Sebarkan Pesan Teror, PNS Diamankan

136
0
EKSPOSE. Kabid Humas Polda Jabar Kombespol Trunoyudo Wisnu Andiko dan Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna menghadirkan AS, pelaku penyebar konten teror saat ekspose di Mapolres Garut Selasa (21/5). Yana Taryana / Rakyat Garut

KARANGPAWITAN – AS (54), seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Garut diringkus Satuan Reserese dan Kriminal (Satreskrim) Polres Garut. Pria yang berdinas di salah satu SMA itu diduga menyebarkan pesan berisi ancaman teror ke beberapa grup WhatsApp.

Ancaman teror yang disebar guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yakni berupa ajakan untuk melakukan pengeboman massal di Jakarta pada 21 sampai 22 Mei. “Pesan itu disebarkan tersangka ke beberapa grup WhatsApp. Seperti grup PAI, media Islam, sedulur Banten, SGT dan Indonesia for Palestin,” ujar Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko didampingi Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna saat ekspose di Mapolres Garut Selasa (21/5).

Trunoyudo menerangkan pelaku ditangkap setelah pesan teror yang disebarkan dilaporkan oleh salah satu anggota grup WA tersebut. Pihaknya langsung menangkap tersangka di rumahnya di Desa Sindangsuka Kecamatan Cibatu Sabtu (18/5).

“Dilaporkannya pada 16 Mei, kemudian diselidiki. Setelah masuk unsur kami amankan di rumahnya. Sekarang kami sudah tetapkan sebagai tersangka,” terangnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, pelaku hanya menyebarkan saja. Sementara konten yang dikirim ke beberapa grup WA didapat dari grup lain. “Setelah pelaku dapat konten itu, langsung disebar ke beberapa grup lain yang ada di WA tersangka ini,” katanya.

Selain menyebar ke grup WA, tersangka juga secara sadar menyebarkan informasi tersebut ke beberapa kontak pribadinya. “Pelaku asal menyebarkan informasi yang diterimanya. Kami masih mendalami darimana pelaku dapat informasi tersebut,” ujarnya.

Trunoyudo menegaskan ancaman teror yang disebar hanya untuk membuat ketakutan masyarakat dan masih dipertanyakan kebenarannya. “Ini hanya informasi hoax saja, supaya masyarakat takut,” katanya.

Dia menambahkan penegakkan hukum yang dilakukannya merupakan tindakan terakhir. Selama ini kepolisian sudah melakukan tindakan preventif untuk mencegah penyebaran hoax.

Atas perbuatannya pelaku dijerat dengan Pasal 7 UU RI No 15 tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme. Selain itu pelaku juga dijerat pasal 45A ayat 2 UU Ri Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Trasaksi Elektronik. “Pelaku ini diancaman dengan hukuman penjara minimal 5 tahun maksimal 20 tahun,” paparnya.

Sementara itu, AS mengklaim aksi penyebaran konten teror dilakukan tidak atas dasar keinginannya, tetapi tersebarnya konten itu karena adanya human error. “Kayaknya hape saya eror, jadi tersebar ke semua grup dan kontak di hape saya,” ujarnya.

Konten yang tersebar, kata dia, didapat dari grup WA. “Saya juga tidak sempat baca konten apa yang disebar itu,” kilahnya saat ditanya wartawan kemarin. AS meminta maaf kepada semua masyarakat yang telah terganggu dengan apa yang disebarkan olehnya di grup WA. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.