali Citanduy Karom SPdi menilai pemerintah daerah masih jauh dari kata serius dalam pengelolaan sampah. “Faktanya saat ini masih jauh dari layak dalam pengelolaan sampah. Itu dilihat dari armada pengangkut sampah pun masih sangat kekurangan dan tidak sebanding dengan luas Kabupaten Tasikmalaya,” katanya.

Lanjut dia, persoalan sampah ini jangan pernah dianggap remeh. Karena, seiring meningkatnya jumlah penduduk, itu pun berdampak terhadap peningkatan produksi sampah. Maka dari itu, harus segera diantisipasi sejak dini dan disiapkan fondasi yang kuat dalam pengelolaan sampah. “Kalau ini dibiarkan seperti ini, artinya pengelolaan belum maksimal. Persoalan sampah ini akan menjadi bom waktu di kemudian hari,” pungkasnya. (obi/yfi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.