Santri Milenial Dilatih memBuat Konten Positif

75
0
CINDERAMATA. Bupati Garut H Rudy Gunawan menghadiri seminar dan workshop Peace Stories for Peace Islamic Society di Hotel Kampung Sampireun. Kegiatan itu berlangsung pada Sabtu-Minggu (25-26/5). yana taryana / rakyat garut

SAMARANG – Alumni Visitor Internasional Leadership, program bersama Kedutaan Besar Amerika Serikat mengadakan seminar dan workshop Peace Stories for Peace Islamic Society di Hotel Kampung Sampireun selama dua hari, Sabtu dan Minggu (25-26/5). Kegiatan bertajuk Generating Positive Islamic Content in Internet Trough Millenial Generation to Eradicate Terorism Content itu diikuti 100 peserta, mulai pelajar, santri, mahasiswa dan perwakilan organisasi kepemudaan muslim se-Jawa Barat.

Ketua panitia kegiatan Muhammad Fakhruddin mengatakan kegiatan tersebut untuk memberikan ilmu kepada generasi milenial di kalangam muslim terkait pembuatan konten positif. Hal itu dilakukan karena saat ini zaman terus mengalami perubahan dan perkembangan, termasuk digital. “Jadi sudah sepatutnya generasi muda untuk mengikuti perubahan, perkembangan zaman digital,” terangnya.

Maka dari itu, kata dia, untuk mengikuti perkembangan zaman digital pihaknya memberikan literasi kepada generasi milenial supaya tidak salah arah. “Jadi kita adakan pesantren digital ini untuk membentengi generasi milenial dari dampak buruk perkembangan digital,” terangnya.

Dalam kegiatan pesantren digital, pihaknya memberikan pembelajaran terkait pembuatan konten positif dari mulai foto, video dan tulisan. “Peserta diajarkan untuk bisa mengaktualisasikan konten-konten positif di media sosial melalui tulisan, fotografi dan videografi serta kemampuan melihat konten sebelum membagi pada orang lain untuk menangkal hoaks dan bijak bersosial media,” ujarnya.

Ketua Forum Komunikasi Kelompok Informasi Masyarakat (FK-KIM) Garut Janur M Bagus mengatakan kegiatan ini sebagian bagian kampanye global untuk menyadarkan masyarakat terhadap bahaya penyebaran konten negatif atau hoaks. “Makanya kami berikan pemahaman bagi mereka bagaimana memilih konten, meng-upload hingga mengemasnya dalam berbagai media,” terang salah satu narasumber dalam kegiatan itu.

Janur menilai selama ini peserta yang mayoritas kalangan generasi muda milenial, merupakan pengguna terbesar sosial media, namun minim informasi bagaimana bahaya penyebaran konten linterasi negatif. “Jika asal comot itu bahaya bagi masyarakat dan mereka sendiri,” ujar Abah, panggilan akrabnya.

Ia mencontohkan bagaimana cara mengambil gambar dan mengemasnya dengan menghindari foto dan gambar video provokatif, mengandung unsur SARA yang bisa membuat gaduh masyarakat. “Jurnalis saja dalam mengambil gambar, menulis naskah punya kode etik, ini pun sama kita berikan pemahaman,” kata dia.

Dengan upaya itu, maka dengan sendirinya bisa menjadi sara efektif bagi generasi muda, untuk menangkal hoaks atau berita bohong sejak dini. “Mereka harus sadar apa yang dia perbuatnya harus dipertanggung jawabkan,” terangnya.

Wakil Atase Kebudayaan Kedubes AS Emily Abraham mengatakan persoalan penyebaran konten negatif, berbau SARA dan kekerasan, merupakan persoalan serius yang dihadapi Amerika Serikat dan Indonesia saat ini. “Oleh karena itu sangat dibutuhkan bagaimana menyiapkan dan menghasilkan konten positif bagi masyarakat,” ujarnya diterjemaahkan oleh Indar Juniardi, perwakilam Kedubes AS kepada wartawan kemarin.

Berangkat dari persoalan tersebut, akhirnya kedua negara melakukan komunikasi intensif untuk menghasilkan kebijakan, hingga penguatan undang-undang dibidang hukum. “Kehadiran kami di sini yang merupakan alumni kerja sama program komunikasi Amerika-Indonesia, memberikan pemahaman bagaimana menyiapkan konten positif itu,” papanya.

Dalam praktiknya, mereka diberikan pemahaman bagaimana membuat konten berita yang positif, mengedit gambar, video yang dinilai positif bagi masyarakat. “Seperti halnya di Thailand, kami pergunakan kurikulum google, mulai transliter, penggunaan konten hingga gambar,” katanya.

Meskipun demikian, panitia tetap mengharapkan adanya sikap kritis dan membangun terhadap seluruh bidang kehidupan, yang ditunjukan seluruh peserta yang hadir. “Kami ingin menghasilkan generasi muslim tanah air yang mandiri dalam berbagai hal,” ujarnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.