Santri Menjaga NKRI

357
0
Radar Tasikmalaya TV MEMBAHAS HARI SANTRI. Didin Burhani MAg (kanan) dan Bubung Nizar SPdI (kedua dari kiri) membahas makna Hari Santri di Studio Radar Tasikmalaya TV, kemarin (23/10).

TASIK – Pimpinan Pesantren Al Mukhtariyah Tasikmalaya Bubung Nizar SPdI mengatakan Kirab Santri atau Hari Santri Nasional ke-3, Minggu 22 Oktober 2017, menjadi kebanggaan bagi santri dan kiai. Karena santri diakui pemerintah dan menjadi pengingat Resolusi Jihad untuk mencapai kemerdekaan.
Senin (23/10), Bubung mengatakan pada Kirab Santri, dua hari lalu, dia mengajak seluruh santrinya untuk upacara di kompleks pesantrennya sebelum mengikuti upacara serentak di Dadaha, Kota Tasikmalaya.
”Keterkaitan makna untuk seorang santri pada Kirab Santri ini sangat luar biasa. Pertama kita tidak lepas dari meneladani para kiai, bagiamana peran ulama yang ikut serta dalam memerdekakan Indonesia. Mengingatkan kembali sejarah peran kiai karena tidak lepas dari itu, seperti yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari yang menjadi pelopor dalam melawan penjajah masuk kembali ke Indonesia setelah kemerdekaan,” tutur Bubung saat talk show Bincang Radar di Studio Radar TV Senin (23/10).
Santri, terang Bubung, jika dikategorikan, ada santri khos ada santri ‘Am. Santri khos yakni santri yang menetap di pesantren mengaji di sana, sedangkan santri ’Am yang ikut pengajian di majelis taklim satu minggu sekali atau diskusi bareng dan lainnya.Santri dalam tulisan Arab, terangnya, terdiri dari huruf Sin, Nun, Ta, Ro dan Ya yang memiliki makna. Huruf Sin, salikun ’alal akhiroh ’alal ilmi yakni selalu mencari ilmu, selalu melakukan perbuatan untuk kemanfaatan akhirat dengan dikonsepkan addunya mazro’atul akhiroh atau dunia sebagai ladang untuk akhirat.
Huruf Nun, na’bul ulama yakni menjadi pengganti ulama dan ulama adalah pewaris para Nabi. Huruf Ta, tarqul ma’asyi adalah santri harus meninggalkan perbuatan yang tidak baik yang bertolak belakang dengan aturan agama. Huruf Ro, roogibul fil khoir yang artinya selalu ingin berbuat baik dan suka berbuat baik dan huruf Ya, yarju’ illallahi ta’ala wassa’aadah fiddunya wal aakhiroh, berharap santri mendapat keridhoan Allah dan mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat.
”Jadi santri ini harus bisa menjaga perannya sebagai ulama, bukan malah sebaliknya, mencoreng nama baik pesantren atau ulama. Santri harus menjadi santri seutuhanya. Tidak hanya ngaji di pesantren, hormat gurunya namun juga harus mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Tutur kata yang lembut, akhlak yang baik dan santri juga harus paham sejarah pesantren sehingga santri bisa memaksimalkan perannya dalam menjaga NKRI. Jadi santrikanlah putra putri kita, lingkungan kita dan semua yang ada di disekitar di mana saja, bisa khos atau juga ’am agar tidak mudah di adu domba,” ajak tokoh muda NU ini. (ais)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.