Satu Juta Warga Indonesia Katarak, Sinar UV B Diduga jadi Penyebab Utama

11

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

JAKARTA – Masyarakat Indonesia banyak terpapar penyakit katarak. Saat ini ada sekitar satu juta orang buta karena katarak.

Berdasarkan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB), rata-tata angka kebutaan di Indonesia sebanyak tiga persen untuk penduduk di atas usia 50 tahun.

Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), dr. Muhamad Sidik, Sp.M(K) mengatakan, ada beberapa hal yang dicurigai jadi penyebab seseorang menderita katarak, yakni karena Indonesia berada di garis equator 0 derajat yang tersorot banyak sinar matahari dan terus-menerus.

Dicurigai sinar UV B bisa mempercepat timbul katarak. Selain itu, ada juga beberapa penyebab lain yakni karena seaeorang menderita pengakit diabetes melitus atau kencing manis.

“Penyebab penyakit katarak itu ada beberapa hal diantaranya karena terkena sinar UV B termasuk karena menderita penyakit diabetes melitus atau kencing manis. Orang kencing manis itu jika kadar gulanya meningkat terus bisa menimbulkan katarak dengan cepat,” kata dr. Sidik, Kemarin

Menurutnya pada umumnya katarak sulit untuk  dicegah. Yang bisa dicegah adalah kebutaan karena katarak.

“Kebutaan itu bisa dihindari dengan cara dioperasi. Operasi katarak adalah operasi paling efektif, paling efisien, paling menimbulkan benefit paling tinggi daripada tindakan prosedur lainnya. Sehingga orang yang tadinya tidak produktif jadi produktif lagi,” jelasnya.

Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama seluruh stakeholder termasuk Komisi Mata Nasional (Komatnas) sudah menyusun satu peta jalan penanggulangan gangguan penglihatan di Indonesia.

Peta jalan tersebut telah diadopsi oleh Organisasi Internasional Pencegahan Kebutaan (IAPB) untuk dijadikan contoh bagi negara lain.

“Peta jalan ini kalau memperlihatkan bagaimana strategi mengatasi gangguan penglihatan yang dimulai dari tingkat Posbindu, fasilitas kesehatan primer, dan RS tipe C sampai tipe A,” jelasnya.

Sementara Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek mengatakan, permasalahan gangguan penglihatan harus dikembalikan pada upaya promotif dan preventif.

Hal itu, jelas Nila, berhubungan dengan perilaku masing-masing individu karena menurut bagaimana pun juga regulasi tentang kesehatan mata dibuat akan sia-sia jika perlaku setiap orang tidak berubah.

“Jadi, lakukan perilaku hidup sehat seperti olahraga, makan buah dan cek kesehatan secara berkala. Cek kesehatan berkala itu penting, mata kalau sudah kena (bermasalah) karean sakit gula misalnya, butanya bisa permanen. Jadi yang penting itu bukan ngobatin tapi cegah. Artinya, pola hidup sehat harus tetap dijaga,” kata Menkes.

(Gat/fin)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.