Sebagian Ketua RW di Kota Tasik Tolak Bantuan dari Pemprov Jabar, Ini Alasannya

13239
7
ISTIMEWA BANTUAN. Barang-barang ini merupakan bantuan dari Pemprov Jabar kepada masyarakat Kota Tasikmalaya.

CIHIDEUNG – Penyaluran bantuan dari Pemprov Jabar bagi masyarakat terdampak Covid-19 di Kota Tasikmalaya tak semuanya mulus.

Sebagian ketua RW menolak bantuan tersebut, karena khawatir terjadi kecemburuan di antara warga.

Ketua RW 17 Kampung Ciponyo Kelurahan Mangkubumi Kecamatan Mangkubumi Tatan Sutarman mengaku dari 55 warganya yang didata untuk mendapatkan bantuan dari Provinsi Jawa Barat, sampai kemarin belum satu pun mendapatkannya.

“Beberapa RW di wilayah kami memang ada yang sudah dapat, namun diantaranya ditolak daripada membuat kecemburuan antar warga,” kata dia kepada Radar, Minggu (26/4).

Baca juga : Bantuan Terdampak Covid-19 Cair Bertahap, Warga Kota Tasik Diminta tak Khawatir

Menurutnya, di Kelurahan Mangkubumi, ada beberapa RW memutuskan supaya bantuan dari provinsi itu tidak diterima warga, karena penyalurannya parsial.

Dia mencontohkan di salah satu RW, dari sekian ajuan untuk mendapatkan bantuan, hanya terealisasi tujuh warga yang mendapatkan bantuan.

“Otomatis RW pun khawatir di tengah bulan Ramadan ini terjadi perselisihan antar warganya. Maka diputuskan bantuan tidak diterima dulu,” kata Tantan menceritakan.

Dia berharap bantuan dapat didistribusikan pemerintah merata dan serentak. Itu supaya tidak memicu gejolak di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang kian lesu.

“Kami harap jeda realisasinya bisa beriringan supaya warga tidak was-was sebab tidak akan kebagian,” harapnya yang juga Wakil Ketua DPK KNPI Mangkubumi ini.

Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Muslim MSi mengaku mendapati laporan dari warga bahwa sejumlah bantuan di beberapa wilayah mengalami penolakan.

Ia memaklumi masyarakat sejatinya tidak ingin tahu, dari mana sumber bantuan tersebut. Yang jelas ketika mereka merasa masuk kriteria layak menerima bantuan, warga tersebut akan kecewa ketika dia tidak mendapatkannya.

Sementara tetangganya yang bernasib sama dengannya mendapat bantuan.

“Harapan kami Pemkot terus berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Barat berkenaan laporan dan situasi yang terjadi saat ini,” pintanya.

Selain itu, lanjut politisi PDIP tersebut, sejumlah warga pun mengeluhkan komoditas bantuan yang dialokasikan Rp 350.000 bagi satu keluarga rumah tangga sasaran (KRTS), nampaknya tidak sesuai harga di pasaran.

Melihat komoditas bahan pokok seperti beras 10 kilogram, mi instan 16 buah, terigu 1 kilogram, minyak 2 kantong, gula pasir 1 kilogram serta telur, vitamin dan makanan kaleng.

“Kita juga dapat keluhan kalau jumlah bantuan rasanya tidak sampai Rp 350.000. Kita harap bantuan nanti yang dari Pemkot bisa lebih tertib dan tidak menimbulkan persoalan baru,” kata dia menyarankan.

Terpisah, Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinas Sosial Kota Tasikmalaya H Agus Jamaludin menjelaskan adanya kesalahpahaman antara pendataan yang dilakukan RT/RW dengan realisasi pendistribusian bantuan dari Pemprov Jabar –yang disalurkan sejak Jumat (24/4) kepada masyarakat.

Pihak RT/RW melakukan pendataan untuk bantuan sesuai Non Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), namun Pemprov Jabar malah lebih dulu mendistribusikan bantuan untuk masyarakat berdasarkan DTKS.

“Memang pendistribusian itu terdiri dari beberapa gelombang, sebab terjadi salah pemahaman warga terhadap RT/RW ketika warga yang didata (Non DTKS, Red) malah belum dapat bantuan semua,” kata dia.

Dia menceritakan hasil video conference antara Dinas Sosial Kota Tasikmalaya dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Pihaknya menyampaikan agar Pemprov Jabar segera merespons kegaduhan di masyarakat soal bantuan tersebut.

Mengingat saat ini bulan Ramadan, kata dia, eloknya pendistribusian bantuan berjalan khidmat dan kondusif.

“Pak Gubernur sudah menyampaikan bahwa yang Non DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial, Red) pun segera direalisasikan. Biayanya 90 persen dari Provinsi, 10 persen dari Pemkot. Maka insyaallah tidak akan berangsur lama,” kata Agus.

Agus yang juga pengurus Asosiasi RT/RW Kota Tasikmalaya ini merasa berkewajiban mengarahkan para pengurus RT dan RW supaya bisa mengedukasi warga masing-masing soal bantuan dari pemerintah tersebut.

“Nah informasinya pencairan itu bisa dua kali selama Ramadan. Awal puasa yakni April dan menjelang Lebaran sekitar Bulan Mei. Semoga lebih cepat lebih baik,” harap Agus.

Di sisi lain ia mengakui masifnya respons warga mengenai distribusi bantuan dari pemerintah. Baik dari laporan warga terhadap para pengurus RT/RW, mau pun posting-an netizen di media sosial.

“Memang bantuan yang didistribusikan (dari Pemprov Jabar, Red) merupakan data eksisting, bukan dari pendataan para RT/RW yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. DTKS jumlahnya lebih sedikit sementara non-DTKS itu cukup banyak dari hasil pendataan kemarin,” ujar dia.

Wali Kota Tasikmalaya H Budi Budiman, sebelumnya, menginstruksikan camat, lurah, RW dan RT mengedukasi masyarakat soal bantuan dari pusat, provinsi dan daerah.

Supaya tidak terjadi persoalan, karena bantuan didistribusikan secara bertahap tidak sekaligus.

“Saya meminta semua bekerja, karena isu-isu yang tidak benar jadi bantuan malah sulit diterima. Kan beragam, ada PKH, sembako, transfer, Prakerja. Itu semua didistribusikan beberapa gelombang,” kata Budi usai melepas personel pendistribusian bantuan di Gudang Kantor Pos Tasikmalaya Jalan Mayor Utarya, Jumat (24/4) pagi.

Menurutnya, lurah dan RT/RW harus menyosialisasikan bahwa calon penerima bantuan yang sudah didata di setiap wilayah sedang diproses supaya segera menerima bantuan dari pemerintah.

Pada waktunya nanti, semua akan menerima dari sumber pintu bantuan yang beragam.

Baca juga : Warga Tawang Kota Tasik yang Meninggal Positif Corona Terpapar Sepulang dari Zona Merah

“Beberapa bantuan juga kan ada yang sudah berjalan, seperti BPNT, PKH, sendiri-sendiri. Untuk dari Provinsi mulai berjalan secara bertahap hari ini (kemarin), dan dari kota nanti untuk menyisir mana yang belum, baik DTKS mau pun Non DTKS,” kata dia memaparkan.

Budi menjamin seluruh masyarakat yang didata dan sudah ter-input serta terverifikasi diklasifikasikan menjadi sembilan pintu untuk penerima bantuan.

Secara jumlah, informasi terakhir yang dihimpun Pemkot, calon penerima di Kota Resik cukup tinggi. “Semoga semua terakomodir. Masyarakat harus paham, yang belum menerima sekarang itu karena sumber keuangannya berbeda,” kata Budi. (igi)

Loading...
loading...

7 KOMENTAR

  1. Bapak gubernur jabar yang terhormat kumaha ieu yang dapat bantuan ngga semua warga katanya ada 7 pintu bantuan 1 aja saya ngga dapat mana RT RW nya juga pilih2 yang mau dikasihnya pilih sodarany dulu sama yang akrab disuruh dirumah saja matinya bukan sama penyakit tapi sama kelaparan.warga caringin babakan ciparay

  2. “NGEBUL” ku program bantuan , tungtungna rakyat mah nepi ka wayah kieu ngareluk
    nungguan sabari can pasti kabere , da seg mun lancar keneh usaha mah , moal nepi ngarepkeun hayang dibere !

  3. Program bantuan banyak, dana pemerintah yang keluar banyak. Tapi kontrol terhadap pelaksanaannya sangat minim. Tidak sedikit keluhan dari warga akibat ketidak tepatan penentuan penerima bantuan terus muncul. Memang yg paling tau kondisi masyarakat setempat adalah RT/RW dan Lurah nya. Tapi kalau tidak ada cross chek data dari tingkat atasnya yg turun langsung ke masyarakat mana ada koreksi dari kesalahan2 yang terjadi akibat subjektivitas pengurus setempat.

  4. Ass…. Bapa yg ter hormat….. Bantuan dri pemprov jabar…. Itu buat semua…. Ap… A pilihan z yg d kasih bantuan…. Mhon…. Dklirkn… Jgn smpe ad kcmburuan sosial…. Lbihbagus bpa sendri yg bagiin d tiap kecamatan….. Jgn leawt rt/rw…..bukanyasya g percya…. Itu lbih baik….. Smpe skrg blm ad bantuan….

  5. Jadi ngariwehkeunnya, bantuan digembor2 malah teu merata, ngaricuhkeun masyarakat jadina, ksrunta kapengurusna rt.rw.lurah jadi beban

  6. Seharusnya semuanya juga harus mendapatkan kompensasi Dari pemerintah akibat Dari dampak virus covid 19 ini..soalnya bantuan itu untuk rakyat Indonesia, kalaupun ada segelintir orang yang memanfaatkan situasi ini, saya pikir biarlah yang Maha Kuasa Dan orang2 di sekitar yang menghukumnya, karena hidup itu ada yang benar2 membutuhkan…ada yang cuma butuh…Dan ada pula yang yang kurang butuh…tinggal bagaimana kita bisa menerapkannya, itu juga kalau masih punya rasa MALU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.