Santri Positif Corona di Garut Terus Bertambah

76
0
radartasikmalaya.com
ilustrasi covid-19/ radartasikmalaya.com

SAMARANG – Kasus terkonfirmasi positif Covid-19 dari kalangan santri terus mengalami penambahan. Awalnya sebanyak 38 orang, kini menjadi 41 santri dan pengurus pesantren.

Camat Samarang Neneng Martiana mengatakan santri dan pengurus pesantren yang terkonfirmasi positif Covid-19, saat ini telah dibawa ke Rumah Sakit Medina untuk menjalani isolasi. Diduga, penyebaran Covid-19 di lingkungan pesantren berawal dari aparatur sipil negara (ASN) yang terkonfirmasi positif.

Kebetulan, suami dari ASN itu merupakan pengurus pesantren di Kecamatan Samarang, sehingga Covid-19 juga menular kepada para santri. “Jadi dari istrinya yang ASN menular ke suaminya yang pengurus, lalu menular ke santri,” terangnya.

Neneng menambahkan rata-rata santri yang terkonfirmasi tak memiliki gejala. Namun, mereka tetap dibawa ke rumah sakit untuk menjalani isolasi. Sementara para santri yang negatif dikarantina di pesantren.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut juga menerapkan pembatasan sosial berskala mikro (PSBM) di lingkungan pesantren. PSBM dilakukan sejak Senin hingga tujuh hari ke depan. “Kegiatan belajar mengajar di pesantren juga dihentikan. Namun untuk mengaji tetap berjalan,” ujarnya.

Neneng mengatakan hingga saat ini petugas di lapangan masih melakukan penelusuran (tracing) kepada para santri dan pengurus. Ia berharap munculnya klaster penyebaran Covid-19 di lingkungan pesantren itu tak berdampak ke warga.

“Kebetulan lokasi pesantren agak jauh dari lingkungan warga, makanya PSBM mudah. Insya Allah tak menyebar ke warga. Di sana juga tak terlalu banyak santri yang mondok, hanya ada 70-an santri,” katanya.

Sebelumnya, klaster pesantren juga muncul dari Kecamatan Pangatikan. Sebanyak 163 santri dan pengurus pondok pesantren di Kecamatan Pangatikan itu dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

Baca juga : Sehari, 99 Warga Garut Positif Corona, Muncul Kluster-Kluster Baru

Namun, saat ini seluruh santri dan pengurus telah dinyatakan sembuh. Para santri dan pengurus pondok pesantren itu telah melewati massa isolasi dan diperbolehkan kembali pulang ke rumahnya masing-masing.

Juru Bicara Pondok Pesantren Cipari Nasrul Fuad mengatakan dari 163 santri dan pengurus yang terkonfirmasi positif Covid-19, seluruhnya telah diperbolehkan kembali pulang ke rumah masing-masing. Mereka dinyatakan sehat setelah melalui massa isolasi selama 10 hari.

“Jadi dari total 163 orang, semua sudah dinyatakan selesai isolasi. Mereka pulang ke rumah masing-masing melalui puskesmas,” ujar Nasrul saat dihubungi, Minggu (8/11).
Ia menyebutkan, gelombang pertama santri dipulangkan pada Senin (2/11) sebanyak 81 santri. Kedua, pada Selasa (3/11) sebanyak 33 santri dipulangkan. Terakhir, pada Jumat (6/11) dipulangkan sebanyak 49 santri dan pengurus.

Selain itu, lanjut dia, para santri yang sehat dan menjalani karantina di pesantren juga telah dipulangkan semuanya. Para santri putra sudah dipulangkan sejak pekan lalu. Sementara santri putri dipulangkan pada Rabu (4/11). “Semua masih dalam masa karantina mandiri di rumah masing-masing selama empat hari,” terangnya.

Nasrul mengatakan, untuk sementara kegiatan di lingkungan pesantren dihentikan. Para santri akan tetap diberi materi pelajaran, tapi melalui pembelajaran jarak jauh secara daring (online), baik untuk madrasah maupun pesantren.

Hal itu dilakukan agar dapat untuk menetralisir lingkungan pesantren dari penyebaran Covid-19, serta perbaikan sarana dan prasarana yang ada. “Kita hentikan dulu kegiatan di pesantren yang sifatnya offline. Nanti pemberitahuan lebih lanjut akan kita umumkan, apakah sampai Desember atau akhir November sudah bisa masuk,” katanya.

Meski belum menentukan waktu kegiatan di pesanten tersebut kembali dilakukan, menurut Nasrul, pihaknya telah menyiapkan sejumlah kebijakan dalam mengantisipasi penyebaran Covid-19 di lingkungan pesantren untuk kedua kalinya.

Kebijakan pertama yang mungkin akan dilakukan, masuknya para santri akan dilakukan secara bertahap. “Mulai dari 25 persen, 50 persen, baru semuanya,” ujarnya.

Rencana kedua, lanjut dia, yaitu dilakukan sistem belajar secara bergilir. Misalnya, santri tingkat awal akan masuk terlebih dahulu dalam beberapa waktu. Setelah itu, secara bergantian dengan santri tingkat lainnya.

Terakhir, rencana ketiga santri akan langsung semuanya. “Namun kemungkinan kita gunakan plan A atau plan B. Mudah-mudahan tidak timbul klaster lagi,” terangnya.

Nasrul menambahkan, ketika santri kembali diperbolehkan kembali ke pesantren, penerapan protokol kesehatan juga akan diperketat. Selain itu, kunjungan orang tua akan sangat dibatasi. Termasuk mobilitas pedagang dan interaksi santri dengan masyarakat sekitar, akan sangat diawasi.

“Memang saya pernah bilang, pesantren itu memiliki tingkat risiko yang tinggi dalam penyebaran Covid-19. Karena mobilitas luar biasa. Itu penerapan protokol kesehatannya yang harus ditingkatkan,” paparnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.