Sawah Tercemar, Petani Enggan Bayar Pajak

50
0

GARUT KOTA – Petani di Kelurahan Sukamantri Kecamatan Garut Kota menolak membayar pajak tanah yang digunakan sebagai area pesawahan. Tindakan itu dilakukan, karena lahan sawah yang mereka garap terdampak limbah industri.

“Iya benar, petani di sini (Sukamantri, Red) sekarang tidak mau bayar pajak. Alasannya, sawah terkena limbah kulit, sehingga sering gagal panen dan petani juga rugi,” ujar Deni Herdiana, petugas pajak lapangan Kelurahan Sukamantri kepada wartawan Jumat (5/7).

Menurut dia, petani yang tidak mau bayar pajak tersebar di empat kampung. Diantaranya Kampung Lengkong, Bojonglarang, Copong dan Tanjungpura. “Dari 90 hektare lahan sawah itu khususnya di Kelurahan Sukamantri, 60 persen di antaranya tidak memenuhi kewajibannya membayar pajak,” katanya.

Petani, kata dia, seringkali mengeluhkan ke petugas kelurahan tentang lahan sawahnya yang merugi karena gagal panen. Diduga dampak dari limbah. Limbah dari kawasan industri di kawasan Garut Kota itu mengalir ke sungai besar, bahkan ke anak sungai yang selama ini mengairi areal lahan pertanian.

Selain mencemari aliran sungai, limbah cair tersebut menyebabkan air sumur warga kotor, sehingga tidak bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. “Kami mendesak pemerintah dan para pengusaha untuk memfungsikan atau mengoperasikan Instalasi Pengolahan Air Limbah yang sudah ada,” ujarnya.

Hal senada dikatakan, Irwan Saputra (45), salah satu petani di wilayah tersebut. Menurut dia, petani bukannya tidak mau bayar pajak, tetapi tidak mampu karena setelah adanya limbah selalu gagal panen. “Mau bayar pajak dari mana, panennya juga selalu gagal,” katanya. Dia berharap Dinas Lingkungn Hidup turun tangan menyelesaikan persoalan pencemaran limbah kulit. (yna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.